Di bawah ada daftar dengan kolom dan profil perusahaan yang subyeknya berkaitan.

Berita Hari Ini China

  • Berlawanan dengan Tren Asia, Saham Indonesia & Rupiah Rebound

    Meskipun kebanyakan pasar saham di Asia masih di wilayah merah, melanjutkan penurunan pada hari Senin, saham Indonesia dan rupiah berhasil melambung pada Selasa (5/1). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) naik 0,70% menjadi 4.557,82 poin. Sementara itu, rupiah Indonesia naik 0,37% menjadi Rp 13.892 per dollar Amerika Serikat (Bloomberg Dollar Index). Apa yang terjadi pada perdagangan hari ini dan mengapa ada perbedaan antara aset Indonesia dan tren Asian secara umum?

    Lanjut baca ›

  • Pertambangan Batubara Indonesia: Fokus pada Pasar Selain Cina

    Pertambangan Batubara Indonesia: Fokus pada Pasar Selain Cina

    Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Indonesia mengharapkan pengiriman batubara ke India meningkat pada tahun 2016, sementara ekspor batubara ke Republik Rakyat Tiongkok (RRT) diperkirakan akan menurun lebih lanjut karena ekonomi terbesar kedua di dunia ini sedang mengalami perlambatan (dan RRT membatasi impor batubara dengan tingkat kalori yang lebih rendah). Adhi Wibowo, Direktur Batu Bara Kementerian ESDM, mengatakan - berlawanan dengan RRT - permintaan batubara dari India tidak turun. Selain itu, India sangat tergantung pada Indonesia untuk batubara termal.

    Lanjut baca ›

  • Mengapa Saham dan Rupiah Indonesia Melemah Hari Ini?

    Mengapa Saham dan Rupiah Indonesia Melemah Hari Ini?

    Berlawan dengan harapan, saham Indonesia dan rupiah memiliki awal yang lemah di tahun yang baru. Pada hari Senin (4/1) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun 1,46% menjadi 4.525,92 poin, sementara rupiah terdepresiasi 0,82% menjadi Rp 13.943 per dollar Amerika Serikat (Bloomberg Dollar Index). Kinerja saham Indonesia ini sejalan dengan kinerja saham di seluruh dunia. Perdagangan saham Republik Rakyat Tiongkok (RRT) bahkan dihentikan dua kali karena indeksnya merosot. Apa yang terjadi hari ini?

    Lanjut baca ›

  • Pasar Saham Indonesia: Prognosis Indeks Harga Saham Gabungan Bulan Januari

    Pasar Saham Indonesia: Prognosis Indeks Harga Saham Gabungan Bulan Januari

    Tahun lalu Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun 12,13% sehingga berakhir pada 4,593.01 poin pada 30 Desember 2015 di tengah ketidakpastian global yang parah akibat ancaman pengetatan kebijakan moneter di Amerika Serikat (AS) dan perlambatan ekonomi yang besar dari Republik Rakyat Tiongkok (RRT). Hari ini, Bursa Efek Indonesia (BEI) akan memasuki hari perdagangan pertamanya di tahun baru. Apa yang kita harapkan dari kinerja saham Indonesia di Januari 2016?

    Lanjut baca ›

  • Pasar Saham Indonesia: Apa Saham Unggulan pada tahun 2016?

    Pasar Saham Indonesia: Apa Saham Unggulan pada tahun 2016?

    Meskipun tantangan tetap ada, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan naik pada tahun 2016, melebihi level 5.000 poin. Tahun lalu IHSG turun 12,13% menjadi ditutup pada 4.593,01 poin. Khususnya untuk sektor infrastruktur, perbankan, konsumsi, semen, properti dan konstruksi di Indonesia diprediksi akan memiliki kinerja yang baik tahun ini karena percepatan pertumbuhan ekonomi domestik yang didukung oleh pengeluaran pemerintah dan paket stimulus ekonomi baru-baru ini.

    Lanjut baca ›

  • Pasar Saham Indonesia: Kinerja IHSG pada Tahun 2015

    Pasar Saham Indonesia: Kinerja IHSG pada Tahun 2015

    Hari perdagangan terakhir tahun 2015 di Bursa Efek Indonesia (BEI) telah berlalu dan sekarang saatnya untuk melihat kembali kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan rupiah selama tahun 2015. Tahun 2015 merupakan tahun yang hektik, ditandai dengan volatilitas tinggi karena ketidakpastian tentang waktu kenaikan tingkat suku bunga AS (yang akhirnya diputuskan oleh Federal Reserve pada bulan Desember 2015) dan perlambatan ekonomi Republik Rakyat Tiongkok (RRT).

    Lanjut baca ›

  • Update Mata Uang: Mengapa Rupiah Indonesia Mengalami Kenaikan?

    Update Mata Uang: Mengapa Rupiah Indonesia Mengalami Kenaikan?

    Rupiah Indonesia meneruskan penguatan yang luar biasa pada hari Selasa (22/12). Mata uang ini naik 0,98% menjadi Rp 13.672 per dollar Amerika Serikat (AS) pada pukul 11:10 Waktu Indonesia Barat (Bloomberg Dollar Index). Rupiah telah pulih dari level rendahnya pada Rp 14.123 per dollar AS pada hari Senin 14 Desember menjadi Rp 13.672 per dollar AS, naik 3,2% dalam waktu sekitar satu minggu. Ada beberapa hal yang menjelaskan kinerja yang luar biasa ini.

    Lanjut baca ›

  • Rupiah Indonesia Menguat Tajam Kendati Proyeksi Pesimis

    Rupiah Indonesia Menguat Tajam Kendati Proyeksi Pesimis

    Rupiah Indonesia menguat secara signifikan terhadap dollar Amerika Serikat (AS) pada hari Senin (21/12) kendati ada prediksi bahwa rupiah akan menjadi mata uang dengan performa terburuk di Asia pada tahun 2016 akibat capital outflows (karena suku bunga AS direncanakan akan semakin dinaikkan pada tahun 2016), cadangan devisa Indonesia yang menurun, dan harga-harga komoditi yang terus-menerus rendah. Berdasarkan pada Bloomberg Dollar Index, rupiah telah menguat 1,13% menjadi Rp 13.760 per dollar AS pada pukul 14:20 Waktu Indonesia Barat (WIB) pada hari Senin (21/12).

    Lanjut baca ›

  • Indeks Harga Saham Gabungan Jatuh, Rupiah Menguat

    Indonesia's Jakarta Composite Index Plunges, Rupiah Strengthens

    Indeks-indeks saham di Asia Tenggara jatuh pada hari Jumat (18/12), dipimpin oleh indeks-indeks acuan di Thailand dan Indonesia. Pasar-pasar Asia ini mengikuti koreksi global yang terjadi setelah investor mempertimbangkan dampak yang mungkin terjadi dari kenaikan suku bunga Federal Reserve. Saham-saham di Amerika Serikat (AS) dan Eropa turun pada hari Kamis dan hari Jumat, sementara harga minyak dan komoditi-komoditi lainnya terus menurun. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Indonesia turun 1,92 persen menjadi 4,468.65 poin.

    Lanjut baca ›

  • Saham & Rupiah Indonesia: Aliran Modal Keluar Setelah Reli Kelegaan Pasar

    Saham & Rupiah Indonesia: Aliran Modal Keluar Setelah Reli Kelegaan Pasar

    Setelah reli kuat pada hari Kamis (merespon positif terhadap pengumuman Federal Reserve untuk menaikkan Fed Fund Rate), aset-aset Indonesia melemah pada hari Jumat (18/12) sementara kebanyakan pasar Asia turun. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun 1,20% menjadi 4.501,34 poin pada pukul 09:45 WIB, sementara rupiah telah melemah 0,22% menjadi Rp 14.040 per dollar Amerika Serikat (Bloomberg Dollar Index). Karena itu, saham-saham Indonesia mengikuti contoh saham-saham Amerika Serikat (AS) yang jatuh semalam.

    Lanjut baca ›

Artikel Terbaru China

  • Indonesia's Benchmark Stock Index (IHSG) up 0.17% on Thursday

    Despite concerns that Indonesia's benchmark stock index (IHSG) would weaken on Thursday's trading day (12/09), the index ended 0.17 percent up to 4,356.61 points. Indices on Wall Street and in Asia impacted positively on the IHSG and kept foreign investors increasing their stock portfolios in Indonesia. Moreover, the Bank Indonesia's decision to raise the country's benchmark interest rate (BI rate) by 25 basis points to 7.25 percent was generally well-received by investors. Banking stocks helped to support the IHSG.

    Lanjut baca ›

  • Asian Markets Continue Rebound; Indonesia's IHSG Climbs 3.98%

    Asian Markets Continues Rebound; Indonesia's IHSG Climbs 3.98%

    Good economic data from China and Japan made many Asian stock indices go into green territory, including Indonesia's benchmark stock index (IHSG) which gained 3.98 percent to close at 4,358.14 points on Tuesday (10/09) despite the lack of positive internal factors in Indonesia. Promising European openings also provided support for the index. Foreign investors, similarly to yesterday, were net purchasers of Indonesian assets, while domestic investors mostly sold their assets.

    Lanjut baca ›

  • Positive Market Sentiments in Asia Push Indonesia's Index Up 2.92%

    The release of positive economic data in China at the end of last week were continued into this week and had a good impact on regional stock indices. Most Asian stock indices continued their upward movement. This time, Indonesia's benchmark stock index (IHSG) was able to join its regional peers. Although Indonesia's investment climate is still not conducive, foreign investors were back buying more Indonesian stocks than they sold. The index rose 2.92 percent to 4,191.26 points on Monday (09/09).

    Lanjut baca ›

  • Indonesia Stock Market: Overview and Analysis of Last Week's Performance

    Although many global indices were up, Indonesia's benchmark stock index (IHSG) fell a total of 2.93 percent during last week's trading. One important issue on global indices is the tapering off of the Federal Reserve's quantitative easing (QE3). On 17 and 18 September, the next meeting of the FOMC is scheduled, which is expected to discuss the future of QE3. Notably, as the meeting comes closer, most global indices in fact rise. Thus, market players seem to have become less concerned about an end to QE3.

    Lanjut baca ›

  • Indonesia Stock Index Rebounds on Tuesday; Rupiah Depreciates

    Indonesia's benchmark stock index (IHSG) rebounded on Tuesday (03/09) amid rising Asian stock indices inflicted by optimism about economic recovery in China and the USA. The IHSG rose 1.53 percent to 4,164.12 points. Agribusiness and mining stocks were the top performers today, while the miscellaneous industry, which fell 0.09 percent, was the only sectoral index on the Indonesia Stock Exchange (IDX) that was down. The rupiah depreciated against the US dollar as investors are concerned about July's USD $2.3 billion current account deficit.

    Lanjut baca ›

  • Market Update: Eurozone Posts Good Data, USA Waiting for Decisions

    Most European stock indices rose sharply on Monday (02/09) as investors were happy to see favorable industrial data from China and the Eurozone. The benchmark stock indices in Paris, Frankfurt, London and Amsterdam climbed up to 1.8 percent. Trade was relatively quiet as Wall Street was closed due to Labor Day celebrations. However, it may be a 'calm before the storm' because on Friday (06/09) new official data about U.S. job creation will be released, while next week more clarity about a military operation in Syria is expected.

    Lanjut baca ›

  • Amid Mixed Asian Markets Indonesia's Main Index Rises 1.02%

    After Wall Street turned back into the green zone on Tuesday (13/08) and was accompanied by continued rising stock indices in Europe, it provided good support for Asian stock indices on Wednesday (14/08), including Indonesia's main stock index (IHSG). Indonesian mining commodities and plantation stocks fell but these losses were offset by rising big cap stocks (particularly finance stocks) and speculation that Indonesia's central bank will keep its benchmark interest rate (BI rate) at 6.50 percent.

    Lanjut baca ›

  • Jakarta Composite Index Rebounds amid Rising Asian Indices

    Jakarta Composite Index Rebounds amid Rising Asian Indices

    Rising Asian stock indices from the start of the week have supported Indonesia's main stock index (IHSG) to follow suit on Tuesday (13/08). Despite mixed markets in the United States and Europe, the IHSG grew 1.19 percent to 4,652.40 points. Japan's Nikkei index, which weakened seriously after the country's disappointing Q2 GDP result, rebounded and had a positive impact on the IHSG. Lastly, positive European openings made sure the IHSG would stay in the green zone.

    Lanjut baca ›

  • After Lebaran Holiday Indonesia's Main Stock Index Starts in the Red

    After its one-week holiday, Indonesia's main stock index (IHSG) started in negative territory. The index fell 0.93 percent to 4,597.78 on Monday (12/08) with the country's miscellaneous industry sector and the consumer goods sector leading the fall. It is interesting to note that most Indonesian mining companies showed significantly rising share prices as prices of mining commodities are expected to increase. According to Morgan Stanley, coal imports to India will grow while the global coal price has already reached its lowest point.

    Lanjut baca ›

  • Possible End to Quantitative Easing Will Impact on Emerging Economies

    Possible End to Quantitative Easing Will Impact on Emerging Economies

    Worldwide, most stock indices fell on Wednesday (07/08), particularly Japan's Nikkei index, after it has been speculated that the Federal Reserve may phase out the third round of its quantitative easing program in September 2013. This program, involving a monthly USD $85 billion bond-buying package, aims to spur US economic growth while keeping interest rates low. However, one important side effect has been rising stock markets around the globe. Now the end of QE3 is in sight, investors shy away from riskier assets.

    Lanjut baca ›

Bisnis Terkait China