Halaman ini sedang di-update. Kami minta maaf untuk ketidaknyamanan (11.05.2020)

Ringkasan dan Fokus Analisis

Setelah Krisis Finansial Asia, di periode 2000-2004, pemulihan ekonomi Indonesia terjadi dengan rata-rata pertumbuhan PDB pada 4.6 persen per tahun. Setelah itu, pertumbuhan PDB sempat berakselerasi (dengan pengecualian pada tahun 2009 waktu, akibat guncangan dan ketidakjelasan finansial global, terjadinya arus modal keluar dari Indonesia maka pertumbuhan PDB Indonesia jatuh menjadi 4.6 persen - sebuah angka yang sebenarnya masih mengagumkan). Periode pemulihan dan percepatan pertumbuhan ekonomi yang mengesankan antara tahun 2000 dan 2011 itu terutama disebabkan oleh hal yang saling terkait: (1) meningkatnya konsumsi rumah tangga (di tengah menguatnya PDB per kapita serta meningkatnya daya beli konsumen) dan (2) ledakan harga komoditas pada tahun 2000-an (2000s commodities boom). 

Bahkan, ada korelasi kuat antara perubahan harga komoditas dan perubahan tren konsumsi rumah tangga di Indonesia: ketika harga komoditas tinggi, konsumsi rumah tangga naik. Namun, ketika harga komoditas rendah secara struktural, maka konsumsi mengalami cegukan. Dan mempertimbangkan bahwa konsumsi rumah tangga menyumbang sekitar 55-58 persen terhadap total pertumbuhan ekonomi Indonesia, maka fluktuasi harga-harga komoditas itu memiliki dampak langsung dan signifikan terhadap PDB Indonesia.

Namun, walaupun sempat mengakselerasi pemulihan ekonomi Indonesia dari dampak Krisis Finansial Asia, era boom komoditas pada tahun 2000-an itu juga bisa dianggap sebagai sebuah peluang yang terlewatkan karena pemerintah Indonesia gagal mengurangi ketergantungan negaranya terhadap ekspor komoditas (yang mentah). Maka, ketika harga komoditas merosot setelah 2011 ekspansi ekonomi Indonesia mulai ikut melambat. Antara tahun 2011 dan 2015 suatu periode perlambatan pertumbuhan ekonomi terjadi, dengan pertumbuhan PDB turun di bawah 5.0 persen (tahun-ke-tahun); sebuah perlambatan yang memprihatinkan.

Walau kebanyakan negara pasti tetap iri dengan laju pertumbuhan pada level 5 persen, kekhawatirannya dalam kasus Indonesia adalah bahwa pertumbuhan di bawah 5 persen, per tahun, gagal menghasilkan peluang kerja yang memadai untuk tenaga kerjanya yang sangat banyak di Indonesia. Selain itu, Indonesia diperkirakan akan mengalami kesulitan menghindari jebakan pendapatan menengah jika gagal mengamankan percepatan pertumbuhan ekonomi yang (makin) di atas 5 persen.

Analisis ini mendiskusikan performa perekonomian Indonesia, negara dengan perekonomian terbesar di Asia Tengagra, sejak akhirnya era boom komoditas. Topik-topiknya dibagi dalam kategori berikut:

(1) perlambatan perekonomian yang terjadi di periode 2010-2015 setelah akhirnya era boom komoditas;
(2) periode proses akselerasi pertumbuhan ekonomi (yang sederhana) yang terjadi di periode 2015-2019, dan;
(3) terjunnya pertumbuhan ekonomi akibat krisis global koronavirus (COVID-19).

Untuk membaca analisis pertumbuhan ekonomi Indonesia pada Pemerintahan Orde Baru atau analisis penyebab dan akibat Krisis Finansial Asia, silakan klik tautan-tautan di atas.


Bab-Bab Dalam Sejarah Ekonomi Indonesia:

Tahun Rata-Rata Pertumbuhan PDB (%) Periode
1967 – 1997                         6.85 Orde Baru Suharto
1998 – 1999                        -6.65 Krisis Finansial Asia
2000 – 2004                         4.60 Pemulihan
2005 – 2011                         5.80 2000s Boom Komoditas
2011 – 2015                         5.53 Pertumbuhan Ekonomi yang Melambat
2015 – 2019                         5.03 Akselerasi Pertumbuhan Ekonomi yang sederhana
2020 – Krisis COVID-19


Statistik Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia:

    2014   2015   2016   2017   2018   2019   2020
PDB
(dalam milyar USD)
 890.8  860.9  931.9 1,015.0 1,042.2
PDB
(perubahan % tahunan)
  5.01   4.88   5.03   5.07   5.17   5.02
PDB per Kapita
(dalam USD)
 3,532  3,370  3,602  3,877  3,932

 

   2007  2008  2009  2010  2011  2012  2013
PDB
(dalam milyar USD)
432.2 510.2 539.6 755.1 893.0 917.9 912.5
PDB
(perubahan % tahunan)
 6.35  6.01  4.63  6.22  6.17  6.03  5.56
PDB per Kapita
(dalam USD)
1,861 2,168 2,261 3,122 3,688 3,741 3,668

The base year for computing the economic growth rate shifted from 2000 to 2010 in 2014, previous years have been recalculated
Sumber: Bank Dunia

Tampak di tabel di atas bahwa penurunan perekonomian global yang disebabkan oleh krisis finansial global di akhir 2000-an memiliki dampak yang relatif kecil pada perekonomian Indonesia (dibandingkan dengan dampak yang dialami negara-negara lain). Pada tahun 2009, pertumbuhan PDB Indonesia turun menjadi +4.6 persen, yang berarti bahwa level pertumbuhan PDB Indonesia malah merupakan salah satu yang terbaik di seluruh dunia (dan memiliki peringkat tertinggi ketiga di antara negara-negara dengan perekonomian besar yang tergabung di dalam grup G20).

Jadi, meskipun terjadi gejolak global yang sangat parah (yang menyebabkan terjunnya perdagangan dan investasi global), ekonomi Indonesia masih sempat tumbuh pada level yang mengagumkan pada tahun 2009. Apa kunci keberhasilan ini?

Pertama, satu hal yang sangat penting adalah bahwa Indonesia tidak hanya menjadi rumah halaman bagi populasi yang sangat besar (terbesar keempat di dunia) tetapi juga rumah halaman bagi populasi yang PDB per kapitanya dan daya belinya meningkat tajam sepanjang tahun 2000-an karena era boom komoditas. Akibatnya, konsumsi rumah tangga sekarang memberikan kontribusi yang signifikan (sekitar 55-58 persen) terhadap total pertumbuhan ekonomi Indonesia. Era boom komoditas pada tahun 2000-an itu secara serius membantu mengubah populasi Indonesia menjadi kekuatan konsumen yang mengesankan (terutama berkat kelas menengah yang bertambah banyak). Dengan demikian konsumsi rumah tangga merupakan sebuah 'alas' bagi perekonomian Indonesia pada tahun 2009 yang memungkinkan pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi saat situasi global berubah masam.


Kedua, dan ini adalah salah satu kelemahan struktural di ekonomi Indonesia, kinerja ekspor dan impornya hanya merupakan porsi yang relatif kecil dari total ekonomi Indonesia. Rasio perdagangan-terhadap-PDB Indonesia sebenarnya sangat rendah, sekitar 40 persen (jauh di bawah rasio rata-rata dunia yang berkisar 55-60 persen). Rasio rendah ini menunjukkan bahwa Indonesia tidak terintegrasi dengan baik di dalam rantai pasokan dan rantai nilai global. Ini adalah situasi yang menyiratkan bahwa ada peluang yang terlewatkan (missed opportunities) dalam hal investasi (khususnya investasi asing yang cenderung membawa teknologi baru ke Nusantara), dalam hal menghasilkan pekerjaan baru, dan - lebih umum - dalam hal pertumbuhan ekonomi dan sosial.

Satu-satunya keuntungan kalau memiliki rasio perdagangan-terhadap-PDB yang rendah adalah negaranya tidak terlalu terpengaruhi oleh terjunnya dalam perdagangan internasional seperti yang terjadi pada tahun 2009 atau dalam konteks perang tarif Amerika Serikat-Cina yang dimulai pada tahun 2018.


Kelas Menengah Indonesia - Motor Pertumbuhan Ekonomi

Pada tahun 2010, Bank Dunia melaporkan bahwa karena suburnya pertumbuhan ekonomi Indonesia (berkat boom komoditas), setiap tahunnya sekitar tujuh juta penduduk Indonesia masuk ke dalam kelas menengah. Meskipun pertumbuhan penduduk kelas menengah sekarang sudah tidak secepat itu, Indonesia masih tetap memiliki kekuatan konsumen yang mendorong perekonomian dan telah secara signifikan memicu pertumbuhan investasi domestik dan asing sejak 2010. Yang jelas, banyak investor pasti ingin berinvestasi di sebuah negara yang memiliki populasi 270 juta orang dan yang diberkati dengan PDB per kapita yang terus naik dengan kuat sehingga merupakan pasar yang sangat menjanjikan untuk menjual macam-macam produk dan layanan, terutama di pulau Jawa yang berpenduduk padat.

Menentukan jumlah orang Indonesia yang tergolong kelas menengah adalah soal definisi. Pada awal 2020 Bank Dunia mencatat bahwa sekitar 52 juta orang Indonesia masuk dalam kategori kelas menengah (yaitu sekitar 20 persen dari populasi Indonesia).

Namun, perusahaan riset lain, seperti Boston Consulting Group (BCG), McKinsey, dan Oxford Business Group, menetapkan batas pendapatan yang lebih rendah dan dengan demikian jumlah orang Indonesia berstatus kelas menengah menjadi lebih banyak hampir dua kali lipat ditimbang kalkulasi Bank Dunia. Tetapi semua lembaga tersebut setuju bahwa kelas menengah Indonesia akan terus tumbuh dengan cepat, dan peningkatan ini merupakan potensi besar untuk pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Kelas menengah Indonesia telah menjadi salah satu pendorong utama pertumbuhan ekonomi karena konsumsi kelompok ini telah tumbuh sebesar 12 persen per tahun sejak tahun 2002 dan sekarang mewakili hampir setengah dari seluruh konsumsi rumah tangga di Indonesia.


Pertumbuhan Ekonomi Yang Melambat (2011-2015)

Walaupun Indonesia mengalami pertumbuhan ekonomi yang kuat selama 2010-2012 setelah krisis global selesai pada akhir tahun 2009-an, tingkat pertumbuhannya sebenarnya sudah mulai melambat sejak 2011. Ada beberapa faktor yang menjelaskan perlambatan itu:


Pertumbuhan Ekonomi Global yang Lambat: Fokus pada Cina/Republik Rakyat Tiongkok (RRT)

Setelah rebound yang kuat pada tahun 2010 (dari resesi global yang melanda 2007-2009), laju pertumbuhan ekonomi global melambat kemudian menjadi stabil di kisaran 3.5 persen tahun-ke-tahun di antara tahun 2012 dan 2016.

Terutama ekonomi Cina yang melambat dengan parah yang menyebabkan kekhawatiran tentang pertumbuhan ekonomi global. Cina, yang melampaui Jepang sebagai ekonomi terbesar kedua di dunia pada tahun 2010, telah menjadi motor terpenting pertumbuhan ekonomi dunia pada tahun 2000-an dan awal 2010-an (dengan angka pertumbuhan PDB tahunan di atas 10 persen). Namun, pada tahun 2010-an Cina mulai menggantikan model pertumbuhan ekonominya (yang sebelumnya mengandalkan investasi dan ekspor) dengan model ekonomi yang mengandalkan konsumsi swasta, layanan, dan inovasi. Ini sebuah proses yang membutuhkan waktu lama sebelum tercapai.

Alasan pergeseran ini adalah bahwa reformasi seperti itu diperlukan agar Cina menghindari middle-income trap atau jebakan pendapatan menengah (ini adalah jebakan yang dapat terjadi ketika negaranya mencapai tingkat ekonomi tertentu tetapi mulai mengalami penurunan tajam dalam hal tingkat pertumbuhan ekonomi karena tidak dapat mengadopsi sumber-sumber baru pertumbuhan ekonomi, seperti inovasi).

Sementara itu, populasi yang menua dengan cepat, tingkat kelahiran yang menurun, Federal Reserve AS yang semakin mengetatkan kebijakan moneternya, dan ekonomi global yang melambat juga ikut mengerem ekonomi Cina. Selain itu, ekonomi Cina juga dipengaruhi oleh regulasi keras terhadap utang dan jenis pinjaman yang berisiko, yang kemudian memicu pelambatan tajam dalam tingkat investasi di Cina.

Akibatnya, tingkat pertumbuhan ekonomi Cina turun drastis, dan menyeret turun pertumbuhan ekonomi dunia. Pada tahun 2019, ekonomi Cina malah tumbuh pada kecepatan 6.1 persen (tahun-ke-tahun), level terendah dalam waktu 30 tahun (tetapi level ini dinilai menjadi 'normal baru'). Menurunnya ekspansi perekonomian di Cina segera memberikan dampak pada Indonesia karena kedua negara adalah mitra dagang yang penting (Cina berkontribusi hampir sepersepuluh dari total ekspor Indonesia). Diperkirakan bahwa untuk setiap penurunan 1 persen dari pertumbuhan PDB Cina, ekspansi perekonomian Indonesia berkurang 0.3 persen.

Sebagai ekonomi terbesar kedua di dunia (setelah Amerika Serikat) dan importir penting komoditas, melemahnya pertumbuhan ekonomi di Cina menyebabkan penurunan tajam dalam hal permintaan komoditas, dan dengan demikian anjloknya harga komoditas.


Menurunnya Harga-Harga Komoditas

Boom komoditas pada tahun 2000-an, yaitu periode ketika harga-harga komoditas meningkat dengan cepat (karena permintaan yang naik tajam di beberapa pasar negara berkembang, terutama Cina), adalah waktu yang sangat menguntungkan bagi Indonesia karena Indonesia memiliki banyak persediaan minyak kelapa sawit (CPO), batubara, gas, dan tembaga. Boom komoditas tahun 2000-an itu membantu mempercepat pemulihan Indonesia dari Krisis Keuangan Asia.

Namun, perlambatan ekonomi global pada 2011-2015 (dan khususnya perlambatan ekonomi Cina) mengakibatkan harga komoditas jatuh ke posisi rendah. Tabel di bawah ini menunjukkan penurunan tajam dalam harga komoditas di antara awal tahun 2011 dan akhir 2015.

Sebagai negara eksportir komoditas yang besar (dan kekurangan industri hilir maka komoditasnya seringkali diekspor dalam bentuk mentah), kinerja ekspor Indonesia sangat terpengaruhi saat harga komoditas (seperti batubara dan minyak sawit mentah) rendah. Dan bukan hanya kinerja ekspor, namun juga pertumbuhan ekonomi yang kena karena fluktuasi harga komoditas: saat harga komoditas cenderung turun, pertumbuhan ekonomi Indonesia terganggu, melainkan saat harga komoditas cenderung naik, ekonomi Indonesia ada peluang untuk mempercepat laju pertumbuhannya.

Rendahnya harga-harga komoditas setelah tahun 2011 tidak hanya disebabkan oleh permintaan global yang rendah namun juga karena kelebihan suplai. Pada era boom komoditas di tahun 2000-an dan juga setelah selesainya resesi global yang besar yang terjadi di akhir 2000-an, institusi-institusi seperti Bank Dunia dan International Monetary Fund (IMF) menerbitkan proyeksi pertumbuhan global yang jauh terlalu optimis, maka banyak perusahaan masuk ke dalam sektor komoditas - atau perusahaan-perusahaan komoditi yang dari dulu aktif berinvestasi kembali untuk meningkatkan kapasitas produksi - dan menyebabkan timbunan suplai sehingga menekan turun harga komoditas pada paruh pertama tahun 2010-an.

Commodities Index:


Tingkat Suku Bunga Bank Indonesia yang Tinggi

Tingkat suku bunga yang tinggi membatasi pertumbuhan kredit dan karenanya mengurangi pertumbuhan ekonomi. Sejak pertengahan tahun 2013, bank sentral Indonesia (Bank Indonesia) meningkatkan suku bunga acuannya (BI rate) dari level terendah dalam sejarah pada 5.75 persen kemudian secara bertahap, namun agresif, naik menjadi 7.75 persen pada akhir tahun 2014. Bank Indonesia mengetatkan kebijakan moneternya dalam rangka melawan inflasi yang tinggi (yang meningkat tajam setelah beberapa reformasi subsidi bahan bakar minyak), mengurangi defisit transaksi berjalan yang lebar, dan mendukung rupiah yang dibebani oleh tekanan-tekanan berat mulai tengah 2013 karena pengetatan kebijakan moneter di Amerika Serikat (AS).

Arus modal keluar (capital outflows) besar-besaran dari negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, terjadi hampir sepanjang tahun 2013 karena ancaman penurunan program pembelian obligasi senilai 85 miliar dollar AS setiap bulannya (quantitative easing AS). Pada tahun 2015, capital outflows dari negara-negara berkembang muncul kembali karena dunia sedang bersiap-siap untuk suku bunga AS (Fed Funds Rate) yang lebih tinggi.

Benchmark Interest Rate Indonesia:

Perpolitikan di Indonesia

Tahun 2014 adalah ‘tahun politik’ untuk Indonesia karena adanya pemilu legislatif dan presiden. Pemilu presiden ini menjadi pertarungan antara Joko Widodo yang didukung PDI-P (calon favorit para investor karena Widodo bersifat reform-minded) dan Prabowo Subianto yang didukung Gerindra (mantan jenderal angkatan bersenjata yang kontroversial dan juga mantan menantu Suharto). Meskipun pemilu ini diprediksi akan memberikan kemenangan yang mudah untuk Widodo, pemilu ternyata berubah menjadi pertarungan sengit (bahkan akhirnya membutuhkan keputusan Mahkamah Konstitusi untuk mengkonfirmasi hasil dari Pemilihan presiden). Selama sekitar lima bulan pada tahun 2014 Indonesia dilanda oleh ketidakjelasan politik akibat pemilu. Dengan demikian investasi di Indonesia dan ekspansi ekonomi negara tersebut ikut melambat.

Karena Indonesia adalah negara demokrasi yang muda, mempunyai masyarakat yang sangat majemuk, dan mempunyai banyak swing voters (yaitu orang yang tidak setia pada satu partai politik melainkan cenderung memilih partai lain di pemilu yang berikut) hasil pemilu bisa saja jadi kejutan. Oleh karena itu, pemilihan di Indonesia selalu menimbulkan tingkat ketidakpastian yang tinggi dan jika ada satu hal yang dibenci investor itu ketidakpastian.

Ketidakpastian hukum atau ketidakpastian mengenai kebijakan (ekonomi) pemerintah juga merupakan salah satu hambatan utama karena membuat investor berpikir dua kali sebelum memutuskan untuk berinvestasi di Indonesia (lihat juga bagian Risiko). Misalnya, sejalan dengan UU Pertambangan 2009, Indonesia mengimplementasikan larangan ekspor biji-biji mineral pada Januari 2014. Meskipun larangan ini tidak segera dilaksanakan sepenuhnya (beberapa penambang bisa melanjutkan ekspor biji-biji mineral bila mereka berkomitmen untuk mendirikan fasilitas-fasilitas smelter domestik dan membayar pajak dan royalti yang lebih tinggi) dan walau tujuan kebijakan baru ini baik (yaitu mengurangi ketergantungan Indonesia pada harga-harga komoditas yang sangat tidak stabil), hal ini juga menyebabkan pengurangan performa ekspor serta kekhawatiran tinggi tentang kepastian hukum (karena dengan tiba-tiba mengubah peraturan, pemerintah sebenarnya melanggar banyak kontrak).

Isu politik lain yang menghambat ekspansi perekonomian Indonesia adalah belanja Pemerintah yang lambat. Karena halangan pita merah (birokrasi berlebihan), korupsi, dan koordinasi yang lemah antar institusi pemerintahan (baik di level pusat maupun regional), belanja Pemerintah tetap kurang optimal.


Pertumbuhan Konsumsi Rumah Tangga Yang Mandek

Sementara itu, pertumbuhan konsumsi rumah tangga di Indonesia jadi mandek setelah tumbuh cepat pada tahun 2000-an. Dengan mempertimbangkan bahwa konsumsi rumah tangga menyumbang sekitar 55-58 persen ke total pertumbuhan ekonomi Indonesia, pertumbuhan konsumsi rumah tangga yang mandek (di sekitar 5.0 persen) sangat mengurangi ruang bagi akselerasi pertumbuhan ekonomi.

Penyebab di balik tren ini sebuah misteri yang membingungkan para analis serta pembuat kebijakan. Namun, mengingat bahwa dana pihak ketiga di sektor perbankan Indonesia tetap meningkat dalam periode yang sama, bisa saja bahwa daya beli konsumen sebenarnya tidak melemah, melainkan konsumen Indonesia lebih memilih untuk menghemat dana (dengan menyimpannya di tabungan bank) daripada membelanjakannya. Ada yang berpendapat bahwa ini menunjukkan perubahan struktural: generasi muda (para millennials) lebih sadar akan pentingnya menyimpan dana di rekening bank, sementara generasi tua masyarakat Indonesia kurang memiliki kesadaran semacam itu. Dan seiring dengan berjalannya waktu, peran generasi muda itu semakin besar di dalam ekonomi Indonesia, maka perubahan dalam perilaku dan pola pembelanjaan makin dirasakan.

Namun, kami juga mau mengingatkan bahwa akhir ledakan komoditas pada tahun 2011 jadi mengerem pertumbuhan PDB per kapita Indonesia, maka masuk akal bahwa pertumbuhan konsumsi rumah tangga tidak dapat berlanjut dengan kecepatan yang sama.

Pertumbuhan Konsumsi Rumah Tangga di Indonesia 2010-2015:

2010 2011 2012 2013
2014 2015
Pertumbuhan
(perubahan % tahunan)
 5.00  4.70  5.28  5.43  5.16  4.96

Sumber: Badan Pusat Statistik (BPS)

Pertumbuhan Ekonomi Yang Berakselerasi dengan Lambat (2015-2019)

Ekonomi Indonesia terus kena dampak negatif dari perlambatan pertumbuhan ekonomi di Tiongkok dan perlambatan pertumbuhan ekonomi global pada periode 2015-2019. Dan, sebagai konsekuensi dari pertumbuhan yang lambat di seluruh dunia (dan khususnya di China), harga komoditas terus menunjukkan tren menurun. Ini adalah konteks yang sangat sulit bagi pemerintahan Joko Widodo, yang dilantik pada akhir 2014, untuk mencapai percepatan pertumbuhan ekonomi. Dan, sayangnya, banyak orang Indonesia memiliki harapan tinggi untuk pertumbuhan yang cepat, terutama karena Presiden Widodo telah berjanji (selama kampanye presidennya) untuk membawa Indonesia kembali ke tingkat pertumbuhan ekonomi tahunan sebesar 7 persen.

Pada Desember 2015 Bank Sentral Amerika Serikat (Federal Reserve) menaikkan suku bunganya untuk pertama kalinya dalam satu dekade (disusul kenaikan suku bunga pada Desember 2016). Namun, karena inflasi Indonesia dan defisit transaksi berjalan membaik ke tingkat yang aman, sedangkan rupiah mulai stabil terhadap dolar AS dari akhir-2015, Bank Indonesia akhirnya bisa melonggarkan kebijakan moneternya. Sepanjang 2016 Bank sentral Indonesia mampu menurunkan suku bunga secara drastis dari level 7,75 persen pada awal 2016 menjadi 4,75 persen pada akhir 2016 (ini juga termasuk perubahan dari BI rate ke BI 7-day Reverse Repo Rate sebagai alat benchmark bank sentral), maka memungkinkan aktivitas ekonomi yang lebih cepat. Namun, per awal 2018 pertumbuhan kredit tetap lemah di Indonesia.

Pertumbuhan PDB Indonesia per Kuartal 2009–2020 (perubahan % tahunan):

Tahun Quarter I
Quarter II Quarter III Quarter IV
2020     2.97
2019     5.07     5.05      5.02      4.97
2018     5.06     5.27      5.17      5.18
2017     5.01     5.01      5.06      5.19
2016     4.92     5.19      5.01      4.94
2015     4.71     4.66      4.74      5.04
2014     5.14     5.03      4.92      5.01
2013     6.03     5.81      5.62      5.72
2012     6.29     6.36      6.17      6.11
2011     6.45     6.52      6.49      6.50
2010     5.99     6.29      5.81      6.81
2009     4.60     4.37      4.31      4.58

Sumber: Badan Pusat Statistik (BPS)

Pertumbuhan Konsumsi Rumah Tangga di Indonesia 2015-2019:

2015 2016 2017 2018 2019
Pertumbuhan
(perubahan % tahunan)
4.96 5.01 4.95 5.05 5.04

Sumber: Badan Pusat Statistik (BPS)

Proyeksi dan Pandangan untuk Pertumbuhan Ekonomi Indonesia

Proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap "positif" dalam arti bahwa sebagian besar - jika tidak semua - lembaga internasional dan domestik yang relevan meramalkan percepatan pertumbuhan ekonomi bagi Indonesia pada tahun-tahun mendatang. Namun, lembaga-lembaga ini sudah tidak sepositif dulu (awal 2010an) waktu pertumbuhan PDB Indonesia diperkirakan segera kembali ke tingkat di atas 6 persen (y/y). Rupanya, pada waktu itu hanya tidak ada pengamat ekonomi yang mengerti bahwa ekonomi global terkena ketidakpastian yang berkepanjangan, maka pertumbuhan ekonomi Indonesia melambat sampai dengan tahun 2016.

Bahkan baru-baru ini, lembaga-lembaga internasional seperti IMF dan Bank Dunia masih tetap terlalu positif tentang laju pertumbuhan ekonomi Indonesia. Misalnya, Bank Dunia dan IMF memprediksi bahwa ekonomi Indonesia bisa tumbuh 5.3 persen (y/y) pada tahun 2017, sedangkan realisasi pertumbuhan pada tahun itu hanya berada di 5,07 persen (y/y).

Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia (perubahan % per tahun):

Lembaga 2017 2018
Pemerintah Indonesia   5.1   5.4
Bank Dunia   5.3   5.2¹
International Monetary Fund (IMF)   5.3   5.3
Asian Development Bank (ADB)   5.1   5.3
Indonesia Investments   5.1   5.2
Realisasi  5.07  5.17

¹ direvisi dari 5.3% pada tanggal 6 Juni 2018
Berbagai sumber

Meskipun kami menganggap ekonomi Indonesia sebagai ekonomi yang sehat dab dengan prospek pertumbuhan yang sangat baik dalam jangka panjang, kami ingin menekankan di sini bahwa tanpa (secara tiba-tiba) melonjaknya harga komoditas dan/atau lonjakan (yang tiba-tiba) dalam konsumsi rumah tangga, akan membutuhkan banyak tahun bagi Indonesia untuk kembali pada tingat pertumbuhan di atas 6 persen (y/y). Jika pertumbuhan tidak dapat terangkat oleh ekspor komoditas dan konsumsi rumah tangga, maka pertumbuhan ekonomi itu perlu berasal dari perubahan struktural, yaitu (1) perkembangan industri manufaktur yang berorientasi ekspor (dan ini akan membutuhkan iklim usaha dan investasi yang kondusif), (2) pembangunan infrastruktur besar-besaran (yang menyebabkan efek multiplier dan mengurangi biaya logistik), dan (3) secara signifikan meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia.

Tentunya, ini adalah hal-hal yang membutuhkan bertahun-tahun atau bahkan dekade sebelum sepenuhnya selesai (dan prosesnya harus didorong dan didukung oleh semua pemerintah yang terbentuk di sepanjang jalan). Oleh karena itu, kami memprediksi bahwa laju pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya akan mengakselerasi sedikit pada tahun-tahun mendatang sebelum berakselerasi lebih cepat setelah tahun 2020.


Poll Indonesia Investments:

According to you at what pace will the Indonesian economy grow in 2020?

Voting possible:  -

Your vote


Pemerintahan Joko Widodo (2014-?) sangat menjanjikan karena telah memotong dengan drastis subsidi energi, dan mengalokasikan dana yang tersedia kepada pembangunan infrastruktur dan sosial. Pemerintahan Jokowi juga merilis serangkaian paket kebijakan ekonomi yang bertujuan untuk menarik investasi serta memperkuat usaha yang sudah ada dan memperkuat daya beli masyarakat. Namun, tidak semua paket itu sukses (bahkan ada yang menambah kebingungan di antara golongan investor, misalnya soal sistem pajak negara).

Pada tahun 2030 Indonesia seharusnya masuk di antara lima ekonomi terbesar dunia (setelah Cina, AS, India, dan Jepang). Sebuah tanda yang menjanjikan adalah bahwa pada 2017 Indonesia menjadi anggota terbaru dari "klub eksklusif triliun dolar" (yang terdiri dari negara-negara yang memiliki PDB nominal melebihi USD $ 1 triliun).

PDB per kapita Indonesia dan Distribusi Pendapatan yang Tidak Setara

PDB per kapita Indonesia telah naik tajam selama satu dekade terakhir (walau sempat kena perlambatan pertumbuhan di antara 2011 dan 2015). Meskipun begitu, bisa dipertanyakan apakah PDB per kapita adalah alat ukur yang layak untuk Indonesia karena penduduk Indonesia memiliki karekteristik ketidaksetaraan yang tinggi dalam hal distribusi pendapatan. Dengan kata lain, ada kesenjangan antara statistik dan kenyataan karena kekayaan 43.000 orang terkaya di Indonesia (yang mewakili hanya 0,02% dari total penduduk Indonesia) setara dengan 25% PDB Indonesia. Kekayaan 40 orang terkaya di Indonesia setara dengan 10,3% PDB (yang merupakan jumlah yang sama dengan kombinasi harta milik 60 juta orang termiskin di Indonesia). Angka-angka ini mengindikasikan konsentrasi kekayaan yang besar untuk kelompok elit yang kecil. Terlebih lagi, kesenjangan distribusi pendapatan ini diperkirakan akan meningkat di masa mendatang.

PDB per kapita Indonesia telah meningkat secara cepat pada tahun 2000-an dan setelahnya. Pada awalnya, Bank Dunia memproyeksikan Indonesia akan mencapai tingkat 3.000 dollar AS (per kapita) pada tahun 2020 namun negara ini telah mencapai level ini satu dekade lebih awal. Mencapai level PDB per kapita sebesar 3.000 dollar AS dianggap sebagai langkah yang penting sebab hal ini seharusnya menyebabkan percepatan pengembangan di sejumlah sektor (seperti retail, otomotif, properti) karena permintaan konsumen yang meningkat, dan karenanya menjadi katalis pertumbuhan ekonomi.

Komposisi PDB Indonesia: Pertanian, Industri dan Jasa

Tabel di bawah ini menunjukkan perkembangan luar biasa komposisi PDB Indonesia. Indonesia berubah dari negara yang perekonomiannya sangat bergantung pada pertanian menjadi negara yang perekonomiannya lebih seimbang, di mana sektor manufaktur (sejenis industri) kini lebih dominan daripada sektor pertanian. Hal ini juga menyiratkan bahwa Indonesia mengurangi ketergantungan tradisionalnya pada sektor ekspor primer. Kendati begitu, perlu dicatat bahwa semua sektor utama ini mengalamai ekspansi selama periode yang disebutkan.

  1965 1980 1996 2010 2017
 Pertanian  51%  24%  16%  15%  14%
 Industri  13%  42%  43%  47%  40%
 Jasa  36%  34%  41%  38%  46%

Sumber: Bank Dunia dan CIA World Factbook

Bertentangan dengan prediksi awal kami, sektor industri di Indonesia dikalahkan oleh sektor jasa dalam hal kontribusi terhadap PDB (lihat tabel di atas). Sementara peran sektor industri berkembang sangat kuat antara 1965 dan 2010 didukung oleh sektor manufaktur yang berkembang pesat, tiba-tiba sektor jasa sempat rebound didukung oleh perkembangan pesat ekonomi digital dan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi.

Salah satu karakteristik yang menonjol dari Indonesia adalah bahwa bagian barat negara ini memiliki kontribusi pertumbuhan PDB yang secara signifikan lebih besar. Jawa (terutama area Jabodetabek) dan Sumatra, bersama-sama, berkontribusi untuk lebih dari 80% total PDB Indonesia. Alasan utama untuk situasi ini adalah bagian barat Indonesia berlokasi dekat dengan Singapura dan Malaysia. Ketiga negara ini dalam perjalanan sejarah telah berfungsi sebagai pusat aktivitas ekonomi di Asia Tenggara. Sementara itu, bagian Timur Indonesia, terletak dalam jalur perekonomian yang lebih sepi dan berpenduduk jauh lebih sedikit.

PDB Indonesia dalam Perspektif Global

Tabel di bawah ini menempatkan PDB per kapita Indonesia dan GDP riil dalam perspektif global dengan membandingkannya dengan dua kekuatan ekonomi penting: Amerika Serikat (AS) dan Cina, serta dunia.

Pertumbuhan PDB Riil (%):

Negara 2012 2013 2014 2015 2016 2017
Amerika Serikat  2.2  1.7  2.6  2.9  1.5  2.3
Cina  7.9  7.8  7.3  6.9  6.7  6.8
Dunia    2.6  2.8  2.7  2.5  2.9
Indonesia  6.0  5.6  5.0  4.9  5.0  5.1

Berbagai sumber

PDB per Kapita (dalam Dollar Amerika Serikat):

Negara  2012  2013  2014  2015  2016 2017
Amerika Serikat 51,384 52,608 54,375 55,868 57,638
Cina  6,260  7,037  7,569  7,808  8,123
Dunia 10,552 10,719 10,874 10,164 10,191
Indonesia  3,764  3,685  3,541  3,379  3,570

Berbagai sumber

Sementara sebagian besar negara di dunia pasti iri melihat tingkat pertumbuhan PDB Indonesia, sedikit dari mereka yang ingin memiliki angka PDB per kapita yang serendah Indonesia. Soalnya Indonesia masih tetap berada di luar peringkat top 100 negara dengan PDB per kapita paling tinggi sedunia. Melalui sejumlah rencana pembangunan Pemerintah, Pemerintah Indonesia bertujuan untuk meningkatkan angka ini menjadi sekitar 14.250 - 15.500 dollar AS pada tahun 2025. Namun, tetap diragukan apakah target ambisius ini akan dapat direalisasikan, apalagi - seperti yang disebutkan di atas - indikator ini tidak merefleksikan distribusi (setara) dari pendapatan atau kekayaan dalam masyarakat Indonesia. Dibutuhkan kebijakan Pemerintah yang efektif untuk menyediakan lebih banyak pendidikan untuk anak-anak Indonesia dan lebih banyak kesempatan kerja untuk orang-orang dewasa Indonesia.

Juga menarik untuk menganalisis sampai tingkatan mana beberapa ciri kebudayaan-kebudayaan Indonesia (misalnya budaya dominan Jawa) membatasi pertumbuhan PDB (dibandingkan dengan pengaruh dari, contohnya, kebudayaan Tiongkok terhadap pertumbuhan PDB RRT). Untuk informasi lebih lanjut dari topik ini, silahkan mengunjungi bagian Budaya Bisnis Indonesia kami.

Updated pada 7 Mei 2018