Ringkasan dan Fokus Analisis

Antara periode 2000-2004, pemulihan ekonomi Indonesia terjadi dengan rata-rata pertumbuhan PDB pada 4,6 persen per tahun. Setelah itu, pertumbuhan PDB berakselerasi (dengan pengecualian pada tahun 2009 waktu, akibat guncangan dan ketidakjelasan finansial global, terjadinya arus modal keluar dari Indonesia maka pertumbuhan PDB Indonesia jatuh menjadi 4,6 persen - sebuah angka yang sebenarnya masih mengagumkan - pada tahun itu) dan kemudian memuncak pada 6,5 persen pada tahun 2011. Periode pemulihan dan percepatan pertumbuhan ekonomi yang mengesankan antara tahun 2000 dan 2011 itu terutama disebabkan oleh meningkatnya konsumsi rumah tangga (di tengah menguatnya PDB per kapita serta daya beli konsumen) dan ledakan harga komoditas pada tahun 2000-an (2000s commodities boom).

Namun, era boom komoditas pada tahun 2000-an juga merupakan sebuah peluang yang terlewatkan karena pemerintah Indonesia gagal mengurangi ketergantungan negaranya terhadap ekspor komoditas (mentah). Maka, ketika harga komoditas merosot setelah 2011 ekspansi ekonomi Indonesia mulai melambat dengan cepat. Antara tahun 2011 dan 2015 suatu periode perlambatan ekonomi muncul; sebuah perlambatan yang memprihatinkan.

Teks ini mendiskusikan performa perekonomian Indonesia, negara dengan perekonomian terbesar di Asia Tengagra, sejak akhir 2000-an hingga saat ini dan menyorot dengan lebih spesifik pada dua topik: (1) perlambatan perekonomian yang terjadi di periode 2011-2015 dan (2) lambatnya proses percepatan pertumbuhan ekonomi yang mulai dari 2016. Untuk analisis pertumbuhan ekonomi Indonesia pada Pemerintahan Orde Baru atau analisis sebab dan akibat Krisis Finansial Asia, silakan klik tautan-tautan di atas.

Statistik Pertumbuhan Domestik Bruto (PDB):

             Rata-rata
Pertumbuhan
PDB
(%)
1998 – 1999               - 6.65
2000 – 2004                 4.60
2005 – 2009                 5.62
2010 – 2015                 5.63
2016 – 2017                 5.05

 

   2007  2008  2009  2010  2011  2012
PDB
(dalam milyar USD)
432.2 510.2 539.6 755.0 893.0 918.0
PDB
(perubahan % tahunan)
  6.3   6.0   4.6   6.2   6.2   6.0
PDB per Kapita
(dalam USD)
1,861 2,168 2,263 3,167 3,688 3,741

 

   2013  2014  2015  2016  2017  2018
PDB
(dalam milyar USD)
915.0 891.0 861.0 933.0
PDB
(perubahan % tahunan)
  5.6   5.0   4.9   5.0   5.1  5.17
PDB per Kapita
(dalam USD)
3,528 3,442 3,329 3,603

The base year for computing the economic growth rate shifted from 2000 to 2010 in 2014, previous years have been recalculated
Sumber: Bank Dunia

Tampak dalam tabel di atas bahwa penurunan perekonomian global yang disebabkan oleh krisis finansial global di akhir 2000-an memiliki dampak yang relatif kecil pada perekonomian Indonesia dibandingkan dengan dampak yang dialami negara-negara lain. Pada tahun 2009, pertumbuhan PDB Indonesia turun menjadi 4,6 persen, yang berarti bahwa performa pertumbuhan PDB negara ini merupakan salah satu yang terbaik di seluruh dunia (dan memiliki peringkat tertinggi ketiga di antara negara-negara dengan perekonomian besar yang tergabung di dalam grup G-20).

Meskipun terjadi penurunan tajam harga-harga komoditi, turunnya pasar saham, yield obligasi domestik dan internasional yang lebih tinggi, dan melemahnya nilai tukar rupiah, perekonomian Indonesia masih dapat tumbuh dengan layak. Kesuksesan ini terutama disebabkan oleh berlanjutnya konsumsi domestik yang subur. Konsumsi domestik di Indonesia (terutama konsumsi pribadi/konsumsi rumah tangga) berkontribusi untuk sekitar 55-58 persent dari total pertumbuhan ekonomi negara ini. Dengan demikian konsumsi rumah tangga pada tahun 2009 itu merupakan sebuah alas bagi perekonomian Indonesia yang mendorong pertumbuhan ekonomi saat situasi global berubah masam.

-

Poll Indonesia Investments:

Who would you vote for in Indonesia's 2019 presidential election?

Voting possible:  -

Results

  • Joko Widodo (57.7%)
  • Prabowo Subianto (32%)
  • No opinion (5.7%)
  • Someone else (4.7%)

Total amount of votes: 16263

-

Pada tahun 2010, Bank Dunia melaporkan bahwa karena suburnya pertumbuhan ekonomi Indonesia, setiap tahunnya sekitar 7 juta penduduk Indonesia masuk dalam kelas menengah negara ini. Meskipun pertumbuhan penduduk kelas menengah sudah tidak secepat itu karena perlambatan perekonomian Indonesia yang terjadi di antara tahun 2011-2015, Indonesia masih tetap memiliki kekuatan konsumen yang mendorong perekonomian dan telah secara signifikan memicu pertumbuhan investasi domestik dan asing sejak 2010 (yang jelas, banyak investor pasti ingin berinvestasi di sebuah negara yang memiliki populasi 260 juta dan yang ditandai oleh kenaikan PDB per kapita yang kuat sehingga merupakan pasar yang sangat menjanjikan untuk macam-macam produk dan layanan).

Menentukan jumlah orang Indonesia yang masuk kelas menengah adalah soal definisi. Pada akhir 2017 Bank Dunia mengatakan sekitar 52 juta orang Indonesia termasuk dalam kategori kelas menengah. Namun, perusahaan riset seperti Boston Consulting Group (BCG) dan McKinsey menetapkan bar yang rendah maka jumlah orang kelas menengah hitungan mereka lebih tinggi ditimbang kalkulasi Bank Dunia. Namun, semua institusi tampaknya setuju bahwa kelas menengah di Indonesia kira-kira telah berlipat ganda pada tahun 2030. Jumlah kelas menengah yang meningkat ini berpotensi besar untuk pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Kendati begitu, setelah memuncak di 2011, pertumbuhan PDB Indonesia mulai melambat di periode 2011-2015. Ada beberapa faktor yang menjelaskan perlambatan ekonomi ini:

Pertumbuhan Ekonomi Global yang Lambat: Fokus pada Republik Rakyat Tiongkok (RRT)

Setelah mengalami rebound dari resesi global yang besar (2007-2009), laju pertumbuhan ekonomi di seluruh dunia menurun pada periode 2010-2014. Yang paling menyebabkan kekuatiran adalah semakin menurunnya laju pertumbuhan perekonomian RRT. Negara dengan perekonomian terbesar kedua di dunia ini bertumbuh 6,7 persen pada basis year-on-year (y/y) pada tahun 2016, level terendah dalam 26 tahun terakhir. Menurunnya ekspansi perekonomian di RRT segera memberikan dampak pada Indonesia karena kedua negara adalah mitra dagang yang penting (RRT berkontribusi untuk hampir sepersepuluh dari total ekspor Indonesia). Diperkirakan bahwa untuk setiap penurunan 1 persen dari pertumbuhan PDB RRT, ekspansi perekonomian Indonesia berkurang 0,5 persen. Meskipun ekonomi China mengalami rebound dengan pertumbuhan ekonomi 6,9 persen (y/y) pada tahun 2017, laju pertumbuhan ekonomi negara ini diperkirakan akan mereda di tahun-tahun depan karena ekonomi China sedang mengalami beberapa perubahan struktural.

Menurunnya Harga-Harga Komoditas

Perlambatan ekonomi global di periode 2010-2014 (dan terutama perlambatan ekonomi RRT) menyebabkan penurunan harga-harga komoditas ke level yang rendah selama bertahun-tahun. Sebagai negara eksportir komoditas yang besar (dan kekurangan industri hilir), kinerja ekspor Indonesia sangat terpengaruhi saat harga komoditas (seperti batubara dan minyak sawit mentah) rendah. Rendahnya harga komoditas-komiditas tidak hanya disebabkan oleh permintaan global yang rendah namun juga karena kelebihan suplai. Pada era boom komoditas di tahun 2000-an dan juga setelah selesainya resesi global yang besar yang terjadi di akhir 2000-an, institusi-institusi seperti Bank Dunia dan International Monetary Fund menerbitkan proyeksi pertumbuhan global yang terlalu optimis, maka banyak perusahaan masuk ke dalam sektor komoditas - atau perusahaan-perusahaan komoditi yang dari dulu aktif berinvestasi kembali untuk meningkatkan kapasitas produksi - dan menyebabkan timbunan suplai sehingga menekan turun harga komoditas pada paruh pertama tahun 2010-an.

Bloomberg Commodities Index:

Namun, pada tahun 2016 harga komoditas akhirnya berhasil menjadi stabil, bahkan sebuah rebound terjadi dipimpin oleh harga minyak mentah yang sebelumnya sempat jatuh di bawah USD $30 per barel pada awal tahun 2016. Jelas, rebound harga komoditas ini memiliki dampak positif terhadap ekonomi global.

Tingkat Suku Bunga Bank Indonesia yang Tinggi

Tingkat suku bunga yang tinggi membatasi pertumbuhan kredit dan karenanya mengurangi pertumbuhan ekonomi. Sejak pertengahan tahun 2013, bank sentral Indonesia (Bank Indonesia) meningkatkan suku bunga acuannya (BI rate) dari level terendah dalam sejarah pada 5,75 persen kemudian secara bertahap, namun agresif, naik menjadi 7,75 persen di akhir 2014. Bank Indonesia mengetatkan kebijakan moneternya dalam rangka melawan inflasi yang tinggi (yang meningkat tajam setelah beberapa reformasi subsidi bahan bakar), mengurangi defisit transaksi berjalan yang lebar, dan mendukung rupiah yang dibebani oleh tekanan-tekanan berat mulai tengah 2013 karena pengetatan moneter di Amerika Serikat. Arus modal keluar (capital outflows) besar-besaran dari negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, terjadi hampir sepanjang tahun 2013 karena ancaman penurunan program pembelian obligasi senilai 85 miliar dollar Amerika Serikat (AS) setiap bulannya (quantitative easing AS). Pada tahun 2015, capital outflows dari negara-negara berkembang muncul kembali karena dunia sedang bersiap-siap untuk suku bunga AS (Fed Funds Rate) yang lebih tinggi.

Pada Desember 2015 Bank Sentral Amerika Serikat (Federal Reserve) menaikkan suku bunganya untuk pertama kalinya dalam satu dekade (disusul kenaikan suku bunga pada Desember 2016). Namun, karena inflasi Indonesia dan defisit transaksi berjalan membaik ke tingkat yang aman, sedangkan rupiah mulai stabil terhadap dolar AS dari akhir-2015, Bank Indonesia akhirnya bisa melonggarkan kebijakan moneternya. Sepanjang 2016 Bank sentral Indonesia mampu menurunkan suku bunga secara drastis dari level 7,75 persen pada awal 2016 menjadi 4,75 persen pada akhir 2016 (ini juga termasuk perubahan dari BI rate ke BI 7-day Reverse Repo Rate sebagai alat benchmark bank sentral), maka memungkinkan aktivitas ekonomi yang lebih cepat. Namun, per awal 2018 pertumbuhan kredit tetap lemah di Indonesia.

Perpolitikan di Indonesia

Tahun 2014 adalah ‘tahun politik’ untuk Indonesia karena adanya pemilu legislatif dan presiden. Pemilu presiden ini menjadi pertarungan antara Joko Widodo yang didukung PDI-P (calon favorit para investor karena Widodo bersifat reform-minded) dan Prabowo Subianto yang didukung Gerindra (mantan jenderal angkatan bersenjata yang kontroversial dan juga mantan menantu Suharto). Meskipun pemilu ini diprediksi akan memberikan kemenangan yang mudah untuk Widodo, pemilu ternyata berubah menjadi pertarungan sengit (bahkan akhirnya membutuhkan keputusan Mahkamah Konstitusi untuk mengkonfirmasi hasil dari Pemilihan presiden). Selama sekitar lima bulan pada tahun 2014 Indonesia dilanda oleh ketidakjelasan politik akibat pemilu. Dengan demikian investasi di Indonesia dan ekspansi ekonomi negara tersebut ikut melambat.

Karena Indonesia adalah negara demokrasi yang muda, mempunyai masyarakat yang sangat majemuk, dan mempunyai banyak swing voters (yaitu orang yang tidak setia pada satu partai politik melainkan cenderung memilih partai lain di pemilu yang berikut) hasil pemilu bisa saja jadi kejutan. Oleh karena itu, pemilihan di Indonesia selalu menimbulkan tingkat ketidakpastian yang tinggi dan jika ada satu hal yang dibenci investor itu ketidakpastian.

Ketidakpastian hukum atau ketidakpastian mengenai kebijakan (ekonomi) pemerintah juga merupakan salah satu hambatan utama karena membuat investor berpikir dua kali sebelum memutuskan untuk berinvestasi di Indonesia (lihat juga bagian Risiko). Misalnya, sejalan dengan UU Pertambangan 2009, Indonesia mengimplementasikan larangan ekspor biji-biji mineral pada Januari 2014. Meskipun larangan ini tidak segera dilaksanakan sepenuhnya (beberapa penambang bisa melanjutkan ekspor biji-biji mineral bila mereka berkomitmen untuk mendirikan fasilitas-fasilitas smelter domestik dan membayar pajak dan royalti yang lebih tinggi) dan walau tujuan kebijakan baru ini baik (yaitu mengurangi ketergantungan Indonesia pada harga-harga komoditas yang sangat tidak stabil), hal ini juga menyebabkan pengurangan performa ekspor serta kekhawatiran tinggi tentang kepastian hukum (karena dengan tiba-tiba mengubah peraturan, pemerintah sebenarnya melanggar banyak kontrak).

Isu politik lain yang menghambat ekspansi perekonomian Indonesia adalah belanja Pemerintah yang lambat. Karena halangan pita merah (birokrasi berlebihan) dan koordinasi yang lemah antar institusi pemerintahan (baik di level pusat maupun regional), belanja Pemerintah tetap kurang optimal.

Konsumsi Rumah Tangga Yang Lemah

Sementara itu, pertumbuhan konsumsi rumah tangga di Indonesia melambat dan menjadi stagnan sejak beberapa tahun yang lalu (lihat tabel di bawah). Dengan mempertimbangkan bahwa konsumsi rumah tangga menyumbang sekitar 55-58 persen ke total pertumbuhan ekonomi Indonesia, pertumbuhan konsumsi rumah tangga yang stagnan mengurangi pertumbuhan makroekonomi negaranya. Penyebab di balik tren ini masih tetap sebuah misteri yang terus membingungkan para analis serta pembuat kebijakan. Namun, mengingat bahwa dana pihak ketiga di sektor perbankan Indonesia meningkat tajam dalam periode yang sama, bisa saja bahwa daya beli konsumen sebenarnya tidak melemah, melainkan konsumen Indonesia lebih memilih untuk menghemat dana (dengan menyimpannya di tabungan bank) daripada membelanjakannya. Ada yang berpendapat bahwa ini menunjukkan perubahan struktural: generasi muda (para millennials) lebih sadar akan pentingnya menyimpan dana di rekening bank, sementara generasi tua masyarakat Indonesia kurang memiliki kesadaran semacam itu. Dan seiring dengan berjalannya waktu, peran generasi muda itu semakin besar di dalam ekonomi Indonesia, maka perubahan dalam pembelanjaan ini sekarang dirasakan.

Pertumbuhan Konsumsi Rumah Tangga di Indonesia 2013-2017:

2013
2014 2015 2016 2017
Pertumbuhan
(perubahan % tahunan)
5.43 5.16 4.96 5.01 4.95

Sumber: Badan Pusat Statistik (BPS)

Pertumbuhan PDB Indonesia per Kuartal 2009–2018 (perubahan % tahunan):

Tahun Quarter I
Quarter II Quarter III Quarter IV
2018     5.06     5.27      5.17      5.18
2017     5.01     5.01      5.06      5.19
2016     4.92     5.19      5.01      4.94
2015     4.71     4.66      4.74      5.04
2014     5.14     5.03      4.92      5.01
2013     6.03     5.81      5.62      5.72
2012     6.29     6.36      6.17      6.11
2011     6.45     6.52      6.49      6.50
2010     5.99     6.29      5.81      6.81
2009     4.60     4.37      4.31      4.58

Sumber: BPS

Proyeksi dan Pandangan untuk Pertumbuhan Ekonomi Indonesia

Proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap "positif" dalam arti bahwa sebagian besar - jika tidak semua - lembaga internasional dan domestik yang relevan meramalkan percepatan pertumbuhan ekonomi bagi Indonesia pada tahun-tahun mendatang. Namun, lembaga-lembaga ini sudah tidak sepositif dulu (awal 2010an) waktu pertumbuhan PDB Indonesia diperkirakan segera kembali ke tingkat di atas 6 persen (y/y). Rupanya, pada waktu itu hanya tidak ada pengamat ekonomi yang mengerti bahwa ekonomi global terkena ketidakpastian yang berkepanjangan, maka pertumbuhan ekonomi Indonesia melambat sampai dengan tahun 2016.

Bahkan baru-baru ini, lembaga-lembaga internasional seperti IMF dan Bank Dunia masih tetap terlalu positif tentang laju pertumbuhan ekonomi Indonesia. Misalnya, Bank Dunia dan IMF memprediksi bahwa ekonomi Indonesia bisa tumbuh 5.3 persen (y/y) pada tahun 2017, sedangkan realisasi pertumbuhan pada tahun itu hanya berada di 5,07 persen (y/y).

Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia (perubahan % per tahun):

Lembaga 2017 2018
Pemerintah Indonesia   5.1   5.4
Bank Dunia   5.3   5.2¹
International Monetary Fund (IMF)   5.3   5.3
Asian Development Bank (ADB)   5.1   5.3
Indonesia Investments   5.1   5.2
Realisasi  5.07  5.17

¹ direvisi dari 5.3% pada tanggal 6 Juni 2018
Berbagai sumber

Meskipun kami menganggap ekonomi Indonesia sebagai ekonomi yang sehat dab dengan prospek pertumbuhan yang sangat baik dalam jangka panjang, kami ingin menekankan di sini bahwa tanpa (secara tiba-tiba) melonjaknya harga komoditas dan/atau lonjakan (yang tiba-tiba) dalam konsumsi rumah tangga, akan membutuhkan banyak tahun bagi Indonesia untuk kembali pada tingat pertumbuhan di atas 6 persen (y/y). Jika pertumbuhan tidak dapat terangkat oleh ekspor komoditas dan konsumsi rumah tangga, maka pertumbuhan ekonomi itu perlu berasal dari perubahan struktural, yaitu (1) perkembangan industri manufaktur yang berorientasi ekspor (dan ini akan membutuhkan iklim usaha dan investasi yang kondusif), (2) pembangunan infrastruktur besar-besaran (yang menyebabkan efek multiplier dan mengurangi biaya logistik), dan (3) secara signifikan meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia.

Tentunya, ini adalah hal-hal yang membutuhkan bertahun-tahun atau bahkan dekade sebelum sepenuhnya selesai (dan prosesnya harus didorong dan didukung oleh semua pemerintah yang terbentuk di sepanjang jalan). Oleh karena itu, kami memprediksi bahwa laju pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya akan mengakselerasi sedikit pada tahun-tahun mendatang sebelum berakselerasi lebih cepat setelah tahun 2020.


Poll Indonesia Investments:

What do you think will be the growth rate of the Indonesian economy in full-year 2019?

Voting possible:  -

Your vote


Pemerintahan Joko Widodo (2014-?) sangat menjanjikan karena telah memotong dengan drastis subsidi energi, dan mengalokasikan dana yang tersedia kepada pembangunan infrastruktur dan sosial. Pemerintahan Jokowi juga merilis serangkaian paket kebijakan ekonomi yang bertujuan untuk menarik investasi serta memperkuat usaha yang sudah ada dan memperkuat daya beli masyarakat. Namun, tidak semua paket itu sukses (bahkan ada yang menambah kebingungan di antara golongan investor, misalnya soal sistem pajak negara).

Pada tahun 2030 Indonesia seharusnya masuk di antara lima ekonomi terbesar dunia (setelah Cina, AS, India, dan Jepang). Sebuah tanda yang menjanjikan adalah bahwa pada 2017 Indonesia menjadi anggota terbaru dari "klub eksklusif triliun dolar" (yang terdiri dari negara-negara yang memiliki PDB nominal melebihi USD $ 1 triliun).

PDB per kapita Indonesia dan Distribusi Pendapatan yang Tidak Setara

PDB per kapita Indonesia telah naik tajam selama satu dekade terakhir (walau sempat kena perlambatan pertumbuhan di antara 2011 dan 2015). Meskipun begitu, bisa dipertanyakan apakah PDB per kapita adalah alat ukur yang layak untuk Indonesia karena penduduk Indonesia memiliki karekteristik ketidaksetaraan yang tinggi dalam hal distribusi pendapatan. Dengan kata lain, ada kesenjangan antara statistik dan kenyataan karena kekayaan 43.000 orang terkaya di Indonesia (yang mewakili hanya 0,02% dari total penduduk Indonesia) setara dengan 25% PDB Indonesia. Kekayaan 40 orang terkaya di Indonesia setara dengan 10,3% PDB (yang merupakan jumlah yang sama dengan kombinasi harta milik 60 juta orang termiskin di Indonesia). Angka-angka ini mengindikasikan konsentrasi kekayaan yang besar untuk kelompok elit yang kecil. Terlebih lagi, kesenjangan distribusi pendapatan ini diperkirakan akan meningkat di masa mendatang.

PDB per kapita Indonesia telah meningkat secara cepat pada tahun 2000-an dan setelahnya. Pada awalnya, Bank Dunia memproyeksikan Indonesia akan mencapai tingkat 3.000 dollar AS (per kapita) pada tahun 2020 namun negara ini telah mencapai level ini satu dekade lebih awal. Mencapai level PDB per kapita sebesar 3.000 dollar AS dianggap sebagai langkah yang penting sebab hal ini seharusnya menyebabkan percepatan pengembangan di sejumlah sektor (seperti retail, otomotif, properti) karena permintaan konsumen yang meningkat, dan karenanya menjadi katalis pertumbuhan ekonomi.

Komposisi PDB Indonesia: Pertanian, Industri dan Jasa

Tabel di bawah ini menunjukkan perkembangan luar biasa komposisi PDB Indonesia. Indonesia berubah dari negara yang perekonomiannya sangat bergantung pada pertanian menjadi negara yang perekonomiannya lebih seimbang, di mana sektor manufaktur (sejenis industri) kini lebih dominan daripada sektor pertanian. Hal ini juga menyiratkan bahwa Indonesia mengurangi ketergantungan tradisionalnya pada sektor ekspor primer. Kendati begitu, perlu dicatat bahwa semua sektor utama ini mengalamai ekspansi selama periode yang disebutkan.

  1965 1980 1996 2010 2017
 Pertanian  51%  24%  16%  15%  14%
 Industri  13%  42%  43%  47%  40%
 Jasa  36%  34%  41%  38%  46%

Sumber: Bank Dunia dan CIA World Factbook

Bertentangan dengan prediksi awal kami, sektor industri di Indonesia dikalahkan oleh sektor jasa dalam hal kontribusi terhadap PDB (lihat tabel di atas). Sementara peran sektor industri berkembang sangat kuat antara 1965 dan 2010 didukung oleh sektor manufaktur yang berkembang pesat, tiba-tiba sektor jasa sempat rebound didukung oleh perkembangan pesat ekonomi digital dan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi.

Salah satu karakteristik yang menonjol dari Indonesia adalah bahwa bagian barat negara ini memiliki kontribusi pertumbuhan PDB yang secara signifikan lebih besar. Jawa (terutama area Jabodetabek) dan Sumatra, bersama-sama, berkontribusi untuk lebih dari 80% total PDB Indonesia. Alasan utama untuk situasi ini adalah bagian barat Indonesia berlokasi dekat dengan Singapura dan Malaysia. Ketiga negara ini dalam perjalanan sejarah telah berfungsi sebagai pusat aktivitas ekonomi di Asia Tenggara. Sementara itu, bagian Timur Indonesia, terletak dalam jalur perekonomian yang lebih sepi dan berpenduduk jauh lebih sedikit.

PDB Indonesia dalam Perspektif Global

Tabel di bawah ini menempatkan PDB per kapita Indonesia dan GDP riil dalam perspektif global dengan membandingkannya dengan dua kekuatan ekonomi penting: Amerika Serikat (AS) dan Cina, serta dunia.

Pertumbuhan PDB Riil (%):

Negara 2012 2013 2014 2015 2016 2017
Amerika Serikat  2.2  1.7  2.6  2.9  1.5  2.3
Cina  7.9  7.8  7.3  6.9  6.7  6.8
Dunia    2.6  2.8  2.7  2.5  2.9
Indonesia  6.0  5.6  5.0  4.9  5.0  5.1

Berbagai sumber

PDB per Kapita (dalam Dollar Amerika Serikat):

Negara  2012  2013  2014  2015  2016 2017
Amerika Serikat 51,384 52,608 54,375 55,868 57,638
Cina  6,260  7,037  7,569  7,808  8,123
Dunia 10,552 10,719 10,874 10,164 10,191
Indonesia  3,764  3,685  3,541  3,379  3,570

Berbagai sumber

Sementara sebagian besar negara di dunia pasti iri melihat tingkat pertumbuhan PDB Indonesia, sedikit dari mereka yang ingin memiliki angka PDB per kapita yang serendah Indonesia. Soalnya Indonesia masih tetap berada di luar peringkat top 100 negara dengan PDB per kapita paling tinggi sedunia. Melalui sejumlah rencana pembangunan Pemerintah, Pemerintah Indonesia bertujuan untuk meningkatkan angka ini menjadi sekitar 14.250 - 15.500 dollar AS pada tahun 2025. Namun, tetap diragukan apakah target ambisius ini akan dapat direalisasikan, apalagi - seperti yang disebutkan di atas - indikator ini tidak merefleksikan distribusi (setara) dari pendapatan atau kekayaan dalam masyarakat Indonesia. Dibutuhkan kebijakan Pemerintah yang efektif untuk menyediakan lebih banyak pendidikan untuk anak-anak Indonesia dan lebih banyak kesempatan kerja untuk orang-orang dewasa Indonesia.

Juga menarik untuk menganalisis sampai tingkatan mana beberapa ciri kebudayaan-kebudayaan Indonesia (misalnya budaya dominan Jawa) membatasi pertumbuhan PDB (dibandingkan dengan pengaruh dari, contohnya, kebudayaan Tiongkok terhadap pertumbuhan PDB RRT). Untuk informasi lebih lanjut dari topik ini, silahkan mengunjungi bagian Budaya Bisnis Indonesia kami.

Updated pada 7 Mei 2018