Setelah India, China, dan Amerika Serikat, Indonesia merupakan negara dengan populasi terbesar keempat di dunia. Namun, menempati jajaran negara berpenduduk terbanyak di dunia adalah sebuah pedang bermata dua. Hal ini menawarkan peluang emas untuk membawa negara ini menuju dominasi ekonomi global, asalkan penduduknya produktif (muda, terampil, dan sehat) serta terserap sepenuhnya oleh sektor formal yang tumbuh pesat untuk mendorong peningkatan daya beli dalam masyarakat yang setara. Sebaliknya, pada titik ekstrem lainnya, hal ini mengancam untuk menjebak negara ini dalam siklus tekanan sosioekonomi dan lingkungan jika angkatan kerjanya tetap kurang dimanfaatkan, berketerampilan rendah, atau tidak sehat secara jasmani, yang pada akhirnya justru menjadi bergantung pada dukungan negara daripada menjadi motor penggerak pertumbuhan, di tengah melebarnya ketimpangan dalam hal distribusi pendapatan.

Apakah populasi yang sangat besar ini akan menjadi mesin pertumbuhan yang kuat atau justru beban yang teramat berat, sangat bergantung pada tiga pilar penting: (1) tren demografi, (2) kebijakan sosioekonomi, dan (3) kekuatan lembaga-lembaga yang ditugaskan untuk mengoptimalkan potensi modal manusia (human capital) Indonesia.

Komposisi Etnis di Indonesia

Menurut sensus nasional resmi yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS), terdapat 1,331 kategori identitas etnis yang tersebar di seluruh kepulauan Indonesia. Untuk membuat data tersebut lebih mudah dikelola, BPS mengelompokkan sub-etnis yang serupa secara bersamaan. Meskipun demikian, tetap terdapat lebih dari 600 kelompok etnis yang berbeda.

Namun, tidak semua identitas etnis ini beranggotakan jutaan orang. Faktanya, hanya ada sekitar belasan identitas etnis di Indonesia yang bersifat dominan. Sayangnya, dalam Sensus Penduduk 2020, BPS tidak memasukkan perhitungan lengkap mengenai identitas etnis, sehingga kita bergantung pada data rinci dari Sensus Penduduk 2010. Meskipun ini berarti datanya sedikit usang, kita tidak memperkirakan ada perbedaan yang signifikan pada persentase pangsa populasi di masa sekarang.

Tabel 1 - Kelompok Etnis (Suku Bangsa) Terbesar di Indonesia:

Kelompok Jumlah Orang % dari
Penduduk Total
Jawa 95,217,022 40.2
Sunda 36,701,670 15.5
Batak 8,466,969 3.6
Madura 7,179,356 3.0
Minangkabau 6,462,713 2.73
Bugis 6,359,700 2.69
Betawi 6,807,968 2.9
Melayu 5,365,399 2.3
Banten 4,657,784 2.0
Aceh 4,091,451 1.7

Sumber: Sensus Penduduk 2010, Badan Pusat Statistik (BPS)

Dua kelompok terbesar adalah suku Jawa (sekitar 40 persen dari total populasi Indonesia) dan suku Sunda (sekitar 15 persen dari populasi). Kedua kelompok ini berasal dari Pulau Jawa, pulau terpadat di Indonesia, yang menjadi tempat tinggal bagi sekitar 56 persen dari total populasi Indonesia (dan juga merupakan pusat politik, keuangan, serta ekonomi nasional).

Selama berabad-abad, telah terjadi transmigrasi penduduk yang signifikan (serta pernikahan antar-etnis), sehingga suku Jawa dapat ditemukan di seluruh penjuru kepulauan. Bahkan, selama rezim Soeharto (1966–1998), keluarga-keluarga yang tidak memiliki tanah di wilayah padat penduduk seperti Jawa, Bali, dan Madura didorong untuk bermigrasi ke pulau-pulau yang lebih jarang penduduknya. Sementara itu, bagi beberapa kelompok etnis seperti suku Batak, Minangkabau, dan Bugis, merantau meninggalkan tanah kelahiran (untuk mencari nafkah) merupakan sebuah tradisi budaya.

Semboyan nasional Indonesia Bhinneka Tunggal Ika (yang artinya berbeda-beda tetapi tetap satu dalam bahasa Jawa Kuno) mencerminkan banyaknya ragam etnis, budaya, dan bahasa yang dapat ditemukan di dalam wilayah Indonesia. Memang, kalau membayangkan seorang warga Papua penganut animisme (dari ujung timur Indonesia) bertemu dengan seorang warga Aceh Muslim yang saleh (dari ujung barat Indonesia), kita akan menemukan lebih banyak perbedaan dalam hal agama, pakaian, gaya hidup, tradisi, dan bahasa daerah daripada persamaan. Kendati demikian, sebuah kerangka nasional yang nyata telah melandasi mereka, sehingga sebagian besar masyarakat Indonesia merasakan ikatan yang kuat, terlepas dari perbedaan yang ada. Rasa "keindonesiaan" yang kuat ini (meski dikonstruksikan, namun dirasakan sangat mendalam) berhasil mengikat dan mempersatukan bangsa.

Peta Indonesia

Komposisi budaya yang beragam di Indonesia ini sebenarnya merupakan hasil dari proses penjajahan yang panjang oleh negara Belanda. Dalam rentang waktu sekitar tiga abad negara kecil yang terletaknya di Eropa itu berhasil (secara bertahap) untuk memperluas kekuasaan politiknya di wilayah Indonesia - menaklukkan berbagai kerajaan pribumi - sampai perbatasannya sama dengan perbatasan masa kini. Dengan kata lain, selama masa pembentukan daerah penjajahan Belanda di Asia Tenggara itu semua budaya yang beragam tersebut menjadi bagian dari sebuah kesatuan politik yang di kemudian hari diwarisi oleh pemimpin nasional setelah Kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945.

Meskipun Belanda yang menciptakan batas-batas politik tersebut, wilayah kepulauan ini tidak sepenuhnya terputus sebelum kedatangan mereka. Jaringan perdagangan maritim yang luas, penyebaran agama Islam, serta imperium terdahulu seperti Majapahit dan Sriwijaya telah menciptakan ikatan budaya dan linguistik yang mendalam (termasuk penggunaan "Melayu Pasar" sebagai lingua franca) di seluruh wilayah kepulauan ini.

Sementara itu, keragaman budaya juga adalah berkah bagi perekonomian terbesar di Asia Tenggara ini. Setiap budaya menawarkan sesuatu yang menarik dan ini adalah sebabnya jutaan wisatawan asing berkunjung ke Indonesia setiap tahun (maka sektor pariwisata merupakan salah satu penghasil devisa yang penting). Misalnya, peninggalan budaya seperti candi Borobudur dan candi Prambanan di Jawa Tengah dan Yogyakarta atau budaya kontemporer seperti agama Hindu di pulau Bali adalah alasan bagi orang asing untuk memesan tiket pesawat ke Indonesia.



Di sisi lain, memiliki beragam keyakinan (agama), tradisi, etnis, dan budaya yang melimpah juga membawa kesulitan tersendiri dalam hal tata kelola pemerintahan. Bahkan, dalam berbagai kesempatan telah terjadi bentrokan kekerasan antar-kelompok di Indonesia yang berakar pada perbedaan etnis atau agama (meskipun beberapa pihak berpendapat bahwa akar penyebab utamanya adalah masalah sosial-ekonomi dan politik), peristiwa-peristiwa yang merusak tatanan sosial Indonesia serta semboyan nasional negara tersebut.

Bentrokan-bentrokan ini seringkali dipicu oleh pergeseran demografi yang cepat (akibat program transmigrasi), persaingan memperebutkan pekerjaan di pemerintahan daerah, hak atas tanah, serta ketimpangan peluang ekonomi antara kelompok masyarakat asli dan para pendatang. Contohnya meliputi Konflik Sektarian Maluku (sebuah bentrokan hebat berskala besar antara komunitas Kristen dan Muslim di Ambon dan pulau-pulau sekitarnya pada tahun 1999–2002), Kerusuhan Poso (bentrokan Muslim-Kristen di Sulawesi Tengah pada tahun 1998–2001), dan Konflik Sampit (sebuah bentrokan etnis yang brutal di Kalimantan Tengah antara masyarakat adat Dayak dan transmigran asal Madura pada tahun 2001).

Perlu dicatat bahwa peristiwa-peristiwa ini seluruhnya terjadi setelah runtuhnya rezim otoriter tersentralisasi di bawah Presiden Soeharto pada tahun 1998, yang pada gilirannya membuat ketegangan etnis dan agama yang selama ini terpendam meletus di beberapa daerah. Namun secara keseluruhan, pemerintah Indonesia (sejak tahun 1945) telah berhasil menanamkan sebuah 'identitas nasional' di atas segala perbedaan etnis dan agama yang ada. Melalui pendidikan dan media (serta tangan besi militer di masa Soeharto), 'Bhinneka Tunggal Ika' telah tertanam dalam-dalam pada tatanan sosial negara ini. Ideologi negara Indonesia —Pancasila— juga sukses menjembatani jurang pemisah antara negara sekuler dan negara Islam. Sementara itu, era Reformasi dan demokrasi pasca-Soeharto memberikan daerah-daerah kekuasaan yang lebih besar daripada sebelumnya, yang pada akhirnya turut meredakan kebencian mendalam terhadap kendali terpusat Jakarta sekaligus mematahkan alasan utama dari gerakan-gerakan separatis di daerah.

Tingkat ketimpangan yang tinggi juga eksis di Indonesia dan hal ini turut memicu sentimen negatif di kalangan sebagian masyarakat Indonesia. Sebagai contoh, ketimpangan distribusi pendapatan (yang tercermin dari rasio Gini yang tinggi). Namun, di kalangan wilayah yang disebut sebagai "Daerah Luar Jawa", terdapat pula rasa kekecewaan terhadap dominasi posisi politik dan ekonomi Jawa (khususnya Jakarta). Sentimen-sentimen inilah yang menjadi (sebagian dari) alasan mengapa pemerintah Indonesia terpaksa memasuki era desentralisasi pada periode pasca-Soeharto. Selain itu, di bawah pemerintahan Presiden Joko Widodo (2014–2024), diputuskan untuk memindahkan ibu kota negara dari Jakarta ke Nusantara di Kalimantan Timur dalam rangka 'dejawanisasi' (kota baru Nusantara itu adalah sebuah proyek ambisius yang saat ini sedang dalam tahap pembangunan).

Tabel 2 - Lima Propinsi dengan Populasi Tertinggi (dalam jutaan orang):

Propinsi Populasi
2000
Populasi
2010
Populasi
2020
Populasi
Januari 2026
Jawa Barat 35.8 43.1 48.3 51.2
Jawa Timur 34.8 37.5 40.7 42.3
Jawa Tengah 31.2 32.4 36.5 38.6
Sumatra Utara 11.6 13.0 14.8 16.0
Banten (Jawa) 8.1 10.6 11.9 12.6
Indonesia 206.3 237.6 270.2 287.2

Sumber: Sensus Penduduk 2000, 2010 dan 2020, Badan Pusat Stastik (BPS)

Tabel 2 menunjukkan bahwa terdapat konsentrasi penduduk yang sangat besar di pulau Jawa. Meskipun hanya mencakup tujuh persen dari total luas daratan, sekitar 56 persen dari seluruh rakyat Indonesia tinggal di Jawa, khususnya di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Bandung, Yogyakarta, dan Bogor karena kota-kota tersebut menawarkan peluang kerja yang lebih besar. Oleh karena itu, banyak orang bermigrasi dari pulau-pulau lain ke Jawa. Hal ini berarti bahwa komposisi etnis khususnya di kota-kota di Jawa menjadi sangat beragam.

Konsentrasi penduduk yang sangat besar di lingkungan perkotaan di Jawa ini memberikan tekanan yang berat pada infrastruktur (baik infrastruktur lunak maupun keras) di seluruh pulau, dan juga menjadi salah satu alasan mengapa tingkat kemiskinan absolut di Jawa tergolong tinggi.

Pertumbuhan Populasi Indonesia

Program Keluarga Berencana (KB) di Indonesia dikoordinasikan oleh Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), sebuah lembaga pemerintah pusat. Di bawah kepemimpinan Presiden Soeharto, program keluarga berencana nasional yang sangat efektif ini dimulai pada tahun 1970 dan terus dilanjutkan oleh para penerusnya hingga saat ini. Program ini berfungsi sebagai salah satu pilar utama dalam strategi pembangunan ekonomi negara; keberhasilan dalam menekan pertumbuhan penduduk secara efektif telah meningkatkan Produk Domestik Bruto (PDB) per kapita, mendorong tabungan rumah tangga yang lebih tinggi, menstimulasi investasi domestik, serta mempercepat pengentasan kemiskinan di seluruh wilayah kepulauan ini.

Secara historis, laju pertumbuhan penduduk nasional tahunan antara tahun 1971 dan 1980 rata-rata mencapai 2.31 persen. Secara regional, pertumbuhan tertinggi terjadi di Provinsi Lampung (5.77 persen) — yang sebagian besar didorong oleh program transmigrasi pemerintah — dan terendah di Yogyakarta (1.10 persen). Mencerminkan efektivitas program yang semakin meningkat, laju pertumbuhan tahunan rata-rata turun menjadi 1.98 persen selama periode 1981–1990, dan semakin melandai menjadi 1.49 persen pada periode 1991–2000, di mana angka tersebut kemudian stabil sepanjang dekade 2000–2010.

Pada dekade 2010-an, laju pertumbuhan penduduk semakin melandai menjadi 1.31 persen pada tahun 2019. Krisis COVID-19 pada tahun 2020-2021 diyakini memberikan tekanan yang lebih besar lagi pada laju pertumbuhan tersebut (akibat gangguan ekonomi, penundaan pernikahan, dan peningkatan akses ke layanan keluarga berencana selama karantina wilayah/lockdown). Menariknya, pergeseran yang dipercepat menuju komposisi keluarga yang lebih kecil ini telah membawa Indonesia semakin dekat ke target stabilitas pertumbuhan penduduk. Hal ini memperkuat transisi negara menuju profil demografi yang lebih tua dan lebih terurbanisasi, sekaligus menghadirkan tantangan baru dalam mempertahankan bonus demografi jangka panjangnya.

Tabel 3 - Laju Pertumbuhan Populasi Indonesia (perubahan % tahunan):

  2021 2022 2023 2024 2025 2026
Laju Pertumbuhan 1.22 1.17 1.13 1.11 1.09* 1.07*
  2015 2016 2017 2018 2019 2020
Laju Pertumbuhan 1.38 1.36 1.34 1.33 1.31 1.25

* Angka awal
Sumber: Badan Pusat Statistik (BPS)

Angka Kelahiran Total Indonesia

Sementara itu, angka kelahiran total (Total Fertility Rate atau TFR) adalah rata-rata jumlah anak yang akan dilahirkan oleh seorang wanita sepanjang masa reproduksinya, dengan asumsi ia hidup hingga melewati usia suburnya (biasanya usia 15-49 tahun). Berdasarkan data BPS, TFR Indonesia saat ini berada di angka 2.13. Hal ini menarik karena TFR merupakan indikator yang digunakan untuk menentukan apakah jumlah penduduk suatu negara sedang menyusut atau tidak.

Dalam 'dunia yang sempurna', jika setiap pasangan memiliki tepat dua anak, mereka akan menggantikan diri mereka sendiri dengan sempurna, dan jumlah penduduk akan tetap sama persis. Namun, karena tidak semua anak nantinya akan menjadi orang tua, tingkat pergantian (replacement level) yang diakui secara global adalah 2.1 anak per wanita (di mana jumlah penduduk akan stabil secara alami).

Oleh karena itu, TFR Indonesia saat ini yang sebesar 2.13 secara praktis berada tepat pada tingkat pergantian. Sebagai perbandingan, TFR yang berada di tingkat yang mengkhawatirkan dapat ditemukan di negara-negara seperti Korea Selatan (di bawah 0.8), Jepang (1.2), dan Singapura (1.0). Indonesia masih berada dalam zona aman. Ini merupakan kabar baik karena memiliki laju pertumbuhan penduduk sekitar 1 persen dan TFR mendekati 2.1 sebenarnya merupakan target ideal yang. Artinya, Indonesia masih memiliki angkatan kerja muda produktif yang sangat besar dengan rasio ketergantungan (dependency ratio) yang relatif rendah —rasio yang mengukur beban ekonomi pada bagian populasi yang produktif— sekaligus mencegah ledakan penduduk yang cepat dan tidak berkelanjutan yang dapat membebani infrastruktur publik, sekolah, dan pasar kerja.

Namun, seperti yang kita bahas di bawah (pada bagian tentang struktur usia), terdapat beberapa tanda peringatan. Angka rata-rata nasional menyembunyikan perbedaan lokal yang besar. Sebagai contoh, TFR Jakarta telah turun jauh di bawah tingkat pergantian menjadi 1.75, dan Yogyakarta berada di angka 1.89. Pusat-pusat perkotaan ini menua jauh lebih cepat daripada provinsi-provinsi perdesaan seperti Nusa Tenggara Timur yang masih memiliki TFR sebesar 2.79. Jadi, meskipun penurunan laju pertumbuhan penduduk merupakan tanda dari ekonomi yang semakin matang dan mengalami urbanisasi, tingkat fertilitas yang mulai melandai berarti Indonesia memiliki waktu yang terbatas untuk memanfaatkan bonus demografinya secara penuh sebelum populasinya mulai menua secara signifikan. BPS melaporkan pada Mei 2026 bahwa proporsi warga lanjut usia di Indonesia saat ini mencapai 11.97 persen dari populasi, jauh melampaui ambang batas 'resmi' sebesar 10 persen yang menandai dimulainya populasi yang menua (aging population). Ini berarti Indonesia telah resmi memasuki tahap awal dari fase populasi yang menua.

Tabel 4; Angka Kelahiran Total di Indonesia (Rata-Rata Anak per Perempuan):

  1971 1980 1990 2000 2010 2020
TFR 5.61 4.68 3.33 2.34 2.41 2.18

Sumber: Sensus Penduduk, Badan Pusat Statistik (BPS)

Tabel 4 menunjukkan bagaimana Angka Kelahiran Total (TFR) Indonesia telah menurun selama beberapa dekade. Pada tahun 1971, seorang wanita di Indonesia rata-rata memiliki 5.61 anak selama masa reproduksinya. Namun, pada tahun 2020, angka tersebut menjadi rata-rata 2.18 anak.

Beberapa faktor melatarbelakangi penurunan TFR Angka Kelahiran Total ini di Indonesia:

  • Program Keluarga Berencana (KB) Nasional yang dikelola oleh BKKBN meluncurkan kampanye berbasis masyarakat secara masif dengan slogan "Dua Anak Cukup" di bawah pemerintahan Soeharto. Program ini menormalkan penggunaan alat kontrasepsi modern, yang secara drastis meningkatkan Angka Prevalensi Kontrasepsi di seluruh pelosok Nusantara;

  • Secara lebih umum, akses terhadap serta efektivitas kontrasepsi modern (khususnya suntik hormonal, pil, dan implan) telah menjadi kontributor krusial dalam menekan angka TFR;

  • Meskipun secara historis pernikahan dini merupakan hal yang lumrah (terutama di wilayah perdesaan Indonesia), Undang-Undang Perkawinan Tahun 1974 menetapkan batas usia minimum legal untuk menikah, sementara norma sosial yang berubah secara bertahap mendorong usia rata-rata pernikahan pertama menjadi lebih tinggi. Menunda pernikahan secara langsung memperpendek jendela reproduksi kumulatif seorang wanita;

  • Berkat kontrasepsi dan norma-norma yang berubah, anak-anak perempuan kini dapat mengenyam pendidikan, yang menyiratkan bahwa mereka tidak lagi bergantung secara finansial pada suami (atau ayah);

  • Sementara di wilayah perdesaan anak-anak sering kali dianggap sebagai aset ekonomi (sesuai pepatah "banyak anak, banyak rezeki") karena mereka dipersiapkan untuk bekerja di lahan milik keluarga, di lingkungan perkotaan anak-anak membutuhkan investasi finansial yang besar (pendidikan, layanan kesehatan, dan perumahan). Oleh karena itu, di lingkungan perkotaan, orang tua mulai memprioritaskan kualitas pengasuhan anak di atas kuantitas (jumlah) anak; dan

  • Peningkatan layanan kesehatan masyarakat, sanitasi, dan imunisasi menurunkan angka kematian bayi, sehingga memberikan kepercayaan diri bagi orang tua untuk memiliki lebih sedikit anak.

Populasi Penduduk Indonesia

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik, Indonesia menjadi rumah bagi 287.2 juta jiwa pada awal tahun 2026. Tabel 5 menunjukkan bagaimana total populasi Indonesia telah tumbuh selama satu dekade terakhir, dari 255.4 juta jiwa pada tahun 2015 menjadi 287.2 juta jiwa pada awal 2026. Mengingat laju pertumbuhan saat ini, populasi Indonesia diperkirakan akan melampaui 300 juta jiwa sekitar tahun 2030 atau 2031.

Tabel 5 - Ukuran Populasi Indonesia (dalam jutaan orang):

  2021 2022 2023 2024 2025 2026
Ukuran Populasi 272.7 275.8 278.7 281.6 284.4* 287.2*
  2015 2016 2017 2018 2019 2020
Ukuran Populasi 255.4 258.9 261.9 265.0 268.1 270.2

* Angka awal
Sumber: Badan Pusat Statistik (BPS)

Tabel 6; Ukuran Populasi Indonesia (dalam jutaan orang):

  1971 1980 1990 2000 2010 2020
Ukuran Populasi 119.2 147.5 179.4 206.3 237.6 270.2

Sumber: Sensus Penduduk, Badan Pusat Statistik (BPS)

Berdasarkan proyeksi dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), populasi Indonesia diperkirakan akan melampaui 300 juta jiwa pada tahun 2031-2032. Setelah tahun 2058, PBB memperkirakan jumlah penduduk Indonesia akan mulai menurun sebagai konsekuensi dari melambatnya pertumbuhan penduduk dan menurunnya tingkat kesuburan (fertilitas).

Tabel 7; Proyeksi PBB untuk Jumlah Penduduk Indonesia (dalam jutaan jiwa):

  2030 2040 2050 2060 2075 2100
Ukuran Populasi 295.9 311.8 320.7 322.5 317.7 295.5

Source: Sensus Penduduk, Badan Pusat Statistik (BPS)

!

[Bagian di Bawah ini Sedang Direvisi dan Diupdate, 14 May 2026]

!

Pertumbuhan Jumlah Penduduk Indonesia

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), badan statistik milik pemerintah, jumlah penduduk Indonesia pada akhir tahun 2023 mencapai 278.7 juta jiwa. Jumlah tersebut terdiri dari 140.8 juta jiwa laki-laki dan 137.9 juta jiwa perempuan.

Tabel 3; Jumlah Penduduk Indonesia (dalam juta orang):

  2018 2019 2020 2021 2022 2023
Jumlah 265.0 268.1 270.2 272.7 275.8 278.7

Sumber: Badan Pusat Statistik (BPS)

Menurut proyeksi yang dilakukan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dengan menilik populasi absolut Indonesia di masa depan, maka negeri ini akan memiliki penduduk lebih dari 270 juta jiwa pada tahun 2025, lebih dari 285 juta jiwa pada tahun 2035 dan 290 juta jiwa pada tahun 2045. Baru setelah 2050 populasi Indonesia akan berkurang.

Menurut proyeksi PBB pada tahun 2050 dua pertiga populasi Indonesia akan tinggal di wilayah perkotaan. Sejak 40 tahun yang lalu Indonesia sedang mengalami sebuah proses urbanisasi yang pesat makanya sekarang sedikit lebih dari setengah jumlah total penduduk Indonesia tinggal di wilayah perkotaan. Proses ini menunjukkan perkembangan positif bagi ekenomi Indonesia karena urbanisasi dan industrialisasi akan membuat tumbuhnya ekonomi lebih maju dan menjadikan Indonesia negeri dengan tingkat pendapatan menengah ke atas.

Kota-kota terbesar di Indonesia ditemukan di pulau Jawa. Di sini kita menemukan ibu kota Jakarta yang memiliki lebih dari 10 juta penduduk menurut sensus resmi terbaru (data dari 2011). Angka yang tidak resmi kemungkinan besar jauh lebih tinggi. Selain itu, setiap pagi sejumlah besar pekerja berjalan dari dareah perkotaan satelit menuju Jakarta untuk melakukan pekerjaan mereka. Pada sore atau malam hari mereka berjalan pulang ke kota-kota satelit di sekitar Jakarta. Arus harian yang besar ini menyebabkan kemacetan lalu lintas yang parah di Jakarta.

Setelah Jakarta, kota-kota terbesar di Indonesia adalah Surabaya (Jawa Timur), Bandung (Jawa Barat), Bekasi (Jawa Barat), dan Medan (Sumatra Utara).

Populasi Rural dan Kota di Indonesia:

  1995 2000 2005 2010 2015 2050
 Populasi Rural
 (% populasi total)
  64   58   52   50   46   33¹
 Populasi Kota
 (% populasi total)
  36   42   48   50   54   67¹

¹ perkiraan PBB
Sumber: Bank Dunia

Struktur Usia di Indonesia

Salah satu kekuatan penting dalam komposisi demografi Indonesia yang memiliki hubungan dengan perekenomian adalah penduduk usia muda yang ada di Indonesia. Indonesia memiliki kelimpahan warga dengan usia produktif kerja. Mereka adalah sebuah kekuatan buat ekonomi nasional (asal mereka bisa mendapatkan pendidikan yang memadai dan ada cukup banyak kesempatan kerja).

Rata-rata usia penduduk Indonesia adalah 28.6 tahun (perkiraan tahun 2016). Ini adalah median age yang berarti separuh dari populasi Indonesia berusia 28.6 tahun ke atas dan separuhnya lagi umurnya di bawah 28.6 tahun. Mengenai jenis kelamin, rata-rata median age wanita Indonesia adalah 29.1 tahun, sementara median age pria lebih muda setahun (28.1 tahun).

Di bawah ini adalah persentase penduduk Indonesia yang dikategorikan dalam tiga kelompok usia dan jenis kelamin.

Penduduk Indonesia Menurut Jenis Kelamin dan Kelompok Umur:

  Persentase Gabungan
      Total Populasi
Pria
(absolut)
Wanita
(absolut)
0-14 tahun
              27.3 34,165,213 32,978,841 
15-64 tahun
              66.5 82,104,636  81,263,055 
65 tahun ke atas                6.1  6,654,695  8,446,603

Sumber: CIA World Factbook

Pada tahun 2010, sekitar 19 persen penduduk Indonesia adalah anak yang umurnya di bawah sepuluh tahun, sekitar 37 persen di bawah dua puluh tahun dan sekitar setengah populasi Indonesia berusia di bawah tiga puluh tahun. Angka-angka ini menunjukkan - dari perspektif demografis - bahwa Indonesia memiliki potensi besar dalam hal produktifitas dan kreatifitas.

Demografi dan Gelombang-Gelombang Ekonomi

Pentingnya Gelombang Usia: Ikhtisar Umum

Peredaman pertumbuhan penduduk yang disebabkan oleh penurunan tingkat kesuburan (yang mungkin saja disebabkan oleh hal-hal seperti semakin mudahnya akses mendapatkan alat-alat kontrasepsi, pendapatan yang lebih tinggi, urbanisasi dan tingkat pendidikan yang lebih tinggi untuk wanita) dapat membantu menstimulasi sebuah perubahan signifikan pada distribusi usia penduduk terhadap mereka yang masih dalam usia kerja (namun di kemudian hari penurunan angka kematian dan tingkat kesuburan akan menghasilkan populasi manula). Perubahan ini dapat mempercepat pertumbuhan ekonomi karena penduduk usia kerja bertambah sementara jumlah (relatif) anak yang masih bergantung pada orang-tua berkurang.

Proses ini dapat dianggap sebagai serangkaian gelombang. Gelombang pertama adalah ketika penduduk usia kerja mulai bekerja sehingga produksi pun menjadi meningkat. Dengan adanya pekerjaan berarti pendapatan pun menjadi lebih tinggi, rumah tangga pun akan menkonsumsi produk lebih banyak lagi. Rumah tangga akan menabung lebih banyak karena jumlah anak yang bergantung pada orang-tua berkurang sehingga tingkat investasi pun bertambah, sama seperti peningkatan modal dan pada akhirnya akan meningkatkan produksi perokonomian.

Gelombang demografi yang kedua terjadi ketika sebagian besar penduduk usia kerja mendekati masa pensiun dan mulai menabung dan berinvestasi untuk hari tua. Dengan demikian, hasil peningkatan akumulasi modal tersebut dapat membantu mendorong pertumbuhan ekonomi secara lebih lanjut. Setelah tahap ini akan terjadi keprihatinan ekonomi karena adanya stagnasi pertumbuhan penduduk dan populasi manula yang meningkat.

Kasus Indonesia

Saat ini posisi Indonesia berada di bagian tengah gelombang yang pertama. Baik angka kelahiran maupun tingkat kesuburan sama-sama turun dengan cepat dan penduduk usia kerja meningkat dengan cepat sementara total populasi Indonesia tumbuh dengan lamban. Hasilnya adalah kelompok usia di bawah tiga puluh tahun yang cukup besar (sekitar setengah dari total populasi, sekitar 125 juta penduduk Indonesia), yang secara potensial masuk usia produktif sehingga bisa berfungsi sebagai mesin perekonomian nasional.

Konsumsi domestik adalah sumber besar untuk kinerja PDB Indonesia yang secara berkelanjutan terus kuat. Apalagi konsumsi rumah tangga memberi andil lebih dari 55 persen pertumbuhan ekonomi keseluruhan. Konsumsi domestik yang terus kuat ini adalah salah satu alasan penting mengapa Indonesia mampu melewati krisis keuangan global tahun 2008-2009 dengan nilai rata-rata pertumbuhan PDB sekitar 5.6 persen pada tahun 2008-2010. Apalagi, karena pertumbuhan ekonomi yang solid banyak orang Indonesia sempat masuk warga kelas menengah. Menurut laporan Bank Dunia yang dirilis pada tahun 2012, sekitar tujuh juta warga Indonesia masuk ke dalam penduduk kelas menengah setiap tahun. Namun, setelah tahun 2013 depresiasi rupiah (terhadap dolar AS) dan suku bunga Bank Indonesia yang lebih tinggi (serta harga komoditas yang rendah di tengah pertumbuhan ekonomi global yang lesu) telah berhasil agak melemahkan kekuatan pasukan konsumen Indonesia ini.

Meskipun demikian, jika boleh sedikit mengkritik, ada juga jutaan penduduk usia kerja yang berpendidikan namun tidak mendapatkan pekerjaan di Indonesia. Mereka tidak dapat diserap pasar tenaga kerja. Karakteristik lainnya dari Indonesia adalah tingkat pengangguran terutama terjadi pada penduduk usia 15 - 24 tahun, jauh di atas rata-rata nasional. Untuk detil lebih lanjut mengenai pengangguran di Indonesia, silakan baca halaman kami yang membahas tentang pengangguran.

Grup Etnis Terbesar di Indonesia:

Grup   % dari
Populasi
Jawa    42.65
Sunda    15.41
Malay     3.45
Madura     3.37
Batak     3.02
Minangkabau     2.72
Betawi     2.51
Bugis     2.49
Banten     2.05
Banjar     1.74

Sumber: Statistics Indonesia Population Census 2010

Agama di Indonesia

Dalam hal agama, mayoritas penduduk Indonesia menganut agama Islam. Sekitar 87.2 persen dari jumlah total penduduk Indonesia - atau 207.2 juta orang - adalah orang Muslim. Namun, Indonesia bukan negara Islam (hanya di Aceh hukum syariah diterapkan). Tapi meskipun negaranya sebuah demokrasi yang sekuler, prinsip-prinsip yang berdasarkan doktrin Islam memainkan peran penting dalam bidang politik, ekonomi dan masyarakat Indonesia.

Ada juga sekitar 16.5 juta orang Protestan (6.9 persen dari jumlah total penduduk Indonesia), 6.9 juta umat Katolik (2.9 persen dari populasi), dan 4 juta Hindu (1.7 persen) yang tinggal di Indonesia. Terakhir, terdapat minoritas kecil dari umat Buddha serta mereka yang menganut Konfusianisme, sebagian besar adalah masyarakat etnis Tionghoa.

Bertentangan dengan kebanyakan negara di dunia Barat, bagi banyak orang Indonesia agama masih tetap merupakan bagian penting dari identitas mereka. Untuk informasi lebih lanjut tentang topik ini, silakan kunjungi bagian Agama di Indonesia.

Lanjut Baca:

How to Act Indonesian? (bahasa Inggris)
Budaya Bisnis Indonesia (bahasa Inggris)

Update terakhir: 12 November 2024