Program biodiesel B15 Indonesia adalah sebuah program yang mengatur tentang campuran wajib 15% asam lemak metil ester (berasal dari minyak sawit) dengan 85% diesel. Program ini dirancang untuk mengurangi tekanan pada defisit neraca perdagangan dan defisit anggaran pemerintah karena menyebabkan penurunan impor minyak mentah dan bahan bakar. Selain itu, Indonesia merupakan produsen minyak sawit mentah (CPO) terbesar di dunia.

Program B15 diluncurkan pada April 2015 (sebagai tindak lanjut dari program B10). Namun, tingkat ketaatan masih rendah karena produsen biodiesel harus menunggu ketentuan lebih lanjut (seperti indeks harga biofuel baru dan hal-hal yang berkaitan dengan pajak ekspor minyak sawit baru yang digunakan untuk membiayai program biodiesel), sementara perusahaan energi milik negara Pertamina kehabisan cadang asam lemak metil ester (FAME). Dengan demikian, program B15 masih belum bisa diimplementasikan sepenuhnya. Namun, Pemerintah telah mengumumkan keinginanya meluncurkan program B20 pada tahun 2016 (meningkatkan jumlah wajib FAME menjadi 20% dalam campuran biodiesel).

Konsumsi minyak sawit dalam negeri yang lebih tinggi di Indonesia seharusnya mampu meningkatkan harga minyak sawit global. Setelah anjlok ke posisi terendah dalam sejarah pada awal tahun 2015, harga minyak sawit telah pulih dengan spekulasi bahwa produksi minyak sawit akan dibatasi karena serangan El Nino, banjir (musim hujan akhir tahun) dan peningkatan permintaan domestik di Indonesia. Saat ini, harga minyak sawit Malaysia menyentuh level tertinggi selama 18 bulan terakhir (sekitar 581 dollar Amerika Serikat per ton) dan diasumsikan bahwa harga minyak sawit akan naik secara bertahap di tahun 2016. Namun, karena harga minyak global diperkirakan akan tetap berada di bawah level 40 dollar Ameria Serikat (AS) per barel di masa mendatang, permintaan minyak sawit akan terbatas. Oleh karena itu, sulit bagi CPO untuk naik di atas 650 dollar AS per ton.

Sahat Sinaga, Wakil Ketua DMSI, mengatakan konsumsi minyak sawit dalam negeri di Indonesia tahun depan akan naik menjadi 11,5 juta ton. Indonesia diharapkan menyerap 7,1 juta ton CPO untuk pengolahan makanan (dari 6,9 juta pada tahun 2015) dan sisanya untuk program biodiesel (dari estimasi 868.000 ton tahun ini). Ini juga akan berarti bahwa Indonesia ditetapkan untuk menggantikan India sebagai konsumen terbesar minyak sawit di dunia. India diperkirakan mengkonsumsi 7,2 juta ton minyak sawit pada tahun 2015.

Sinaga menyatakan bahwa karena konsumsi dalam negeri yang semakin tinggi, ekspor CPO Indonesia akan menurun menjadi 21 juta ton pada 2016. Tahun ini ekspor CPO Indonesia diperkirakan mencapai 23 juta ton dari segi volume atau 20 miliar dollar AS dari segi nilai.

DMSI juga menurunkan perkiraannya tentang produksi minyak sawit Indonesia di 2016 dari sebelumnya 31,5 juta ton menjadi 30,8 ton karena cuaca kering yang disebabkan El Nino.

Produksi dan Ekspor Minyak Sawit Indonesia:

    2008   2009   2010   2011   2012   2013   2014   2015¹
Produksi
(million metric tons)
  19.2   19.4   21.8   23.5   26.5    30.0    31.5    33.1
Ekspor
(million metric tons)
  15.1   17.1   17.1   17.6   18.2    22.4    21.7    23.0
Ekspor
(in USD billion)
  15.6   10.0   16.4   20.2   21.6    20.6    21.0    20.0

¹ menunjukkan prognosis
Sumber: Food and Agriculture Organization of the United Nations, Indonesian Palm Oil Producers Association (Gapki) and Indonesian Ministry of Agriculture

Bahas