Akhir pekan lalu, bank sentral Indonesia (Bank Indonesia) melaporkan bahwa neraca pembayaran Indonesia surplus USD $2.4 milyar pada kuartal keempat 2014, didukung oleh surplus transaksi modal dan finansial sebesar USD $7.8 milyar, dan yang melebihi defisit transaksi berjalan yang sebesar USD $6.2 milyar (sama dengan 2.81 persen dari produk domestik bruto/PDB). Kalau tahun penuh 2014, defisit transaksi berjalan Indonesia membaik menjadi USD $26.2 milyar, setara dengan 2.95 persen dari PDB, dibanding defisit (yang telah direvisi) USD $29.1 milyar (atau 3.18 persen dari PDB) pada tahun sebelumnya. Para investor menyambut baik perbaikan neraca transaksi berjalan karena defisit ini membuat Indonesia rentan terhadap capital outflow.

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan bahwa Indonesia membukukan surplus perdagangan USD $709.4 juta pada bulan Januari 2015. Meskipun surplus ini adalah hal positif, penurunan tajam baik impor (-15.6 persen t/t) maupun ekspor (-8.09 persen t/t) adalah hal mengkhawatirkan karena menunjukkan bahwa permintaan global untuk produk Indonesia (khususnya komoditas) terus melemah sedangkan penurunan impor menunjukkan melemahnya permintaan domestik di Indonesia. Ini kemungkinan tanda bahwa kegiatan ekonomi dalam perekonomian terbesar di Asia Tenggara terus melambat. Pertumbuhan PDB Indonesia pada tahun 2014 5.02 persen (t/t), level yang paling lambat selama lima tahun.

Pada hari Senin (16/02), Kementerian Keuangan Indonesia menjual obligasi konvensional senilai Rp 12 triliun, sejalan dengan target indikatif, dengan jumlah penawaran yang masuk sebesar Rp 36.1 triliun (tapi lebih rendah dari Rp 40.2 triliun yang dijual pada tanggal 3 Februari 2015). Rasio bid-to-cover yang tertinggi di lelang obligasi hari ini adalah 4.51 untuk 1-year T-bills (yang memiliki yield rata-rata tertimbang 6.24200 persen, lebih tinggi dari 6.20538 persen pada lelang sebelumnya). Permintaan untuk obligasi Indonesia menunjukkan bahwa investor tetap percaya pada kuatnya fundamen pasar utang di Indonesia.

Mengenai 'soal default Yunani' atau 'Grexit', telah muncul optimisme bahwa pemerintah (sayap kiri) baru Yunani dan krediturnya berbagi kemauan untuk berkompromi sebelum berakhirnya paket bailout Yunani (pada akhir Februari). Namun, masih ada banyak skeptis yang percaya keluarnya Yunani dari euro tidak bisa dihindari. Hari ini (Senin 16/02), para menteri keuangan di zona euro bertemu lagi untuk membahas masalah tersebut.

Sementara itu, dolar AS melemah setelah rilis penjualan ritel AS bulan Januari. Penjualan ritel secara keseluruhan di ekonomi terbesar dunia turun 0.8 persen pada Januari 2015, tergelincir untuk bulan kedua berturut-turut. Penurunan ini dikaitkan dengan penurunan harga bensin dan perlambatan penjualan mobil. Penjualan ritel mengecewakan ini menunjukkan bahwa ekonomi AS mulai kurang bergairah dari yang diharapkan pada awal tahun 2015. Hal ini juga menyebabkan ekspektasi bahwa Federal Reserve AS tidak akan memutuskan untuk menaikkan suku bunga acuan segera dan oleh sebab itu selera investor untuk aset lukratif (tapi lebih berisiko) di negara berkembang meningkat hari ini.

Patokan nilai tukar rupiah Bank Indonesia (Jakarta Interbank Spot Dollar Rate, yang disingkat JISDOR) terapresiasi 0.21 persen menjadi Rp 12,742 per dolar AS pada hari Senin (16/02).

| Source: Bank Indonesia


Pasar juga akan tertarik untuk mempelajari hasil dari Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia yang dijadwalkan pada hari Selasa (17/02). Namun, Bank Indonesia diperkirakan tidak akan mengubah kebijakan suku bunga walaupun inflasi telah turun menjadi 6.96 persen (t/t) pada bulan Januari 2015 dari 8.36 persen (t/t) pada bulan sebelumnya. Saat ini, suku bunga acuan bank sentral (BI rate) pada level 7.75 persen. Seandainya BI rate turun itu akan memicu percepatan pertumbuhan ekonomi (karena meningkatnya konsumsi domestik), namun BI rate yang turun juga akan mengakibatkan lebih banyak impor maka mengakibatkan defisit transaksi berjalan melebar dan dengan demikian menempatkan tekanan tambahan pada nilai tukar rupiah.

Pekan lalu, Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo mengatakan bahwa kinerja rupiah sekarang terutama tergantung pada faktor-faktor eksternal, dan tidak terlalu tergantung pada faktor-faktor domestik. Dengan ekonomi AS secara umum menunjukkan perbaikan struktural selama tahun lalu, investor cenderung mulai mengurangi portofolio investasi di pasar negara-negara berkembang. Dengan demikian, Indonesia akan melihat arus keluar modal menjelang kenaikan suku bunga di AS tahun ini.

Sementara itu, perusahaan keuangan yang berbasis di London Barclays merilis sebuah laporan pekan lalu di mana disebutkan bahwa rupiah akan turun ke level 13,250 per dolar AS pada akhir tahun ini (sebuah tingkat yang tidak terlihat sejak tahun 1998 waktu krisis keuangan Asia telah mengguncang Indonesia). Dalam sebuah langkah untuk membatasi arus keluar modal dari Indonesia, Barclays memperkirakan bahwa Bank Indonesia akan menaikkan BI rate sebesar 25 basis poin menjadi 8 persen pada akhir tahun ini.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun 0.91 persen menjadi 5,325.50 poin pada Senin (16/02) karena profit taking setelah indeks mencapai rekor tertinggi dalam sejarah pada hari Jumat (13/02).

Bahas