Di bawah ada daftar dengan kolom dan profil perusahaan yang subyeknya berkaitan.

Berita Hari Ini China

  • Mengapa Saham dan Rupiah Indonesia Melemah Hari Ini?

    Mengapa Saham dan Rupiah Indonesia Melemah Hari Ini?

    Berlawan dengan harapan, saham Indonesia dan rupiah memiliki awal yang lemah di tahun yang baru. Pada hari Senin (4/1) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun 1,46% menjadi 4.525,92 poin, sementara rupiah terdepresiasi 0,82% menjadi Rp 13.943 per dollar Amerika Serikat (Bloomberg Dollar Index). Kinerja saham Indonesia ini sejalan dengan kinerja saham di seluruh dunia. Perdagangan saham Republik Rakyat Tiongkok (RRT) bahkan dihentikan dua kali karena indeksnya merosot. Apa yang terjadi hari ini?

    Lanjut baca ›

  • Pasar Saham Indonesia: Prognosis Indeks Harga Saham Gabungan Bulan Januari

    Pasar Saham Indonesia: Prognosis Indeks Harga Saham Gabungan Bulan Januari

    Tahun lalu Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun 12,13% sehingga berakhir pada 4,593.01 poin pada 30 Desember 2015 di tengah ketidakpastian global yang parah akibat ancaman pengetatan kebijakan moneter di Amerika Serikat (AS) dan perlambatan ekonomi yang besar dari Republik Rakyat Tiongkok (RRT). Hari ini, Bursa Efek Indonesia (BEI) akan memasuki hari perdagangan pertamanya di tahun baru. Apa yang kita harapkan dari kinerja saham Indonesia di Januari 2016?

    Lanjut baca ›

  • Pasar Saham Indonesia: Apa Saham Unggulan pada tahun 2016?

    Pasar Saham Indonesia: Apa Saham Unggulan pada tahun 2016?

    Meskipun tantangan tetap ada, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan naik pada tahun 2016, melebihi level 5.000 poin. Tahun lalu IHSG turun 12,13% menjadi ditutup pada 4.593,01 poin. Khususnya untuk sektor infrastruktur, perbankan, konsumsi, semen, properti dan konstruksi di Indonesia diprediksi akan memiliki kinerja yang baik tahun ini karena percepatan pertumbuhan ekonomi domestik yang didukung oleh pengeluaran pemerintah dan paket stimulus ekonomi baru-baru ini.

    Lanjut baca ›

  • Pasar Saham Indonesia: Kinerja IHSG pada Tahun 2015

    Pasar Saham Indonesia: Kinerja IHSG pada Tahun 2015

    Hari perdagangan terakhir tahun 2015 di Bursa Efek Indonesia (BEI) telah berlalu dan sekarang saatnya untuk melihat kembali kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan rupiah selama tahun 2015. Tahun 2015 merupakan tahun yang hektik, ditandai dengan volatilitas tinggi karena ketidakpastian tentang waktu kenaikan tingkat suku bunga AS (yang akhirnya diputuskan oleh Federal Reserve pada bulan Desember 2015) dan perlambatan ekonomi Republik Rakyat Tiongkok (RRT).

    Lanjut baca ›

  • Update Mata Uang: Mengapa Rupiah Indonesia Mengalami Kenaikan?

    Update Mata Uang: Mengapa Rupiah Indonesia Mengalami Kenaikan?

    Rupiah Indonesia meneruskan penguatan yang luar biasa pada hari Selasa (22/12). Mata uang ini naik 0,98% menjadi Rp 13.672 per dollar Amerika Serikat (AS) pada pukul 11:10 Waktu Indonesia Barat (Bloomberg Dollar Index). Rupiah telah pulih dari level rendahnya pada Rp 14.123 per dollar AS pada hari Senin 14 Desember menjadi Rp 13.672 per dollar AS, naik 3,2% dalam waktu sekitar satu minggu. Ada beberapa hal yang menjelaskan kinerja yang luar biasa ini.

    Lanjut baca ›

  • Rupiah Indonesia Menguat Tajam Kendati Proyeksi Pesimis

    Rupiah Indonesia Menguat Tajam Kendati Proyeksi Pesimis

    Rupiah Indonesia menguat secara signifikan terhadap dollar Amerika Serikat (AS) pada hari Senin (21/12) kendati ada prediksi bahwa rupiah akan menjadi mata uang dengan performa terburuk di Asia pada tahun 2016 akibat capital outflows (karena suku bunga AS direncanakan akan semakin dinaikkan pada tahun 2016), cadangan devisa Indonesia yang menurun, dan harga-harga komoditi yang terus-menerus rendah. Berdasarkan pada Bloomberg Dollar Index, rupiah telah menguat 1,13% menjadi Rp 13.760 per dollar AS pada pukul 14:20 Waktu Indonesia Barat (WIB) pada hari Senin (21/12).

    Lanjut baca ›

  • Indeks Harga Saham Gabungan Jatuh, Rupiah Menguat

    Indonesia's Jakarta Composite Index Plunges, Rupiah Strengthens

    Indeks-indeks saham di Asia Tenggara jatuh pada hari Jumat (18/12), dipimpin oleh indeks-indeks acuan di Thailand dan Indonesia. Pasar-pasar Asia ini mengikuti koreksi global yang terjadi setelah investor mempertimbangkan dampak yang mungkin terjadi dari kenaikan suku bunga Federal Reserve. Saham-saham di Amerika Serikat (AS) dan Eropa turun pada hari Kamis dan hari Jumat, sementara harga minyak dan komoditi-komoditi lainnya terus menurun. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Indonesia turun 1,92 persen menjadi 4,468.65 poin.

    Lanjut baca ›

  • Saham & Rupiah Indonesia: Aliran Modal Keluar Setelah Reli Kelegaan Pasar

    Saham & Rupiah Indonesia: Aliran Modal Keluar Setelah Reli Kelegaan Pasar

    Setelah reli kuat pada hari Kamis (merespon positif terhadap pengumuman Federal Reserve untuk menaikkan Fed Fund Rate), aset-aset Indonesia melemah pada hari Jumat (18/12) sementara kebanyakan pasar Asia turun. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun 1,20% menjadi 4.501,34 poin pada pukul 09:45 WIB, sementara rupiah telah melemah 0,22% menjadi Rp 14.040 per dollar Amerika Serikat (Bloomberg Dollar Index). Karena itu, saham-saham Indonesia mengikuti contoh saham-saham Amerika Serikat (AS) yang jatuh semalam.

    Lanjut baca ›

  • Suku Bunga Bank Indonesia Tidak Berubah di 7,50%

    Suku Bunga Bank Indonesia Tidak Berubah di 7,50%

    Bank Indonesia, bank sentral dari negara dengan ekonomi terbesar di Asia Tenggara, mempertahankan suku bunga acuannya (BI rate) pada 7,50% pada pertemuan kebijakan di bulan Desember pada hari Kamis (17/12). Sementara itu, fasilitas simpanan Bank Indonesia (Fasbi) tidak berubah pada 5,50% dan fasilitas pinjaman di 8,00%. Ini adalah bulan kesepuluh berturut-turut Bank Indonesia tidak mengubah suku bunganya (pada bulan Februari 2015 bank sentral memangkas BI rate sebesar 0,25%).

    Lanjut baca ›

  • Indonesian Stocks & Rupiah Weaken Ahead of Fed Fund Rate Decision

    Indonesian Stocks & Rupiah Weaken Ahead of Fed Fund Rate Decision

    On the last trading day of the week, Indonesian stocks plunged 1.63 percent to 4,393.52 points, while the rupiah depreciated 0.22 percent to IDR 13,984 per US dollar (Bloomberg Dollar Index). Most Asian indices were weaker as investors are bracing for - most likely - the first Fed Fund Rate hike in nearly a decade. On 15-16 December the US Federal Reserve will hold a crucial policy meeting. Tighter monetary policy in the USA leads to capital outflows from Indonesia as the country is regarded particularly vulnerable to such a move.

    Lanjut baca ›

Artikel Terbaru China

  • Chinese Premier Li Keqiang's Visit to Indonesia: Trade & Investment

    Chinese Premier Li Keqiang's Visit to Indonesia: Trade & Investment

    Chinese Premier Li Keqiang arrived in Indonesia on Sunday (06/05) for a two-day visit. Part of the visit was a meet up with Indonesian President Joko Widodo (at the Presidential Palace in Bogor) to discuss bilateral trade and investment. Key points on the agenda were the strengthening of trade between both nations and enhanced cooperation on infrastructure development projects in Indonesia, including dams and railways.

    Lanjut baca ›

  • Can Trump's Steel Tariffs Cause Rising Steel Imports in Indonesia?

    Can Trump's Steel Tariffs Cause Rising Steel Imports in Indonesia?

    Concerns over a trade war are rising as the European Union (EU) plans to impose a 25 percent retaliatory import tariff on various US products, ranging from clothes to motorcycles, if US President Donald Trump indeed goes ahead with his plan to impose a 25 percent import tariff on steel imports and a 10 percent tariff on aluminum imports.

    Lanjut baca ›

  • Palm Oil Industry Indonesia: CPO Price Under Pressure in Early March

    Palm Oil Industry Indonesia: CPO Price Under Pressure in Early March

    Several negative sentiments are putting pressure on the crude palm oil (CPO) price in the first week of March 2018. These sentiments are expected to continue pushing downward pressure on the CPO price in the remainder of this week. On Monday (05/03) the CPO price on the Malaysia Derivatives Exchange (May 2018 shipments) fell 0.28 percent to 2,467 ringgit per metric ton. Compared to one week earlier, the price has now declined 2.91 percent.

    Lanjut baca ›

  • Indonesia Eager Work Together to Boost Coffee Export to China

    Indonesia Eager Work Together to Boost Coffee Export to China

    The Consulate General of Indonesia in Guangzhou (China) said Indonesia's coffee exports to China reached USD $34.1 million in the January-September 2017 period, hence Indonesia now ranks second in terms of biggest coffee exporters to China. Vietnam ranks first, by a distance, with a coffee export value of USD $368.8 million in the same period.

    Lanjut baca ›

  • Stock & Currency Markets Are Getting Used to Terror Attacks

    Stock & Currency Markets Are Getting Used to Terror Attacks

    Despite the suicide bombs attack in Jakarta on Wednesday evening (24/05) that killed 3 police officers (and the two militants) at a Jakarta bus station, the Jakarta Composite Index rose after opening on Friday (26/05), while the rupiah only weakened slightly against the US dollar (Thursday was a public holiday). It is yet another example of the fact that markets around the globe have become used to the existence of militant attacks. Particularly a relatively small attack will not lead to any negative sentiments.

    Lanjut baca ›

  • 30th ASEAN Summit Shows the Rising Influence of China in Asia

    30th ASEAN Summit Shows the Rising Influence of China in Asia

    Now the United States - under the Donald Trump administration - are focused on their "America First" policy, China is able to increase its influence in the Asian region. This was apparent at the 30th Association of Southeast Asian Nations (ASEAN) summit on April 26-29 at the Philippine International Convention Center in Pasay City where regional leaders expressed their support for the denuclearization of North Korea but were reluctant to discuss the tensions around the South China Sea.

    Lanjut baca ›

  • Trump's USA Leaves Trans-Pacific Deal, Room for Indonesia & China?

    Trump's USA Leaves Trans-Pacific Deal, Room for Indonesia & China?

    As promised US President Donald Trump pulled the United States out of the Trans-Pacific Partnership (TPP), an ambitious free trade deal that was signed in October 2015 (after five years of negotiating) and had created the world's largest free trade area (covering 12 countries and 40 percent of global trade). Trump's move to withdraw the USA from the TPP implies that he distances the USA from its Asian allies and gives China the opportunity to fill in the empty space that is left by America.

    Lanjut baca ›

  • How Many Foreigners Actually Work in Indonesia? No Hoax!

    How Many Foreigners Actually Work in Indonesia? No Hoax!

    Over the past couple of weeks public outcry ensued in Indonesia due to rumors (a hoax) that said there are currently about ten million workers from China in Indonesia, implying these immigrants are (potentially) "stealing" jobs from the local population. Xenophobia and nationalist sentiments are no strangers to Indonesia, a country that faced a long colonial period, and therefore this hoax easily ignited anxiety among (part of) the Indonesian people. But how many foreigners are currently actually working in Indonesia?

    Lanjut baca ›

  • Indonesia's Coal Price Soaring, Reason for Euphoria? Or Not?

    Indonesia's Coal Price Soaring, Reason for Euphoria? Or Not?

    Indonesia's November 2016 coal price broke a record. The nation's benchmark thermal coal price (locally known as the Harga Batubara Acuan, HBA) - a monthly price set by Indonesia's Energy and Mineral Resources Ministry and which is based on domestic and international coal indices - jumped 22.9 percent month-on-month (m/m) to USD $84.89 per metric ton this month, the highest monthly HBA price rise ever recorded. Compared to the start of the year, Indonesia's coal price has now risen 59.6 percent, the sixth straight monthly gain. But is this reason for euphoria?

    Lanjut baca ›

Bisnis Terkait China