Bagian ini mendiskusikan performa perekonomian Indonesia, negara dengan perekonomian terbesar di Asia Tengagra, sejak akhir 2000-an dan menyorot dengan lebih spesifik pada perlambatan perekonomian yang terjadi sejak 2011. Untuk analisisi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada Pemerintahan Orde Baru atau analisis sebab dan akibat Krisis Finansial Asia, klik tautan-tautan di atas.

Statistik Pertumbuhan Domestik Bruto (PDB):

             Rata-rata
Pertumbuhan
PDB
(%)
1998 – 1999               - 6.65
2000 – 2004                 4.60
2005 – 2009                 5.62
2010 – 2014                 5.80
    2006   2007   2008   2009   2010   2011   2012   2013   2014
PDB
(dalam milyar USD)
 364.6  332.2  510.2  539.6  755.1  893.0  917.9  910.5  888.5
PDB
(perubahan % tahunan)
   5.5    6.3    6.0    4.6    6.2    6.2    6.0    5.6    5.0
PDB per Kapita
(dalam USD)
 1,590  1,861  2,168  2,263  3,125  3,648  3,701  3,624  3,492

The base year for computing the economic growth rate shifted from 2000 to 2010 in 2014, previous years have been recalculated
Sumber: Bank Dunia

Tampak dalam tabel di atas bahwa penurunan perekonomian global yang disebabkan oleh krisis finansial global di akhir 2000-an memiliki dampak yang relatif kecil pada perekonomian Indonesia dibandingkan dengan dampak yang dialami negara-negara lain. Pada tahun 2009, pertumbuhan PDB Indonesia turun menjadi 4,6%, yang berarti bahwa performa pertumbuhan PDB negara ini merupakan salah satu yang terbaik di seluruh dunia (dan memiliki peringkat tertinggi ketiga di antara negara-negara dengan perekonomian besar yang tergabung di dalam grup G-20).

Meskipun terjadi penurunan tajam harga-harga komoditi, turunnya pasar saham, yield obligasi domestik dan internasional yang lebih tinggi, dan melemahnya nilai tukar rupiah, perekonomian Indonesia masih dapat tumbuh dengan layak. Kesuksesan ini terutama disebabkan oleh pengaruh ekspor Indonesia yang relatif terbatas terhadap perekonomian nasional, terjaganya kepercayaan pasar yang tinggi, dan berlanjutnya konsumsi domestik yang subur. Konsumsi domestik di Indonesia (terutama konsumsi pribadi) berkontribusi untuk sekitar 55% dari total pertumbuhan ekonomi negara ini.

Pada tahun 2010, Bank Dunia melaporkan bahwa karena suburnya pertumbuhan ekonomi Indonesia, setiap tahunnya sekitar 7 juta penduduk Indonesia masuk dalam kelas menengah negara ini. Di 2012, jumlah penduduk kelas menengah Indonesia mencapai sekitar 75 juta orang (dari total jumlah penduduk Indonesia sebesar 240 juta orang) dan perusahaan penelitian seperti Boston Consulting Group (BCG) dan McKinsey menyatakan bahwa kelompok kelas menengah ini akan bertambah kira-kira dua kali lipat pada tahun 2020-2030. Meskipun pertumbuhan penduduk kelas menengah telah berkurang karena perlambatan perekonomian negara ini yang terjadi setelah 2011, Indonesia memiliki kekuatan konsumen yang mendorong perekonomian dan telah secara signifikan memicu pertumbuhan investasi domestik dan asing sejak 2010.

Kendati begitu, setelah memuncak di 2011, pertumbuhan PDB Indonesia mulai melambat. Ada beberapa faktor yang menjelaskan perlambatan ekonomi ini:

Pertumbuhan Ekonomi Global yang Lambat: Fokus pada Republik Rakyat Tiongkok (RRT)

Setelah mengalami rebound dari resesi global yang besar (2007-2009), laju pertumbuhan ekonomi di seluruh dunia menurun pada periode 2010-2014. Yang paling menyebabkan kekuatiran adalah semakin menurunnya laju pertumbuhan perekonomian RRT. Negara dengan perekonomian terbesar kedua di dunia ini bertumbuh 7,3% pada basis year-on-year (y/y) di 2014, level terendah dalam 24 tahun terakhir. Menurunnya ekspansi perekonomian di RRT segera memberikan dampak pada Indonesia karena kedua negara adalah mitra dagang yang penting (RRT berkontribusi untuk hampir sepersepuluh dari total ekspor Indonesia). Diperkirakan bahwa untuk setiap penurunan 1% dari pertumbuhan PDB RRT, ekspansi perekonomian Indonesia akan berkurang 0,5%.

Menurunnya Harga-Harga Komoditi

Perlambatan ekonomi global baru-baru ini (dan terutama perlambatan ekonomi RRT) menyebabkan penurunan harga-harga komoditi ke level yang rendah selama bertahun-tahun. Sebagai negara eksportir komoditi yang besar (dan kekurangan industri hilir yang berkembang baik), performa ekspor Indonesia sangat terpengaruh saat harga komoditi (seperti batubara dan minyak sawit mentah) rendah. Rendahnya harga komoditi-komiditi tidak hanya disebabkan oleh permintaan global yang lebih lemah namun juga karena kelebihan suplai. Pada masa boom komoditi di tahun 2000-an dan setelah resesi besar yang terjadi di ahir 2000-an (ketika institusi-institusi seperti Bank Dunia dan International Monetary Fund menerbitkan proyeksi pertumbuhan global yang terlalu optimis) banyak perusahaan memasuki sektor komoditi - atau perusahaan-perusahaan komoditi yang telah ada berinvestasi untuk meningkatkan kapasitas produksi - dan menyebabkan timbunan suplai sehingga menekan turun harga komoditi.

Bloomberg Commodities Index:

Tingkat Suku Bunga Bank Indonesia yang Tinggi

Tingkat suku bunga yang tinggi membatasi pertumbuhan kredit dan karenanya mengurangi pertumbuhan ekonomi. Sejak pertengahan tahun 2013, bank sentral Indonesia (Bank Indonesia) meningkatkan suku bunga acuannya (BI rate) dari level terendah dalam sejarah pada 5,75% kemudian secara bertahap, namun agresif, naik menjadi 7,75% di akhir 2014. Bank Indonesia mengetatkan kebijakan moneternya dalam rangka melawan inflasi yang tinggi (yang meningkat tajam setelah beberapa reformasi subsidi bahan bakar), mengurangi defisit transaksi berjalan yang lebar saat ini, dan mendukung rupiah yang telah dibebani oleh tekanan-tekanan berat karena pengetatan moneter di Amerika Serikat (karena itu, Bank Indonesia lebih memilih stabilitas finansial dibandingkan pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi). Capital outflows besar-besaran dari negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, terjadi di sebagian besar waktu di tahun 2013 karena ancaman penurunan program pembelian obligasi senilai 85 miliar dollar Amerika Serikat (AS) setiap bulannya (quantitative easing AS). Pada tahun 2015, capital outflows dari negara-negara berkembang muncul kembali karena dunia sedang bersiap-siap untuk suku bunga AS yang lebih tinggi.

Perpolitikan di Indonesia

Tahun 2014 adalah ‘tahun politik’ untuk Indonesia karena negara ini mengorganisir pemilihan-pemilihan legislatif dan presiden. Pemilihan-pemilihan ini pada dasarnya adalah pertarungan antara Joko Widodo yang didukung PDI-P (calon favorit pasar karena berpola pikir pembaharuan) dan Prabowo Subianto yang didukung Gerindra (mantan jenderal angkatan bersenjata yang kontroversial dan juga mantan menantu Suharto). Meskipun pemilihan-pemilihan ini diprediksi akan memberikan kemenangan yang mudah untuk Widodo, hal ini ternyata berubah menjadi pertarungan sengit (dan bahkan membutuhkan keputusan Mahkamah Konstitusi untuk mengkonfirmasi hasil dari Pemilihan Presiden). Selama sekitar lima bulan, tahun 2014 dilanda oleh ketidakjelasan politik (karena pemilihan-pemilihan ini) dan mengakibatkan perlambatan realisasi investasi, dan karenanya mengurangi ekspansi perekonomian negara ini.

Sejalan dengan UU Pertambangan 2009, Indonesia mengimplementasikan larangan ekspor biji-biji mineral pada Januari 2014. Meskipun larangan ini tidak segera dilaksanakan sepenuhnya (beberapa penambang bisa melanjutkan ekspor biji-biji mineral bila mereka berkomitmen untuk mendirikan fasilitas-fasilitas smelter domestik) dan walau tujuan kebijakan baru ini baik (mengurangi ketergantungan negara ini pada harga-harga komoditi yang sangat tidak stabil), hal ini juga menyebabkan pengurangan performa ekspor.

Isu politik lain yang menghambat ekspansi perekonomian Indonesia adalah belanja Pemerintah yang lambat. Karena halangan pita merah (birokrasi berlebihan) dan koordinasi yang lemah antar institusi pemerintahan (baik di level pusat maupun regional), belanja Pemerintah tetap lambat. Karena perlambatan global, para analis memiliki harapan-harapan yang tinggi terhadap pembangunan infrastruktur oleh Pemerintah untuk mendongkrak daya saing negara ini, pasar pekerjaan dan pertumbuhan ekonomi. Meskipun begitu, tumpukan besar dari dana yang dialokasikan tetap belum digunakan.

Pertumbuhan PDB Indonesia per Kuartal 2009–2015 (perubahan % tahunan):

Tahun    Quarter I
   Quarter II    Quarter III    Quarter IV
 2015        4.72        4.67         4.74         5.04
 2014        5.14        5.03         4.92         5.01
 2013        6.03        5.81         5.62         5.72
 2012        6.29        6.36         6.17         6.11
 2011        6.45        6.52         6.49         6.50
 2010        5.99        6.29         5.81         6.81
 2009        4.60         4.37         4.31         4.58

Sumber: BPS

Proyeksi Masa Depan untuk Pertumbuhan Ekonomi Indonesia

Proyeksi masa depan untuk pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap positif namun telah direvisi ke bawah oleh semua organisasi-organisasi internasional dan juga Pemerintah Indonesia karena ketidakjelasan global yang berkelanjutan. Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI), berjangka waktu dari 2011-2025 dan yang mendesain enam wilayah sebagai koridor-koridor ekonomi utama, bertujuan untuk menempatkan Indonesia di dalam salah satu dari 10 negara dengan ekonomi terbesar di dunia pada tahun 2025. Masterplan ini mengimplikasikan investasi-investasi besar untuk infrastruktur - hal yang telah menghambat pertumbuhan ekonomi Indonesia - dan seharusnya menghasilkan pertumbuhan PDB yang mencapai 8% atau 9% setiap tahunnya. Kendati begitu, rata-rata pertumbuhan ini tampaknya terlalu ambisius untuk waktu dekat. Institusi-institusi berwenang internasional (Bank Dunia, IMF dan Bank Pembangunan Asia) memproyeksi pertumbuhan PDB tahunan Indonesia dalam cakupan 4,5% sampai 5,5% di periode 2015-2016. Organisasi-organisasi ini menekankan bahwa reformasi politik dan ekonomi yang cukup dikombinasikan dengan investasi-investasi yang besar dalam infrastruktur adalah bumbu-bumbu penting untuk mendongkrak pertumbuhan.

PDB per kapita Indonesia dan Distribusi Pendapatan yang Tidak Setara

PDB per kapita Indonesia telah naik tajam selama satu dekade terakhir (lihat tabel di atas) kendati hal ini telah melemah selama dua tahun terakhir karena perlambatan ekonomi. Meskipun begitu, bisa dipertanyakan apakah PDB per kapita adalah alat ukur yang layak untuk Indonesia karena penduduk Indonesia memiliki karekteristik ketidaksetaraan yang tinggi dalam distribusi pendapatan. Dengan kata lain, ada kesenjangan antara statistik dan kenyataan karena kekayaan 43.000 orang terkaya di Indonesia (yang mewakili hanya 0,02% dari total penduduk Indonesia) setara dengan 25% PDB Indonesia. Kekayaan 40 orang terkaya di Indonesia setara dengan 10,3% PDB (yang merupakan jumlah yang sama dengan kombinasi harta milik 60 juta orang termiskin di Indonesia). Angka-angka ini mengindikasikan konsentrasi kekayaan yang besar untuk kelompok elit yang kecil. Terlebih lagi, kesenjangan distribusi pendapatan ini diperkirakan akan meningkat di masa mendatang.

PDB per kapita Indonesia telah meningkat secara stabil pada tahun 2000-an dan setelahnya. Pada awalnya, Bank Dunia memproyeksikan Indonesia akan mencapai batasan 3.000 dollar AS pada tahun 2020 namun negara ini telah mencapai level ini satu dekade lebih awal. Mencapai level PDB per kapita sebesar 3.000 dollar AS dianggap sebagai langkah yang penting sebab hal ini seharusnya menyebabkan percepatan pengembangan di sejumlah sektor (seperti retail, otomotif, properti) karena permintaan konsumen yang meningkat, dan karenanya menjadi katalis pertumbuhan ekonomi.

Komposisi PDB Indonesia: Pertanian, Industri dan Jasa

Tabel di bawah ini menunjukkan perkembangan luar biasa komposisi PDB Indonesia. Indonesia berubah dari negara yang perekonomiannya sangat bergantung pada pertanian menjadi negara yang perekonomiannya lebih seimbang, di mana sektor manufaktur (sejenis industri) kini lebih dominan daripada sektor pertanian. Hal ini juga menyiratkan bahwa Indonesia mengurangi ketergantungan tradisionalnya pada sektor ekspor primer. Kendati begitu, perlu dicatat bahwa semua sektor utama ini mengalamai ekspansi selama periode yang disebutkan.

      1965     1980     1996     2010
 Pertanian      51%      24%      16%      15%
 Industri      13%      42%      43%      47%
 Jasa      36%      34%      41%      38%

Sumber: Bank Dunia dan CIA World Factbook

Diasumsikan bahwa sektor industri akan memperkuat bagiannya dalam PDB dengan mengurangi bagian sektor agrikultur dan jasa karena manufaktur saat ini adalah sektor paling populer di Indonesia dalam konteks investasi asing langsung. Terlebih lagi, untuk industri-industri inovatif tertentu, Pemerintah Indonesia memberikan insentif-insentif pajak, sementara industri-industri pengolahan hilir telah dikembangkan di sektor pertambangan melalui UU Pertambangan 2009.

Salah satu karakteristik yang menonjol dari Indonesia adalah bahwa bagian barat negara ini memiliki kontribusi pertumbuhan PDB yang secara signifikan lebih besar. Jawa (terutama area Jabodetabek) dan Sumatra, bersama-sama, berkontribusi untuk lebih dari 80% total PDB Indonesia. Alasan utama untuk situasi ini adalah bagian barat Indonesia berlokasi dekat dengan Singapura dan Malaysia. Ketiga negara ini dalam perjalanan sejarah telah berfungsi sebagai pusat aktivitas ekonomi di Asia Tenggara. Sementara itu, bagian Timur Indonesia, terletak dalam jalur perekonomian yang lebih sepi dan berpenduduk jauh lebih sedikit.

PDB Indonesia dalam Perspektif Global

Tabel di bawah ini menunjukkan PDB Indonesia per kapita dan PDB riil dan membandingkannya dengan dua kekuatan ekonomi penting dunia: Amerika Serikat (AS) dan Cina.

   PDB per Kapita (USD) Pertumbuhan PDB Riil (%)
 2011   2012  2013  2014  2011  2012  2013  2014
AS 49,781 51,457 52,980 54,630   1.6   2.3   2.2   2.4
Cina
 5,574  6,265  6,992  7,594   9.5   7.8   7.7   7.4
Indonesia  3,648  3,701  3,624  3,492   6.2   6.0   5.6   5.0

Sumber: Bank Dunia

Mengamati PDB per kapita segera tampak bahwa Indonesia masih memiliki perjalanan panjang ke depan dibandingkan dengan negara-negara yang lebih berkembang. Bahkan, Indonesia memiliki salah satu PDB per kapita terendah dibandingkan negara mana pun di dunia. Melalui sejumlah rencana pembangunan Pemerintah, Pemerintah Indonesia bertujuan untuk meningkatkan angka ini menjadi sekitar 14.250-15.500 dollar AS pada tahun 2025. Namun, tetap diragukan apakah target ambisius ini akan dapat direalisasikan, apalagi - seperti yang disebutkan di atas - indikator ini tidak merefleksikan distribusi (setara) dari pendapatan atau kekayaan dalam masyarakat Indonesia. Dibutuhkan kebijakan Pemerintah yang efektif untuk menyediakan lebih banyak pendidikan untuk anak-anak Indonesia dan lebih banyak kesempatan kerja untuk orang-orang dewasa Indonesia.

Di beberapa tahun terakhir, aset-aset negara berkembang telah menjadi kesayangan para investor (karena dollar AS murah dan aset-aset negara berkembang memiliki yield yang lebih tinggi). Negara-negara berkembang memiliki potensi yang besar karena adanya sumberdaya alam yang berlimpah, populasi yang besar dan cepat berkembang, biaya tenaga kerja dan produksi yang murah dan, terakhir, kondisi politik yang relatif stabil. Kendati begitu, di semester kedua tahun 2015, proyeksi-proyeksi untuk pertumbuhan ekonomi di negara-negara berkembang telah berubah suram karena dampak dari perlambatan pertumbuhan ekonomi di RRT, rendahnya harga-harga komoditi, dan nilai tukar mata uang negar-negara berkembang yang sangat melemah karena ancaman pengetatan moneter di AS.

Juga menarik untuk menganalisis sampai tingkatan mana beberapa ciri kebudayaan-kebudayaan Indonesia (terutama budaya dominan Jawa) membatasi pertumbuhan PDB (dibandingkan dengan pengaruh dari, contohnya, kebudayaan Tiongkok terhadap pertumbuhan PDB RRT). Untuk informasi lebih lanjut dari topik ini, silahkan mengunjungi bagian Budaya Bisnis Indonesia kami.

Updated pada 5 Februari 2016