Fenomena cuaca El Nino berkaitan dengan temperatur hangat air laut secara periodik di lepas pantai bagian Barat dari Amerika Selatan yang menyebabkan perubahan iklim di seluruh Lautan Pasifik seperti musim kemarau yang berkepanjangan di Asia Tenggara dan karenanya merusak hasil produksi komoditi-komoditi agrikultur.

El Nino diprediksi menyebabkan kurangnya curah hujan di Indonesia di kuartal 1 tahun 2016 dan karena infrastruktur irigasi tidak dikembangkan secara optimal di negara penghasil kopi terbesar ketiga di dunia ini, fenomena cuaca ini mungkin memiliki dampak signifikan pada hasil produksi kopi di Indonesia. Banyak perkebunan kopi di Indonesia dimiliki oleh petani kecil yang kekurangan sumberdaya keuangan dan kemampuan teknis untuk mengurangi dampak negatif yang disebabkan oleh El Nino. Karena musim kering yang berkepanjangan, tingkat produksi pohon-pohon kopi menurun antara 30% sampai 40%. Di Indonesia, pohon-pohon robusta biasanya mulai berbunga di bulan September. Kemudian dibutuhkan kira-kira 8 bulan untuk memproduksi kopi robusta.

Badan Meteorologi Inggris baru-baru ini menyatakan bahwa saat ini telah ada bukti penurunan curah hujan di Asia dan musim kemarau ini bisa terus berlanjut sampai tahun baru. Institusi ini memprediksi El Nino untuk memuncak di akhir Desember dan mengklaim bahwa dibutuhkan beberapa bulan sebelum dampak ini menurun.

Kopi robusta Vietnam dapat menggantikan kopi robusta Indonesia dan karenanya para pedagang dapat beralih ke robusta Vietnam. Apakah harga robusta Vietnam dapat didukung oleh perkembangan ini tetap tidak diketahui karena Vietnam masih memiliki sisa panen lama yang besar (dan juga prediksi panen Vietnam yang besar ke depan).

Sebelumnya, Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI) memperkirakan bahwa hasil produksi kopi Indonesia akan mencapai 600.000-650.000 ton di musim 2015, lebih rendah dari prediksi institusi ini sebelumnya pada 650.000-700.000 ton dan di bawah realisasi produksi berjumlah 711.513 ton di tahun sebelumnya. Grup-grup analis dan industri lainnya mengatakan bahwa fenomena El Nino mungkin mengurangi proyeksi AEKI sebanyak kira-kira 50.000 ton di musim 2015.

Bahas