Di bawah ada daftar dengan kolom dan profil perusahaan yang subyeknya berkaitan.

Berita Hari Ini Rupiah

  • Saham Indonesia Meningkat karena Yunani; Rupiah Melemah karena Fed Hike

    Indonesian Stocks Higher on Greece; Rupiah Weaker on Looming Fed Hike

    Sejalan dengan tren global, saham Indonesia terus naik pada Selasa (14/07). Kebanyakan indeks-indeks saham (di seluruh dunia) terus bergerak dalam wilayah hijau setelah Yunani yang dibebani banyak hutang mencapai kesepakatan dengan kreditor internasionalnya - setelah pertemuan darurat selama 17 jam - untuk sebuah paket penghematan yang akan tetap mempertahankan Yunani di dalam zona euro. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) telah naik 0,60% menjadi 4.923,36 poin pada pukul 11:45 WIB pada hari Selasa.

    Lanjut baca ›

  • Bank Indonesia Diprediksi Belum Akan Memotong Tingkat Suku Bunga

    Bank Indonesia Not Expected to Cut Interest Rate Regime Yet

    Kebanyakan analis setuju bahwa Bank Indonesia akan mempertahankan tingkat suku bunga yang sama dalam pertemuan Dewan Gubernur yang dijadwalkan untuk dilaksanakan pada hari Selasa 14 Juli 2015. Bank sentral Indonesia dipediksi akan mempertahankan suku bunga acuannya (BI rate) pada 7,50%, fasilitas simpanan Bank Indonesia (Fasbi) pada 5,50%, dan suku bunga lending facility pada 8,00% karena tingkat inflasi Indonesia telah meningkat cepat baru-baru ini sementara rupiah mengalami tekanan karena faktor-faktor eksternal.

    Lanjut baca ›

  • Ekspor & Produksi Kopi Indonesia Bertumbuh, Vietnam masih Menimbun

    Indonesian Coffee Export & Production Growing, Vietnam still Hoarding

    Pengiriman kopi Indonesia ke Eropa telah naik karena melemahnya rupiah dan panen kopi yang lebih banyak. Ekspor biji robusta dari Pulau Jawa bertumbuh 22,1% pada basis year-on-year (y/y) di Juni 2015. Sementara itu, para pedagang Eropa memprediksi pengiriman yang besar akan berlanjut di bulan Juli. Rupiah Indonesia adalah mata uang negara berkembang Asia dengan performa terburuk yang dicatat Bloomberg, melemah hampir 7,2% terhadap dollar Amerika Serikat (AS) sejauh ini di tahun ini. Sisi positif dari mata uang yang lemah adalah ekspor negara ini menjadi lebih atraktif.

    Lanjut baca ›

  • Effects of Possible Greek Exit from Euro on Indonesia’s Economy

    Effects of Possible Greek Exit from Euro on Indonesia’s Economy

    Agus Martowardojo, Governor of Indonesia’s central bank (Bank Indonesia), predicts that the current economic turmoil in the Eurozone, caused by the Greek debt crisis, will impact on the stability of developing countries, including Indonesia. Although in terms of both trade and investment there should not be a real impact originating from Greek turmoil, the perception of macroeconomic stability will be somewhat hit on the back of global uncertainty. In line with most markets, Indonesian stocks and the rupiah weakened on Monday (06/07).

    Lanjut baca ›

  • Perekonomian Indonesia: Revisi Pertumbuhan PDB, Kredit & Rupiah

    Economy of Indonesia: Revisions GDP Growth, Credit Growth & Rupiah

    Pemerintah Indonesia merevisi target pertumbuhan perekonomian 2015. Sofyan Djalil, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, menyatakan pada hari Jumat (03/07) bahwa target Pemerintah yang sebelumnya 5,8% pada basis year-on-year (y/y) terlalu tinggi dan tidak realistis mengingat konteks perekonomian internasional dan domestik yang tidak kondusif. Pemerintah merevisi turun target pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) 2015 menjadi 5,2% (y/y). Djalil mengatakan bahwa perekonomian global diproyeksi untuk bertumbuh 2,9% (y/y) di 2015 dari perkiraan awal 3,5% (y/y).

    Lanjut baca ›

  • Keyakinan Konsumen Indonesia Jatuh: Lebih Sedikit Belanja Ramadan & Idul Fitri

    Consumer Confidence Indonesia Falling: Less Ramadan & Idul Fitri Shopping

    Survei terakhir Bank Indonesia menunjukkan bahwa keyakinan konsumen di Indonesia jatuh pada bulan Juni karena kekuatiran mengenai menurunnya ketersediaan lapangan pekerjaan serta penurunan pendapatan dan aktivitas bisnis. Bulan Juni, Indeks Keyakinan Konsumen bank sentral jatuh 1,5 poin menjadi 111,3. Sejauh ini di tahun ini, keyakinan konsumen Indonesia hanya naik di bulan Mei. Di bulan lainnya, indeks ini jatuh. Indeks ini dibuat berdasarkan pada sampel di 4.600 rumah tangga di 18 kota besar di Indonesia (skor 100 membatasi optimisme dari pesimisme).

    Lanjut baca ›

  • Peraturan Bank Indonesia ‘Kewajiban Penggunaan Rupiah’ Mulai Berlaku

    Bank Indonesia Regulation ‘Mandatory Use of Rupiah’ Came into Effect

    Pada 1 Juli 2015, Peraturan Bank Indonesia No. 17/3/PBI/2015 tentang Kewajiban Penggunaan Rupiah di Negara Kesatuan Republik Indonesia mulai berlaku. Peraturan BI ini, ditandatangani pada 31 Maret 2015, melarang penggunaan mata uang asing dalam transaksi di Indonesia dalam rangka memperdalam pasar domestik rupiah, menstabilkan rupiah (yang telah melemah terhadap dollar AS), dan mendorong ekspansi perekonomian. Undang-Undang sebelumnya (UU No. 7/2011) mengizinkan pihak-pihak yang terlibat dalam kontrak untuk membuat kesepakatan menggunakan mata uang lainnya (bukan rupiah) untuk pembayaran.

    Lanjut baca ›

  • Eric Sugandi: Rupiah Indonesia Mungkin Akan Sentuh Rp 13.900 per Dollar AS

    Eric Sugandi: Indonesian Rupiah May Touch IDR 13,900 per US Dollar

    Eric Sugandi, Chief Economist dari Standard Chartered Bank, memprediksi bahwa rupiah akan melemah menjadi Rp 13.900 per dollar Amerika Serikat (AS) pada akhir tahun ini dari Rp 13.339 pada hari ini (29/06) karena dampak dari momentum bullish dollar AS menjelang pengetatan moneter di AS dan ancaman keluarnya Yunani dari zona euro. Sebenarnya, ini adalah prognosa konservatif. Apabila bank sentral Indonesia tidak meningkatkan suku bunga acuannya (BI rate), sekarang pada 7,50%, tekanan terhadap rupiah mungkin akan meningkat nyata secara lebih lanjut.

    Lanjut baca ›

  • Ancaman Keluarnya Yunani dari Zona Euro: Aset Indonesia Relatif Stabil

    Looming Greek Exit from Euro: Fall Indonesian Assets Relatively Limited

    Meskipun Indonesia dianggap sebagai salah satu perekonomian Asia yang sangat rentah terhadap keluarnya Yunani dari zona euro (Greek exit/Grexit), saham dan rupiah Indonesia tidak melemah sebanyak aset-aset pasar negara berkembang lainnya pada hari Senin (29/06), hari perdagangan pertama setelah hancurnya pembicaraan antara Yunani, yang dibebani banyak hutang, dengan para kreditor internasionalnya. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) jatuh 0,82% menjadi 4.882,59 poin sementara rupiah melemah 0,24% menjadi Rp 13.339 per dollar AS (Indeks Bloomberg).

    Lanjut baca ›

  • Saham Indonesia & Rupiah Diprediksi Merasakan Tekanan Berat Hari Ini

    Indonesian Stocks & Rupiah Expected to Feel Heavy Pressure Today

    Saham Indonesia diprediksi merasakan tekanan turun yang berat pada hari Senin (29/06) karena pembicaraan yang terhenti antara Yunani yang terbeban hutang dengan para kreditor internasionalnya. Transaksi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih belum dibuka namun pasar-pasar Asia yang lain segera jatuh setelah pembukaan. Indeks Nikkei 225 dari Jepang turun 2,28% sementara yen menguat (para investor sedang mengejar aset-aset yang aman), sementara KOSPI dari Korea Selatan jatuh 1,5%. Nilai euro sangat menurun dalam perdagangan Asia.

    Lanjut baca ›

Artikel Terbaru Rupiah

  • The Impact of the Fed's Quantitative Easing Program on Emerging Indonesia

    Investors all around the world are in anticipation of the Federal Reserve's decision to scale back the monthly USD $85 billion bond-buying program known as quantitative easing (QE3). If indeed scaled back, then another important question remains: how much will the bond-buying program be toned down? Today (18/09), is the last day of the Fed's FOMC meeting in which these decisions are made. The market expects no drastic end to the program, instead a gradual toning down (between USD $10 to $20 billion) is anticipated.

    Lanjut baca ›

  • Weak Market Conditions Trigger Postponement of GMF AeroAsia's IPO

    Weak Market Conditions Trigger Postponement of GMF AeroAsia's IPO

    After it was reported that Garuda Indonesia, Indonesia's state-controlled national air carrier, postponed its rights issue, the company stated that it highly doubts an initial public offering (IPO) of its subsidiary Garuda Maintenance Facility (GMF) AeroAsia on the Indonesia Stock Exchange (IDX) in 2013. The reason for this postponement is current lingering uncertainty that plagues emerging markets, including Indonesia, since May 2013. Uncertainty about the future of the Federal Reserve's quantitative easing program led to a large outflow of foreign funds.

    Lanjut baca ›

  • World is Waiting for Outcome of the FOMC Meeting; IHSG falls 0.10%

    World is Waiting for Outcome of the FOMC Meeting; IHSG falls 0.10%

    After a strong performance yesterday, the Jakarta Composite Index (IHSG) fell 0.10 percent to 4,517.62 points on Tuesday (17/09). Part of the investor community grabbed their chance to engage in profit taking after yesterday's gain but most investors are careful and reluctant to make any major decision prior to the result of the Federal Reserve's FOMC meeting (17-18 September). It is expected that after this meeting there will be more clarity about the future of the Fed's quantitative easing program.

    Lanjut baca ›

  • Indonesia's Benchmark Stock Index Up 3.35% amid Rising Asian Indices

    Rising indices on Wall Street at the end of last week were a major factor behind rising stock indices in Asia, including Indonesia's benchmark stock index (IHSG), on Monday (16/09). For market players this development was a sign to enter the market. Moreover, expectation has emerged that the Federal Reserve will not take any drastic decisions in the FOMC meeting (on 17-18 September) regarding its quantitative easing program. This expectation has calmed down markets. Indonesia's IHSG rose 3.35 percent to 4,522.54 points.

    Lanjut baca ›

  • Last Week's Rising Benchmark Index of Indonesia: Trap or Opportunity?

    Last week, Indonesia's benchmark stock index (IHSG) climbed 7.3 percent to end at 4,375.53 on Friday (13/09). This growth is remarkable as it remains unknown what the Federal Reserve will do with its quantitative easing program (QE3). The next Fed meeting - scheduled for 17-18 September - is expected to provide more clarity regarding this matter. Positive sentiments that lifted the IHSG were Indonesia's slightly increased foreign exchange reserves, its stable rupiah after another BI rate hike, and the Bilateral Swap Deals (BSA) with Japan and China.

    Lanjut baca ›

  • Indonesia's Benchmark Stock Index (IHSG) up 0.17% on Thursday

    Despite concerns that Indonesia's benchmark stock index (IHSG) would weaken on Thursday's trading day (12/09), the index ended 0.17 percent up to 4,356.61 points. Indices on Wall Street and in Asia impacted positively on the IHSG and kept foreign investors increasing their stock portfolios in Indonesia. Moreover, the Bank Indonesia's decision to raise the country's benchmark interest rate (BI rate) by 25 basis points to 7.25 percent was generally well-received by investors. Banking stocks helped to support the IHSG.

    Lanjut baca ›

  • Official Press Release of Bank Indonesia: BI Rate up 25 bps to 7.25%

    It was decided at the Board of Governors’ meeting (RDG) of Bank Indonesia on 12 September 2013 to raise the BI Rate by 25 bps to 7.25%, the rate on the Lending Facility by 25 bps to 7.25% and the rate on the Deposit Facility by 25 bps to 5.50%. This action forms part of the follow-up measures taken to reinforce the policy mix instituted by Bank Indonesia, which focuses on controlling inflation, stabilizing the rupiah exchange rate and ensuring the current account deficit is managed to a sustainable level.

    Lanjut baca ›

  • Indonesia's Falling Cement Sales in August 2013 Indicate Slowing Economy

    Indonesia's Falling Cement Sales in August 2013 Indicate Slowing Economy

    According to data from the Indonesian Cement Association (ASI), domestic cement sales have fallen 5.8 percent to 3.3 million tons in August 2013 (from the same month last year). Being an important indicator of economic expansion (as cement sales inform about the development of property and infrastructure projects in the country), these lower cement sales confirm the slowing pace of economic growth in Indonesia. Compared to July 2013, cement sales in Indonesia fell by a massive 32 percent.

    Lanjut baca ›

  • Indonesia's IHSG Stock Index Falls Slightly on Wednesday amid Profit Taking

    Without any real negative global reasons, Indonesia's benchmark stock index (IHSG) was down 0.20 percent to 4,349.42 points. Apparently, market participants were looking for profit taking after the index rose sharply in the last couple of days. There may also have been the psychological influence of the gaps at 4,191-4,225 and 4,072-4,102 that still need to be closed. Will the IHSG close these? Compared to the general upward trend of Asian indices, it seems strange if the IHSG would deviate from this trend only to close the gaps.

    Lanjut baca ›

  • Asian Markets Continue Rebound; Indonesia's IHSG Climbs 3.98%

    Asian Markets Continues Rebound; Indonesia's IHSG Climbs 3.98%

    Good economic data from China and Japan made many Asian stock indices go into green territory, including Indonesia's benchmark stock index (IHSG) which gained 3.98 percent to close at 4,358.14 points on Tuesday (10/09) despite the lack of positive internal factors in Indonesia. Promising European openings also provided support for the index. Foreign investors, similarly to yesterday, were net purchasers of Indonesian assets, while domestic investors mostly sold their assets.

    Lanjut baca ›

Bisnis Terkait Rupiah