Suhala mengatakan penurunan permintaan dari Republik Rakyat Tiongkok (RRT) - negara dengan ekonomi terbesar kedua di dunia - memiliki dampak yang besar pada harga batubara. Pada periode Januari-November 2015, impor batubara ke RRT turun lebih dari 30% dari periode yang sama tahun lalu. Sebagai akibat dari harga yang rendah, para penambang batubara Indonesia telah memotong volume produksi sekitar 20% pada tahun 2015. Mengingat bahwa total produksi batubara di Indonesia diperkirakan sekitar 425 juta ton pada tahun 2015, ini berarti bahwa para penambang batubara di negara ini telah memotong total volume produksi nasional sekitar 85 juta ton. Penurunan hasil produksi juga harus dilakukan para penambang untuk menghindari kebangkrutan (karena margin biaya produksi telah berubah negatif) dan juga sebagai strategi untuk meningkatkan harga.

Namun, Suhala memperingatkan bahwa jika para penambang batubara Indonesia memotong volume produksi terlalu banyak, maka ada ancaman bahaya bahwa pasar mereka akan diambil alih oleh para penambang batubara lainnya.

Harga rata-rata Batubara Acuan (HBA) adalah 60,13 dollar AS per ton di setahun penuh 2015, turun 17,2% pada basis year-on-year (y/y) dari 72,62 dollar AS per ton pada tahun 2014, dan hampir setengahnya dari 118,4 dollar AS per ton pada tahun 2011. Namun, Suhala mengkritik HBA yang digunakan Pemerintah dan mengatakan formula untuk menentukan HBA harus direvisi. Saat ini, HBA ditentukan dengan mengambil rata-rata dari empat harga berikut: Indeks Batubara Indonesia (Indonesia Coal Index/ICI), Index Platt59, New Castle Global Coal, dan New Castle Export Index. Masing-masing indeks memiliki kontribusi yang sama (25%) terhadap harga referensi. Namun, karena permintaan batubara dalam negeri di Indonesia diperkirakan meningkat pada tahun 2016, ICI seharusnya tidak diperhitungkan hanya sebagai 25% dari komponen harga HBA tapi mendapatkan porsi yang lebih tinggi.

Namun, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral sudah mengumumkan bahwa lembaga ini akan merevisi formula untuk menentukan HBA. Platt59 Index tidak akan digunakan lagi karena indeks ini tidak memperhitungkan batubara kalori rendah (sementara Indonesia merupakan produsen batubara kalori rendah terbesar di dunia). Selanjutnya, ICI akan menentukan 50 persen dari HBA, sedangkan New Castle Global Coal, dan New Castle Export Index masing-masing akan menyumbangkan 25% dari HBA.

Prospek industri pertambangan batubara di Indonesia pada 2016 lebih positif dibandingkan tahun ini karena permintaan batubara domestik diperkirakan akan meningkat karena pembangkit-pembangkit listrik baru mulai beroperasi. Pembangkit-pembangkit listrik tenaga batubara baru juga akan mulai beroperasi tahun depan di negara-negara lain (Filipina, Malaysia dan India).

Harga Batubara Acuan Indonesia (HBA):

Bulan    2012    2013    2014    2015
Januari   109.29    87.55    81.90    63.84
Februari   111.58    88.35    80.44    62.92
Maret   112.87    90.09    77.01    67.76
April   105.61    88.56    74.81    64.48
Mei   102.12    85.33    73.60    61.08
Juni    96.65    84.87    73.64    59.59
Juli    87.56    81.69    72.45    59.16
Augustus    84.65    76.70    70.29    59.14
September    86.21    76.89    69.69    58.21
Oktober    86.04    76.61    67.26    57.39
November    81.44    78.13    65.70    54.43
Desember    81.75    80.31    69.23    53.51

dalam USD/ton
Sumber: Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral

Produksi, Ekspor, Konsumsi dan Harga Batubara Indonesia:

  2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015¹
Produksi
(dalam juta ton)
 217  240  254  275  353  412  474  458  425
Ekspor
(dalam juta ton)
 163  191  198  210  287  345  402  382
Domestik
(dalam juta ton)
  61   49   56   65   66   67   72   76
Harga (HBA)
(dalam USD/ton)
  n.a   n.a  70.7  91.7 118.4  95.5  82.9  72.6  60.1

¹ menunjukkan prognosis
Sumber: Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI)

Lanjut Baca:

Overview & Analysis of Indonesia's Coal Industry

Bahas