18 June 2026 (closed)
Jakarta Composite Index (6,172.34) -48.40 -0.78%
Melawan Arus: Danantara Tepis Aliran Modal Keluar dengan Permintaan Obligasi Perdana $4.6M
Beberapa orang mungkin mengatakan bahwa kita hidup di masa di mana logika pasar sulit untuk dianalisis. Sentimen ini kembali muncul setelah adanya pengumuman bahwa sovereign wealth fund Indonesia, Danantara, berhasil menarik puncak permintaan sekitar USD $4.6 miliar untuk penjualan obligasi perdana dalam denominasi dolar AS. Nilainya mencapai lebih dari tiga kali lipat dari total ukuran penerbitan.
Mengapa hal ini mengejutkan? Pasalnya, kita telah melihat arus modal keluar (capital outflows) secara besar-besaran dari obligasi dan saham Indonesia dalam beberapa bulan terakhir di tengah ketidakpastian global yang parah (terutama terkait dengan situasi yang bergejolak di Timur Tengah) yang memberikan tekanan signifikan terhadap rupiah. Selain itu, muncul spekulasi bahwa Federal Reserve AS mungkin perlu menaikkan suku bunga acuannya untuk memerangi inflasi.
Sementara itu, terdapat kekhawatiran atas kebijakan (fiskal) kabinet Presiden Prabowo Subianto. Hal ini mencakup Danantara (dan unit-unit di bawahnya) karena terlalu banyak uang dan kekuasaan politik yang terkonsentrasi di dalam wadah (vehicle) yang relatif baru ini tanpa adanya sistem pengawasan (checks and balances) yang substantif.
Oleh karena itu, bagi sebuah lembaga tanpa rekam jejak (track record) yang mapan, berhasil menarik permintaan sekitar USD $4.6 miliar dari komunitas investor global adalah pencapaian yang luar biasa. Tentu saja, ini adalah investasi yang relatif aman karena didukung oleh pemerintah Indonesia. Danantara awalnya hanya berniat menggalang dana sebesar USD $1.0 miliar ($500 juta per serapan/tranche). Namun, karena buku pemesanan (orderbook) yang begitu padat, mereka sengaja meningkatkan ukuran kesepakatan menjadi USD $1.5 miliar. Ini menunjukkan manajemen modal yang aktif.
Danantara menjual USD $750 juta dalam bentuk obligasi lima tahun, serta USD $750 juta dalam bentuk obligasi 10 tahun, dengan kupon imbal hasil (yield) masing-masing sebesar 5.35 persen dan 5.95 persen. Keuntungan besar dari adanya permintaan yang kuat ini adalah Danantara berhasil memangkas imbal hasil akhir sebesar 35 basis poin (0.35 persen), yang akan menghemat jutaan dolar dalam pembayaran bunga tahunan mereka.
Ikhtisar Penjualan Obligasi Dolar AS Danantara:
| Lima Tahun | Sepuluh Tahun | |
| Yield | 5.35% | 5.95% |
| Regional Allocation | Amerika Serikat (38%) Eropa, Timur Tengah & Afrika (41%) Asia (21%) |
Amerika Serikat (52%) Eropa, Timur Tengah & Afrika (31%) Asia (17%) |
| Tipe Investor | Asset/Fund Managers (82%) Insurance/Pension Funds (10%) Banks (7%) Private Banks/Others (1%) |
Asset/Fund Managers (72%) Insurance/Pension Funds (25%) Banks (2%) Private Banks/Others (1%) |
| Nilai Obligasi Dijual | USD $750 juta | USD $750 juta |
Sumber: Danantara
Keberhasilan penjualan obligasi Danantara bisa jadi merupakan alasan mengapa kita melihat kembalinya selera risiko (risk appetite) di pasar Indonesia pada hari Jumat (12 Juni 2026). Pada akhir hari perdagangan di Indonesia, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melonjak 2.07 persen hingga ditutup tepat di atas ambang batas 6.000 poin, sementara rupiah menguat 0.61 persen menjadi Rp 17,865 per dolar AS.
Sementara itu, bank sentral Indonesia (Bank Indonesia), yang secara tak terduga menaikkan suku bunga acuannya sebesar 25 bps menjadi 5.50 persen pada hari Selasa (9 Juni 2026) demi membela rupiah yang rapuh, menyatakan bahwa investor asing telah merespons positif kenaikan suku bunga tersebut karena memperkuat permintaan asing untuk Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
Bahas
Silakan login atau berlangganan untuk mengomentari kolom ini