Di bawah ada daftar dengan kolom dan profil perusahaan yang subyeknya berkaitan.

Berita Hari Ini GDP

  • In Line with Slowing Economy, Indonesia's Credit Growth Slowed in 2015

    In Line with Slowing Economy, Indonesia's Credit Growth Slowed in 2015

    As expected, credit growth in Indonesia slowed in 2015 amid the nation's overall economic slowdown. Loan growth was particularly affected by weaker demand for property and working capital loans. Indonesia's gross domestic product (GDP) growth in 2015 is estimated to have slowed to 4.7 percent year-on-year (y/y), the country's slowest growth pace since 2009. In its January policy meeting Bank Indonesia decided to cut its key interest rate by 25 basis points to 7.25 percent, a move that should encourage loan growth this year in Southeast Asia's largest economy.

    Lanjut baca ›

  • Moody's Investors Service Keeps Indonesia's Credit Rating at Baa3

    Moody's Investors Service Keeps Indonesia Credit Rating at Baa3

    New York-based Moody's Investors Service kept Indonesia's sovereign credit rating at Baa3 (stable outlook), the lowest level within the investment grade rating. Although the rating agency is positive about the strong nature of Indonesia's economy and the prudent fiscal policy that is safeguarded by the Indonesian government and central bank, it sees few room for an upgrade soon (to Baa2) as government revenue is not expected to rise significantly in the period ahead. Moody's released this statement on Thursday (28/01).

    Lanjut baca ›

  • Rendahnya Harga Minyak Dapat Mengganggu Produksi Minyak di Indonesia

    Rendahnya Harga Minyak Dapat Mengganggu Produksi Minyak di Indonesia

    Meskipun harga minyak agak membaik dari posisi terendah dalam 12 tahun terakhir pada hari Jumat (08/01) karena rebound pasar saham Republik Rakyat Tiongkok (RRT), ada kekuatiran bahwa Indonesia tidak akan mencapai target lifting minyak 2016 karena produsen minyak di negara ini menjadi kurang bersemangat untuk meningkatkan produksi saat harga minyak lemah. Kemarin, minyak Brent turun ke 32,16 dollar Amerika Serikat (AS) per barel - tingkat terendah sejak 2004 - setelah RRT mendevaluasi yuan dan saham RRT anjlok lebih dari 7% yang menyebabkan terjadinya mekanisme circuit-breaking, bahkan menyebabkan penjualan saham global secara besar-besaran.

    Lanjut baca ›

  • Apa Dampak Perlambatan Ekonomi Cina pada Indonesia?

    Apa Dampak Perlambatan Ekonomi Cina pada Indonesia?

    Gejolak ekonomi yang telah mendorong pertumbuhan Republik Rakyat Tiongkok (RRT) ke level terendah dalam 25 tahun terakhir telah berdampak langsung pada Indonesia karena RRT adalah mitra dagang utama Indonesia. Kekuatiran akan perlambatan ekonomi RRT (dan dampak perlambatan ini pada ekonomi dunia) bertahan pada tahun 2016 karena Caixin/Markit Purchasing Managers’ Index (PMI) menurun selama 10 bulan berturut-turut di Desember 2015 (di 48,2), sedangkan pembacaan jasa layanan untuk bulan Desember turun ke level terendah dalam 17 bulan terakhir (50,2).

    Lanjut baca ›

  • Pasar Saham Indonesia: Prognosis Indeks Harga Saham Gabungan Bulan Januari

    Pasar Saham Indonesia: Prognosis Indeks Harga Saham Gabungan Bulan Januari

    Tahun lalu Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun 12,13% sehingga berakhir pada 4,593.01 poin pada 30 Desember 2015 di tengah ketidakpastian global yang parah akibat ancaman pengetatan kebijakan moneter di Amerika Serikat (AS) dan perlambatan ekonomi yang besar dari Republik Rakyat Tiongkok (RRT). Hari ini, Bursa Efek Indonesia (BEI) akan memasuki hari perdagangan pertamanya di tahun baru. Apa yang kita harapkan dari kinerja saham Indonesia di Januari 2016?

    Lanjut baca ›

  • Ekonomi Indonesia Tahun 2015: Kegagalan Mencapai Kebanyakan Target

    Ekonomi Indonesia Tahun 2015: Kegagalan Mencapai Kebanyakan Target

    Kementerian Keuangan Indonesia mengeluarkan pernyataan pada hari Minggu (3/1) yang menyatakan bahwa Indonesia gagal memenuhi sebagian besar target ekonomi yang ditetapkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBN-P) 2015. Alasan utama dari lemahnya kinerja adalah harga komoditi yang rendah, pertumbuhan ekonomi global yang lesu, perlambatan ekonomi Republik Rakyat Tiongkok (RRT), dan arus keluar modal yang dipicu oleh pengetatan kebijakan moneter Federal Reserve Amerika Serikat (AS). Hanya realisasi inflasi dan hasil treasury yield yang sejalan dengan target pemerintah.

    Lanjut baca ›

  • Tantangan bagi Perekonomian Indonesia Tetap Berlanjut di 2016

    Tantangan bagi Perekonomian Indonesia Tetap Berlanjut di 2016

    Dengan akan berakhirnya tahun 2015, maka ada baiknya kita melihat tantangan yang dihadapi Indonesia tahun ini dan apakah tantangan ini akan tetap ada di tahun 2016. Singkatnya, kami percaya bahwa tantangan eksternal yang ada saat ini akan bertahan di tahun yang baru. Pertumbuhan ekonomi negara ini diproyeksikan melaju menjadi 5,3% pada basis year-on year (y/y) pada tahun 2016 dari perkiraan 4,7% (y/y) pada tahun 2015 (tahun kelima berturut-turut perlambatan pertumbuhan produk domestik bruto), tetapi pertumbuhan ini terutama disebabkan oleh peningkatan pengeluaran pemerintah.

    Lanjut baca ›

  • Consumer Price Index Indonesia: Inflation in 2015 Expected Below 3%

    Consumer Price Index Indonesia: Inflation in 2015 Expected Below 3%

    Indonesian inflation may reach 2.9 percent year-on-year (y/y) only in full-year 2015, the lowest level since 2009 when inflation in Southeast Asia's largest economy was recorded at 2.78 percent (y/y). In recent years Indonesia's inflation has been volatile with peaks correlating with administered price adjustments (primarily fuel and electricity price hikes as the government is keen on limiting spending on subsidies). Another characteristic of Indonesia is that inflation is generally high (compared to advanced economies), which is in line with the higher economic growth pace (than that of advanced economies).

    Lanjut baca ›

  • Pertumbuhan Kredit di Indonesia Tidak Akan Mencapai Target Bank Indonesia

    Pertumbuhan Kredit di Indonesia Tidak Akan Mencapai Target Bank Indonesia

    Bank Indonesia memprediksi bahwa realisasi pertumbuhan kredit akan mencapai 9-10% pada basis year-on-year (y/y) di 2015, di bawah targetnya pada 11%-13% (y/y). Sampai dengan Oktober 2015 pertumbuhan kredit bank-bank di Indonesia mencapai 10,4%, melambat dari 11,1% di bulan sebelumnya. Juda Agung, Direktur Eksekutif Kebijakan Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia (BI), mengatakan pertumbuhan kredit yang melambat sejalan dengan perlambatan ekonomi.

    Lanjut baca ›

  • Penjualan Mobil di Indonesia Tetap Lambat di Akhir Tahun

    Penjualan Mobil di Indonesia Tetap Lambat di Akhir Tahun

    Sesuai dengan prediksi dan kecenderungan umum sepanjang tahun ini, penjualan mobil Indonesia turun 4,4% menjadi 87.311 unit pada bulan November 2015. Pada periode Januari-November 2015, total penjualan mobil di negara itu mencapai 940.317 unit, turun 16,7% dari penjualan mobil di periode yang sama tahun lalu. Penyebab utama dari performa yang lemah ini adalah melemahnya daya beli masyarakat Indonesia akibat perlambatan ekonomi negara ini, inflasi yang tinggi (dalam tiga kuartal pertama tahun ini), dan harga komoditi yang rendah.

    Lanjut baca ›

Artikel Terbaru GDP

  • Fitch Ratings Affirms Indonesia's BBB- Investment Grade Credit Rating

    Fitch Ratings Affirms Indonesia's BBB- Investment Grade Credit Rating

    Global credit rating agency Fitch Ratings affirmed Indonesia's sovereign credit rating at BBB- (investment grade) with a stable outlook. The country's long-term foreign and local currency issuer default rating, the senior unsecured foreign and local currency bonds, and Islamic certificates (sukuk) were all affirmed at BBB-. Meanwhile, the short-term foreign currency IDR was affirmed at 'F3', the country ceiling at BBB, and the outlook on the long-term IDRs are stable. Through the affirmation Fitch acknowledges Indonesia's ongoing commitment to structural reforms amid recent economic woes.

    Lanjut baca ›

  • Indonesia Stock Market & Rupiah Update: US Payrolls & Rate Hike Expectations Surge

    Indonesia Stock Market & Rupiah Update: US Payrolls & Rate Hike Expectations Surge

    Indonesian assets weakened on Friday (06/11) on expectation that US non-farm payrolls and US employment data would improve, suggesting that a Fed Fund Rate hike may occur in December 2015. Such expectations were correct. After Indonesian and other Asian markets had closed on Friday, the US Labor Department announced that October payrolls rose 271,000 (the largest increase this year), while the US unemployment rate touched a seven-year low at 5 percent. Furthermore, the average hourly earnings over the past 12 months climbed by the most since 2009.

    Lanjut baca ›

  • Ekonomi Indonesia: Pertumbuhan PDB pada 4,73% di Kuartal 3 Tahun 2015 - Analisis

    Ekonomi Indonesia: Pertumbuhan PDB pada 4,73% di Kuartal 3 Tahun 2015 - Analisis

    Performa perekonomian Indonesia di kuartal 3 tahun 2015 agak mengecewakan pada 4,73% pada basis year-on-year (y/y) yang sedikit di bawah perkiraan pasar pada 4,8% (y/y). Kendati begitu, sebagai catatan positif, pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) Indonesia berakselerasi dari level terendah selama 6 tahun terakhir pada 4,67% (y/y) di kuartal sebelumnya. Tabel di bawah menunjukkan bahwa pertumbuhan kuartal 3 PDB Indonesia jarang melebihi pertumbuhan kuartal 2. Ini jelas merupakan pertanda yang memberikan harapan.

    Lanjut baca ›

  • World Bank Releases October 2015 Indonesia Economic Quarterly

    World Bank Releases October 2015 Indonesia Economic Quarterly

    Today (22/10), the World Bank released the October 2015 edition of its flagship Indonesia Economic Quarterly, titled "In Times of Global Volatility". In the report the World Bank states that despite current ongoing global uncertainties (caused by looming monetary tightening in the USA and China's economic slowdown), which make macroeconomic management difficult in the year ahead, pro-active government action could offset the negative impact and may help to boost growth.

    Lanjut baca ›

  • Debt Restructuring Trikomsel Oke, S&P Warns of Indonesian Defaults

    Debt Restructuring Trikomsel Oke, S&P Warns of Indonesian Defaults

    American financial services company Standard & Poor's warns that defaults by Indonesian companies are a serious threat over the next 18 months given their eroded balance sheets amid the country's current economic slowdown. The warning came after Indonesian mobile phone retailer Trikomsel Oke announced plans to restructure about USD $155 million worth of debt as it may not be capable to meet obligations indefinitely.

    Lanjut baca ›

  • What are the Stimulus Measures in Indonesia's Third Economic Policy Package?

    What are the Stimulus Measures in Indonesia's Third Economic Policy Package?

    The government of Indonesia unveiled the last installment of a series of three stimulus packages on Wednesday (07/10). The first two installments had been unveiled last month. In general, these stimulus packages aim to boost economic growth of Indonesia (which has slowed to a six-year low) and restore investors' confidence in the Indonesian rupiah and stocks. When markets believed that the Federal Reserve would soon raise its key interest rate, Indonesia was plagued by severe capital outflows pushing the rupiah to a 17-year low.

    Lanjut baca ›

  • International Monetary Fund Cuts Global Growth on Slowing Emerging Markets

    International Monetary Fund Cuts Global Growth on Slowing Emerging Markets

    In the latest edition of its flagship publication, the World Economic Outlook (WEO), the International Monetary Fund (IMF) says it is concerned that sluggish global economic growth will persist in the foreseeable future particularly on the back of slowing growth in emerging markets (which account for the lion's share of global growth). The IMF's forecast for global growth in 2015 and 2016 was both cut by 0.2 percentage point to 3.1 percent (y/y) and 3.6 percent (y/y), respectively, from the July WEO Update. In 2014, the world economy grew 3.4 percent (y/y).

    Lanjut baca ›

  • Paket Kebijakan Ekonomi Kedua Indonesia

    Paket Kebijakan Ekonomi Kedua Indonesia

    Pemerintah Indonesia mengumumkan paket kebijakan ekonomi September yang kedua pada hari Selasa (29/09). Paket ini diperkenalkan dalam rangka mendongkrak pertumbuhan ekonomi Indonesia dan mendukung rupiah yang lemah. Pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia telah melambat menjadi level terendah dalam enam tahun terakhir pada 4,67% pada basis year-on-year (y/y) di kuartal 2 tahun 2015, sementara rupiah telah melemah ke level terendah dalam 17 tahun terakhir terhadap dollar Amerika Serikat (AS). Capital outflows dari Indonesia adalah akibat dari pengetatan moneter di Amerika Serikat (AS), rendahnya harga-harga komoditi dan lambatnya pertumbuhan ekonomi global (terutama karena penurunan pertumbuhan ekonomi Republik Rakyat Tiongkok).

    Lanjut baca ›

  • Asian Development Bank Cuts Economic Growth Outlook 2015 & 2016

    Asian Development Bank Cuts Economic Growth Outlook 2015 & 2016

    In the latest update of its flagship publication Asian Development Outlook 2015, the Asian Development Bank (ADB) said softer economic growth prospects of China and India in combination with slow recovery in the major industrial markets were reason why the ADB has cut its economic growth forecast for developing Asia in 2015 and 2016. The ADB now estimates GDP growth in developing Asia at 5.8 percent (y/y) in 2015 and 6.0 percent (y/y) in 2016, down from previous GDP growth forecasts of 6.3 percent (y/y) for both years.

    Lanjut baca ›

  • Bank Indonesia Press Release: BI Rate Held at 7.50% in September

    Bank Indonesia Press Release: BI Rate Held at 7.50% in September

    The central bank of Indonesia announced on Thursday (17/09) that it the country’s key interest rate (BI rate) at 7.50 percent, while maintaining the deposit facility rate at 5.50 percent and the lending facility rate at 8.00 percent. According to Bank Indonesia (BI) this decision is consistent with its efforts to push inflation towards the target corridor of 4±1 percent in both 2015 and 2016. In addition, the decision is also part of Bank Indonesia’s measures to anticipate possibilities of a Fed Fund Rate (FFR) hike.

    Lanjut baca ›

No business profiles with this tag