Selain itu, keputusan Federal Reserve untuk menaikkan Fed Fund Rate yang menjadi acuan sebesar 0,25% pada pertemuan kebijakan bulan Desember menunjukkan bahwa dollar AS akan menguat. Karena minyak diperdagangkan dalam dollar AS, hal ini harus menambahkan tekanan menurun pada harga minyak.

Selanjutnya, harga minyak memiliki efek domino pada harga sejumlah komditi-komoditi (energi) lainnya. Ketika harga minyak turun, harga batubara dan gas alam turun sejalan dengan itu. Sejauh ini du tahun ini harga West Texas Intermediate crude dan Brent telah jatuh masing-masing sekitar 40% dan 45%. Sementara itu, harga gas alam dan batubara telah jatuh masing-masing sekitar 50% dan 15% pada periode yang sama.

SoeGee Futures yang bermarkas di Jakarta mengatakan titik impas untuk minyak diperkirakan sekitar 85 dollar AS per barel, yang menyiratkan bahwa para produsen minyak mengalami kerugian yang signifikan ketika harga menuju ke level 30 dollar AS per barel. Pada kuartal ketiga tahun 2015, perusahaan-perusahaan minyak besar - termasuk Royal Dutch Shell Plc, ConocoPhillips dan Eni SpA - membukukan kerugian. Pekan lalu, Chevron dan ConocoPhillips mengumumkan bahwa mereka akan memotong pengeluaran sebesar 25% tahun depan karena kondisi global yang tidak kondusif.

SoeGee Futures mengatakan harga minyak mentah yang rendah merupakan ancaman bagi ekonomi dunia karena hampir semua negara sekarang memiliki kilang minyak. Namun, apabila harga minyak mengalami kenaikan akibat konflik geopolitik di Timur Tengah dan program stimulus di Republik Rakyat Tiongkok (RRT) dan Uni Eropa, harga minyak mungkin akan naik menjadi kisaran 60 dollar AS per barel sampai 70 dollar AS per barel pada tahun 2016.

Harga Minyak Mentah:

Setelah minyak mentah, komoditi energi yang paling penting dalam campuran energi dunia adalah batubara (diikuti oleh gas alam). Batubara - sebagai sumber energi - berkontribusi untuk 30% dari campuran energi dunia dan 40% dari pembangkit listrik. Namun, dalam beberapa tahun terakhir kontribusi batubara untuk campuran energi dunia telah menurun karena munculnya gas shale (gas alam terperangkap dalam bentuk shale). Harga gas telah jatuh karena cadangan yang banyak, persediaan yang banyak dan musim dingin yang diperkirakan tidak terlalu dingin. Terlepas dari faktor-faktor ini, batubara juga menjadi kurang populer karena tidak ramah lingkungan (dibandingkan dengan gas yang merupakan sumber energi yang relatif bersih).

Sekitar 80% dari produksi batubara dunia saat ini dijual dengan harga yang di bawah biaya produksi, menyiratkan bahwa penambang batubara merugi setiap melakukan penjualan. Karena sulit untuk meningkatkan permintaan batubara dalam jangka pendek, kunci untuk meningkatkan harga batubara adalah untuk mengurangi produksi batubara (jika penambang tidak menyesuaikan hasil produksi dengan menghentikan beberapa operasi pertambangan untuk sementara, maka kebangkrutan akhirnya akan menyebabkan penurunan hasil produksi dan menyebabkan pemulihan harga).

Harga batubara termal yang mencadi acuan Indonesia turun 5,2% pada basis month-to-month (m/m) menjadi 54,43 dollar AS per metrik ton (FOB) di bulan November dari 57,39 dollar AS per metrik ton pada bulan sebelumnya, menyentuh level terendah dalam sejarah. Sejauh ini di tahun ini, harga referensi telah jatuh 15%.

Bahas