Fenomena El Nino merujuk pada kenaikan suhu air laut secara periodik di lepas pantai Amerika Selatan yang dapat menyebabkan perubahan-perubahan iklim di seluruh Lautan Pasifik. Fenomena ini terjadi rata-rata sekali dalam tiap lima tahun. El Nino kadang terjadi tanpa disadari, namun dalam situasi lain dapat pula menyebabkan kekeringan besar atau banjir di berbagai bagian dunia. Asia Tenggara biasanya menderita kekeringan akibat El Nino yang menyebabkan turunnya jumlah panen komoditi agrikultur dan kebakaran hutan. Penurunan jumlah panen menyebabkan kenaikan harga di negara-negara seperti Indonesia dan menyebabkan tingkat kemiskinan yang lebih tinggi karena sebagian besar dari populasi Indonesia diklasifikasikan ‘mendekati kemiskinan’.

Rata-rata sekali setiap dua puluh tahun, dampak El Nino sangat besar. El Nino dengan dampak sangat besar terakhir kali terjadi di periode 1997-1998 dan menyebabkan kematian sekitar 2000 orang dan juga kerusakan senilai puluhan miliar dollar AS di seluruh dunia. Tahun yang lalu banyak institusi memprediksi akan terjadi El Nino berdampak besar di 2014. Meskipun, hal ini ternyata hanya alarm palsu, Indonesia memang mengalami musim hujan yang lambat pada akhir 2014. Musim hujan yang lambat ini membatasi produksi beras Indonesia dan menyebabkan kenaikan inflasi.

Hasil produksi agrikultur Indonesia yang mungkin terpengaruh termasuk beras, minyak sawit, kopi, jagung dan singkong. Beras adalah komoditi utama untuk Indonesia karena ini adalah makanan pokok untuk hampir semua rumah tangga Indonesia dan hasil produksi beras yang solid penting untuk melawan kemiskinan. Meskipun begitu, bahkan di kondisi optimal, produksi beras domestik nyaris tidak bisa memenuhi permintaan domestik. Departemen Agrikultur Amerika Serikat (AS) memprediksi bahwa Indonesia perlu mengimpor paling sedikit 1,5 juta ton beras di 2015 karena tidak ada solusi jangka pendek lainnya. Meskipun begitu, karena melemahnya rupiah ini mungkin akan menyebabkan inflasi impor.

Sementara itu, Asosiasi Eksportir dan Industri Kopi Indonesia (AEKI) memperkirakan bahwa hasil produksi kopi Indonesia akan berada antara 600.000 sampai 650.000 ton di 2015, lebih rendah dari proyeksi awal AEKI antara 650.000 sampai 700.000 ton dan di bawah realisasi produksi di tahun lalu yaitu 711.513 ton. Analis-analis maupun grup-grup industri lain memprediksi bahwa fenomena El Nino akan mengurangi proyeksi AEKI sebanyak sekitar 50.000 ton. Indonesia adalah produsen biji robusta terbesar ketiga di dunia dan menurut sebuah laporan dari HSBC kopi robusta sangat rentan terhadap kurangnya curah hujan. Di Vietnam, penumbuh biji robusta terbesar di dunia, musim kemarau telah memicu kekuatiran mengenai hasil produksi kopi karena cuaca diprediksi akan semakin kering di Juni dan Juli.

Bahas