Karena kekacauan di zona euro kini telah mereda, perhatian berbalik kepada kebijakan moneter Federal Reserve Amerika Serikat (AS). Minggu lalu Ketua Federal Reserve Janet Yellen mengatakan bahwa dia memprediksi kenaikan suku bunga AS di kemudian hari di tahun ini dan karenanya dollar AS saat ini mengalami momentum bullish. Pasar akan bersemangat untuk mempelajari berbagai data makroekonomi AS, yang akan dirilis minggu ini, seperti output industri, dimulainya pembangunan perumahan, inflasi dan sentimen konsumen. Bila hasilnya positif, mungkin akan ada kenaikan suku bunga pada bulan September.

Dollar AS yang kuat adalah alasan mengapa rupiah melemah hari ini. Pada pukul 12:00 Waktu Indonesia Barat (WIB), mata uang Indonesia telah melemah 0,20% menjadi Rp 13.324 per dollar AS menurut Bloomberg Dollar Index.

Nilai tukar rupiah yang menjadi acuan Bank Indonesia (Jakarta Interbank Spot Dollar Rate, disingkat JISDOR) melemah 0,08% menjadi Rp 13.320 per dollar AS pada hari Selasa (14/07).

Rupiah Indonesia versus Dollar AS (JISDOR):

| Source: Bank Indonesia

Perhatian juga masih ditujukan pada Republik Rakyat Tiongkok (RRT). Shanghai Composite Index telah jatuh 30% dari puncaknya di pertengahan Juni karena kekuatiran mengenai gelembung aset. Meskipun begitu, setelah pemerintah Cina mengimplementasikan berbagai tindakan (penakapan polisi terhadap pelaku short-selling dan juga larangan pada para pemegang saham besar dan eksekutif-eksekutif perusahaan untuk menjual saham selama periode 6 bulan) kepercayaan kepada saham RRT telah agak pulih (namun perdagangan masih sangat tidak stabil di RRT).

Bank-bank, pasar obligasi dan saham di Indonesia akan tutup mulai hari Kamis (16/07) sampai dengan hari Selasa (21/07) karena libur umum (Idul Fitri).

Bahas