Apalagi, musim hujan atau kemarau yang ekstrim (fenomena El Nino dan La Nina) bisa menghancurkan panen bahan makanan, memicu terjadinya inflasi dan menyebabkan tekanan finansial yang berat bagi kalangan kurang mampu di masyarakat Indonesia. Terakhir, bencana-bencana alam akibat ulah manusia (seperti kebakaran hutan yang disebabkan karena kebudayaan pembakaran ladang, biasanya di pulau Sumatra dan Kalimantan) bisa menyebabkan dampak-dampak yang sangat besar bagi lingkungan hidup.

Salah satu catatan penting adalah kenyataan bahwa infrastruktur Indonesia yang terkenal lemah - akibat manajemen yang salah, kurangnya keahlian dan korupsi - memperparah dampak-dampak buruk yang terjadi setelah bencana alam. Sementara itu di wilayah perkotaan, terutama di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Medan dan Yogyakarta, ada kepadatan penduduk yang sangat tinggi. Maka karena kurangnya kualitas dan padatnya penduduk di daerah perkotaan sebuah bencana alam bisa menewaskan lebih banyak korban dari yang seharusnya terjadi.

Letusan Gunung Berapi di Indonesia

Indonesia adalah negara yang memiliki paling banyak gunung berapi aktif di seluruh dunia. Lempeng Eurasia, Lempeng Pasifik beserta Lempeng Indo-Australia adalah tiga lempeng tektonik aktif yang menyebabkan terjadinya zona-zona tumbukan yang kemudian membentuk gunung-gunung berapi ini. Indonesia diperkirakan memiliki 129 gunung berapi, semuanya diawasi dengan hati-hati oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi. Hal ini dilakukan karena sejumlah gunung berapi di Indonesia terus menunjukkan aktivitas.

Setidaknya ada satu letusan gunung berapi yang signifikan di Indonesia setiap tahun. Namun, biasanya hal ini tidak menyebabkan kerusakan yang besar bagi lingkungan atau menewaskan korban jiwa karena gunung-gunung berapi yang paling aktif terletaknya biasanya di tempat-tempat terpencil.

Beberapa peristiwa letusan gunung berapi yang berdampak berat dalam sejarah Indonesia disebutkan di tabel di bawah. Daftar ini hanya mencakup letusan yang berskala besar dan menewaskan paling sedikit 29 orang.

Gunung Api Lokasi Tanggal Letusan Korban Jiwa
Merapi Jawa Tengah 03 November 2010         138
Kelut Jawa Timur 10 Februari 1990          35
Galunggung Jawa Barat 05 April 1982          68
Merapi Jawa Tengah 06 Oktober 1972          29
Kelut Jawa Timur 26 April 1966         212
Agung Bali 17 Maret 1963       1,148
Merapi Jawa Tengah 25 November 1930       1,369
Kelut Jawa Timur 19 Mei 1919       5,110
Awu Sulawesi Utara 07 Juni 1892       1,532
Krakatau Selat Sunda 26 Augustus 1883      36,600
Galunggung Jawa Barat 08 Oktober 1822       4,011
Tambora Sumbawa 10 April 1815      71,000+


Selain mengakibatkan korban jiwa, letusan gunung berapi bisa menyebabkan kerusakan yang berarti bagi ekonomi lokal dengan merugikan perusahaan-perusahaan kecil dan menengah yang terlibat di industri pariwisata, kuliner, akomodasi komersil, pertanian, perkebunan, dan peternakan.

Terjadi perkembangan yang positif saat ini, letusan gunung berapi memakan lebih sedikit korban jiwa karena metode pengawasan gunung berapi yang lebih baik dikombinasi dengan evakuasi darurat yang lebih terorganisir.

Gempa Bumi di Indonesia

Gempa bumi mungkin adalah ancaman bencana alam terbesar di Indonesia karena terjadi tiba-tiba dan bisa menyerang wilayah padat penduduk, seperti kota-kota besar. Gempa bumi dengan kekuatan sekitar 5 atau 6 skala Richter terjadi hampir setiap hari di Indonesia namun biasanya tidak menyebabkan atau hanya sedikit menyebabkan kerugian. Kalau kekuatan gempa melewati 7 skala Richter, sebuah gempa bisa menyebabkan banyak kerusakan. Setiap tahunnya, dua atau tiga gempa bumi dengan 7 skala Richter (atau lebih) terjadi di Indonesia dan menyebabkan jatuhnya korban jiwa dan kerusakan infrastruktur maupun lingkungan hidup. Di bawah ini terdapat daftar gempa bumi-gempa bumi yang baru terjadi dan menyebabkan kerusakan parah beserta korban jiwa paling tidak 20 orang:

Pulau Tanggal Kekuatan Korban Jiwa
Sumatra 02 Juli 2013      6.1          42
Sumatra 25 Oktober 2010      7.7         435
Sumatra 30 September 2009      7.6       1,117
Jawa 02 September 2009      7.0          81
Sumatra 12 September 2007      8.5          23
Sumatra 06 Maret 2007      6.4          68
Jawa 17 Juli 2006      7.7         668
Jawa 26 Mei 2006      6.4       5,780
Sumatra 28 Maret 2005      8.6       1,346
Sumatra 26 Desember 2004      9.2      283,106


Sebagian sebab dari banyaknya jumlah korban jiwa maupun luka-luka di Indonesia adalah karena konstruksi yang buruk dari rumah-rumah dan infrastruktur yang ada. Itu sebabnya mengapa gempa yang sedang bisa saja menyebabkan jatuhnya banyak korban, runtuhnya gedung-gedung, dan hilangnya tempat tinggal bagi banyak orang. Sebuah publikasi dari Bank Dunia (dirilis pada Oktober 2010) mengekspresikan kekuatiran akan kemungkinan terjadinya dampak yang mengerikan apabila sebuah gempa dengan kekuatan 8,5 skala Richter terjadi di sebuah megapolitan seperti Jakarta.

Tsunami di Indonesia

Sebuah gempa bumi atau letusan gunung berapi dalam laut bisa menyebabkan gelombang tsunami yang memiliki dampak mengerikan bagi manusia dan semua objek di dekat laut. Pada tahun 2004, sejumlah negara di dunia diguncang oleh gempa bumi di Samudera Hindia dan tsunami yang menyusul kemudian, menewaskan 167.000 orang di Indonesia (terutama Aceh). Meskipun sebuah tsunami yang sangat besar seperti yang terjadi pada akhir tahun 2004 sangat jarang, wilayah Sumatra sering dikejutkan dengan gempa bumi di bawah laut yang berpotensi menyebabkan tsunami.

Dengan peristiwa tsunami 2004 masih segar di dalam ingatan, tingkat kekuatiran masyarakat sangat tinggi. Masyarakat Indonesia yang bertempat tinggal di desa-desa atau kota-kota dekat pantai sering melarikan diri ke wilayah perbukitan (yang terletak lebih ke tengah daratan) setelah sebuah gempa bumi terjadi. Rata-rata, setiap lima tahun sekali sebuah tsunami besar terjadi di Indonesia, biasanya di pulau Sumatra dan pulau Jawa. Pada umumnya, kerusakan pada infrastruktur melebihi jumlah korban jiwa. Ada alat-alat sistem peringatan yang dipasang di banyak area pantai namun ada laporan-laporan bahwa tidak semua peralatan itu berfungsi dengan baik.

Banjir di Indonesia

Musim hujan di Indonesia (yang terjadi dari Desember sampai Maret) biasanya menyebabkan curah hujan yang tinggi. Dikombinasikan dengan pengundulan hutan dan saluran-saluran air yang tersumbat oleh sampah, ini bisa menyebabkan sungai-sungai meluap dan terjadi banjir. Banjir dan tanah longsor terjadi di banyak wilayah di Indonesia dan bisa menyebabkan jatuhnya ratusan korban, hancurnya rumah-rumah dan infrastruktur lain, dan kerugian bagi bisnis-bisnis lokal. Bahkan di megapolitan seperti Jakarta, banjir terjadi secara reguler karena lemahnya manajemen air dikombinasikan dengan curah hujan yang tinggi. Misalnya pada Januari 2013, sebuah wilayah yang sangat luas dari Jakarta terkena banjir. Hal ini membawa dampak pada lebih dari 100.000 rumah dan menyebabkan hilangnya nyawa lebih dari 20 orang.

Pada musim hujan banjir biasanya mengganggu saluran distribusi dan karena itu Indonesia cenderung mengalami tekanan inflasi selama bulan Januari dan Februari ketika musim hujan cenderung memuncak. Kondisi basah dapat diperburuk oleh fenomena cuaca La Nina. La Nina (pada dasarnya lawannya El Nino), adalah fenomena yang rata-rata terjadi sekali setiap lima tahun, membawa suhu laut lebih dingin dari rata-rata di daerah tropis Samudera Pasifik tengah dan timur. Oleh karena itu menyebabkan cuaca yang lebih basah dari biasanya di Asia Tenggara, biasanya dari bulan November sampai Februari.

Man-Made Forest Fires in Indonesia

Generally Indonesians have a low awareness of environmental sustainable practices. This is reflected by farmers' and companies' use of slash-and-burn practices (a strategy to clear land for plantations, usually for the expansion of crude palm oil or pulp and paper plantations), primarily on the islands of Sumatra and Kalimantan. The slash-and-burn strategy is the cheapest option. Although this practice is actually not allowed by Indonesian law, weak law enforcement and corruption make it possible. However, the practice entails serious and far-reaching risks.

For example, forest fires in the months June-October 2015 ran out of hand completely. Based on a World Bank report - released in December 2015 - some 100,000 man-made forest fires destroyed about 2.6 million hectares of land between June and October 2015 and caused toxic haze to spread to other parts of Southeast Asia, giving rise to diplomatic tensions. This disaster is estimated to have cost Indonesia IDR 221 trillion (approx. USD $16 billion or 1.9 percent of the country's gross domestic product) and it released some 11.3 million tons of carbon each day (a figure that exceeds the 8.9 million tons of daily carbon emissions in the European Union), thus being one of the worst ever natural disasters in human history.

The forest fires in 2015 ran out of hand partly because of unusual dry weather. The El Nino weather phenomenon, the strongest one since 1997, brought severe dry weather to Southeast Asia and therefore firefighters could not count on support from rain. El Nino, which occurs once every five years on average, causes climatic changes across the Pacific Ocean leading to droughts in Southeast Asia and therefore also has a major impact on harvests of agricultural commodities.