12 June 2026 (closed)
Jakarta Composite Index (6,007.66) +121.62 +2.07%
Bank Indonesia Naikkan Suku Bunga Secara Tak Terduga demi Sokong Rupiah
Melihat kondisi rupiah yang rapuh, Bank Indonesia tidak ingin menunggu pertemuan kebijakan moneter bulanan yang dijadwalkan pada 17-18 Juni 2026. Sebaliknya, bank sentral Indonesia tersebut menaikkan suku bunga acuannya (BI Rate) sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5.50 persen pada hari Selasa, 9 Juni 2026.
Langkah ini diambil kurang dari tiga minggu setelah Bank Indonesia sudah menaikkan BI Rate sebesar 50 bps pada pertengahan Mei 2026. BI merasa perlu bertindak cepat karena nilai tukar rupiah menunjukkan kinerja yang lebih lemah dari yang diproyeksikan oleh Bank Indonesia. Sementara itu, bank sentral ini juga menaikkan suku bunga deposit facility dan suku bunga lending facility masing-masing sebesar 25 bps, menjadi 4.50 persen dan 6.25 persen.
Bank Indonesia menegaskan dalam sebuah pernyataan bahwa kenaikan suku bunga ini merupakan langkah lanjutan untuk memperkuat nilai tukar rupiah di tengah dampak meningkatnya gejolak global yang dipicu oleh perang di Timur Tengah. Langkah ini juga menjadi upaya preventif (pre-emptive) untuk menjaga inflasi tetap berada dalam koridor sasaran pemerintah sebesar 1.5 - 3.5 persen secara tahunan (year-on-year) pada tahun 2026 dan 2027. Selain itu, kenaikan suku bunga ini juga bertujuan untuk meningkatkan imbal hasil (yield) demi menarik kembali aliran modal masuk investasi portofolio asing ke Indonesia. Salah satu faktor yang menekan rupiah saat ini adalah adanya aliran modal keluar dari investasi portofolio asing dari Indonesia.
Suku Bunga Acuan Bank Indonesia (BI Rate):

Sama seperti kenaikan suku bunga pada pertemuan kebijakan moneter Mei 2026, langkah ini memfasilitasi penguatan rupiah secara instan pada hari pengumuman. Pada hari Selasa (9 Juni 2026), rupiah menguat sekitar 0.70 persen terhadap dolar AS. Namun, di seluruh pasar Asia, hari itu merupakan momen masuknya aliran modal secara besar-besaran yang tentunya turut berkontribusi terhadap penguatan rupiah. Pasar Asia didukung oleh meredanya ketegangan di Timur Tengah yang menyebabkan penurunan harga minyak mentah global. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bahkan melonjak hingga 7.57 persen, yang dilaporkan sebagai kenaikan satu hari tertajam di era pasca-Suharto.
Bahas
Silakan login atau berlangganan untuk mengomentari kolom ini