Dia menjelaskan Indonesia tidak bisa memaksa pertumbuhan supaya bisa di atas 5.3 persen karena  sumbangan dari belanja pemerintah dan ekspor belum akan siginifkan pada tahun ini. Kondisi tersebut membuat pertumbuhan ekonomi kuartal I dan II/2014 hanya di level 5.22 persen dan 5.12 persen.

Indonesia's Quarterly GDP Growth 2009–2014 (annual % change):

 Year    Quarter I
   Quarter II    Quarter III    Quarter IV
 2014        5.22        5.12    
 2013        6.03        5.89         5.62         5.78
 2012        6.29        6.36         6.16         6.11
 2011        6.45        6.52         6.49         6.50
 2010        5.99        6.29         5.81         6.81
 2009        4.60         4.37         4.31         4.58

Source: Statistics Indonesia (BPS)

Gross Domestic Product of Indonesia 2006-2013:

    2006   2007   2008   2009   2010   2011   2012   2013
GDP
(in billion USD)
 285.9  364.6  432.1  510.2  539.4  706.6  846.8  878.0
GDP
(annual percent change)
   5.5    6.3    6.1    4.6    6.1    6.5    6.2    5.8
GDP per Capita
(in USD)
 1,643  1,923  2,244  2,345  2,984  3,467  3,546  3,468

Sources: World Bank, International Monetary Fund (IMF) and Statistics Indonesia (BPS)

Sebagai informasi, pada kuartal I/2014, belanja pemerintah hanya tumbuh negatif (0.7 persen) jauh lebih rendah dibandingkan kuartal II/2013 yakni 2.2 persen. Sementara itu, ekspor pada kuartal II/2014 hanya tumbuh negatif (1.0 persen) sementara pada kuartal II/2013 bisa 4.8 persen.

Namun, Bambang berharap ekspor akan sedikit membaik di semester II sehingga bisa mendorong pertumbuhan ekonomi. Terlebih, mulai Agustus, diperkirakan sudah ada beberapa perusahaan seperti PT Freeport Indonesia yang mengekspor mineral konsentrat. Nilai ekspor pun bisa terdongkrak.  Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), nilai ekspor semester I/2014 hanya menembus USD $88.83 miliar atau turun 2.46 persen dibandingkan semester I/2013.

“Mudah-mudahan di semester II akan rebound ekspornya dengan mulainya ekspor tambang jadi mudah-mudahan bisa kembali ke surplus,” papar Bambang.

Merujuk pada data BPS, pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam empat tahun terakhir hampir selalu meleset dari target, kecuali di tahun 2010 di mana pertumbuhan ekonomi justru jauh di atas targetnya. Dalam setahun terakhir, Indonesia bahkan kesulitan mengejar pertumbuhan di atas 6 persen. Melemahnya investasi serta ekspor menjadi salah satu penyebabnya. Investasi melambat karena keputusan pemerintah dan Bank Indonesia untuk menstabilkan defisit transaksi berjalan. Upaya tersebut salah satunya adalah dengan menaikkan suku bunga acuan menghambat pertumbuhan investasi. Sementara itu, ekspor anjlok karena pemberlakua larangan ekspor mineral mentah per 12 Januari 2014 menyusul diberlakukannya UU No.4 Tahun 2009 Mengenai Minerba. Padahal, ekspor mineral mentah merupakan komoditas andalan Indonesia.

Bahas