Di bawah ada daftar dengan kolom dan profil perusahaan yang subyeknya berkaitan.

Berita Hari Ini Bank Indonesia

  • Indeks Harga Konsumen Indonesia: Inflasi Juli Terkendali

    Consumer Price Index Indonesia: July Inflation under Control

    Bank sentral Indonesia (Bank Indonesia) memprediksi melihat inflasi Indonesia di bulan Juli dalam cakupan 0,46 - 0,60% pada basis month-on-month (m/m). Inflasi di Indonesia selalu memuncak pada bulan Juni, Juli dan Agustus karena peningkatan belanja konsumen karena perayaan Ramadan & Idul Fitri dan juga awal tahun ajaran baru. Pada awal bulan ini, Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowadojo mengatakan bahwa inflasi tahunan diprediksi untuk turun di bawah 7% di bulan Juli, dari 7,26% (y/y) di bulan Juni.

    Lanjut baca ›

  • Update Rupiah Indonesia: Dekat dengan Rp 13.400 per Dollar AS

    Indonesian Rupiah Update: Close to IDR 13,400 per US Dollar

    Menurut Bloomberg Dollar Index, rupiah terus melemah pada hari Senin (20/07). Mata uang Indonesia melemah 0,31% menjadi Rp 13.395 per dollar Amerika Serikat (AS), level terlemahnya sejak 1998 waktu negara ini dilanda oleh Krisis Finansial Asia. Sementara itu, aktivitas Bank Indonesia masih terbatas sampai hari Rabu (22/07) karena libur umum (perayaan Idul Fitri), menyebabkan bank sentral untuk sementara tidak mempublikasikan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR).

    Lanjut baca ›

  • Indonesia Mencatat Surplus Perdagangan Bulan Juni Namun Kekuatiran Berlanjut

    Indonesia Posts 7th Straight Trade Surplus in June but Concerns Persist

    Indonesia mencatat surplus perdagangan 477 juta dollar Amerika Serikat (AS) pada bulan Juni 2015, surplus perdagangan ke-7 secara beruntun. Meskipun begitu, menurut data terakhir dari BPS, diterbitkan pada hari Rabu (14/07), ekspor Indonesia pada Juni ini jatuh 12,8% (year-on-year) menjadi 13,4 miliar dollar AS, sementara impor jatuh 17,4% (year-on-year) menjadi 12,9 miliar dollar AS. Angka-angka ini menunjukkan bahwa surplus perdagangan Indonesia terutama disebabkan oleh permintaan domestik yang lemah dan lebih melambat daripada permintaan global (yang terus melambat juga). Kondisi ini meningkatkan kekuatiran mengenai pertumbuhan perekonomian domestik dan global.

    Lanjut baca ›

  • Bank Indonesia Tidak Ubah Suku Bunga Selama 5 Bulan Berturut-Turut

    Bank Indonesia Holds Interest Rates for 5th Straight Month in July

    Seperti yang telah diprediksi, Bank Indonesia tidak mengubah tingkat suku bunganya pada pertemuan Dewan Gubernur Bank Indonesia (BI) pada hari Selasa (14/07). BI rate yang menjadi acuan dipertahankan pada 7,50%, sementara fasilitas simpanan Bank Indonesia (Fasbi) dan suku bunga lending facility dipertahankan masing-masing pada 5,50% dan 8,00%. Bank Indonesia meyakini bahwa kondisi tingkat suku bunga saat ini sejalan dengan upaya untuk menurunkan inflasi dan juga mendukung rupiah yang melemah menjelang perkiraan pengetatan moneter lebih lanjut oleh Amerika Serikat (AS) di kemudian hari pada tahun ini.

    Lanjut baca ›

  • Bank Indonesia Diprediksi Belum Akan Memotong Tingkat Suku Bunga

    Bank Indonesia Not Expected to Cut Interest Rate Regime Yet

    Kebanyakan analis setuju bahwa Bank Indonesia akan mempertahankan tingkat suku bunga yang sama dalam pertemuan Dewan Gubernur yang dijadwalkan untuk dilaksanakan pada hari Selasa 14 Juli 2015. Bank sentral Indonesia dipediksi akan mempertahankan suku bunga acuannya (BI rate) pada 7,50%, fasilitas simpanan Bank Indonesia (Fasbi) pada 5,50%, dan suku bunga lending facility pada 8,00% karena tingkat inflasi Indonesia telah meningkat cepat baru-baru ini sementara rupiah mengalami tekanan karena faktor-faktor eksternal.

    Lanjut baca ›

  • IMF Memotong Proyeksi Global; BI Memprediksi Pertumbuhan Datar di Kuartal II

    IMF Cuts Global Growth Outlook 2015; BI Sees Flat Growth Q2-2015

    International Monetary Fund (IMF) memotong proyeksi pertumbuhan ekonomi global di 2015 menjadi 3,3% pada basis year-on-year (y/y), dari 3,5% (y/y) sebelumnya, karena musim dingin yang keras mempengaruhi Amerika Serikat (AS) dan sejalan dengan itu menarik turun pertumbuhan global. Di kuartal 1 tahun 2015, perekonomian AS berkontraksi 0,2% (y/y). Terlebih lagi, kekacauan di Yunani dan Republik Rakyat Tiongkok menyebabkan volatilitas yang besar dalam pasar keuangan global, lembaga yang bermarkas di Washington ini menyatakan dalam sebuah update World Economic Outlook (WEO) pada hari Kamis (09/07).

    Lanjut baca ›

  • Indonesia’s Foreign Exchange Reserve’s Continue to Decline

    Indonesia’s Foreign Exchange Reserve’s Continue to Decline

    Indonesia’s foreign exchange reserves fell USD $2.8 billion to USD $108.0 billion at the end of June 2015 (from USD $110.8 billion one month earlier). This fall was caused by foreign debt repayment and the use of foreign exchange to stabilize the rupiah exchange rate. Due to external pressures (particularly looming further monetary tightening in the USA this year and the possible Greek exit from the euro), the rupiah is the worst performing Asian currency tracked by Bloomberg so far in 2015, weakening about 7 percent against the US dollar.

    Lanjut baca ›

  • Keyakinan Konsumen Indonesia Jatuh: Lebih Sedikit Belanja Ramadan & Idul Fitri

    Consumer Confidence Indonesia Falling: Less Ramadan & Idul Fitri Shopping

    Survei terakhir Bank Indonesia menunjukkan bahwa keyakinan konsumen di Indonesia jatuh pada bulan Juni karena kekuatiran mengenai menurunnya ketersediaan lapangan pekerjaan serta penurunan pendapatan dan aktivitas bisnis. Bulan Juni, Indeks Keyakinan Konsumen bank sentral jatuh 1,5 poin menjadi 111,3. Sejauh ini di tahun ini, keyakinan konsumen Indonesia hanya naik di bulan Mei. Di bulan lainnya, indeks ini jatuh. Indeks ini dibuat berdasarkan pada sampel di 4.600 rumah tangga di 18 kota besar di Indonesia (skor 100 membatasi optimisme dari pesimisme).

    Lanjut baca ›

  • Peraturan Bank Indonesia ‘Kewajiban Penggunaan Rupiah’ Mulai Berlaku

    Bank Indonesia Regulation ‘Mandatory Use of Rupiah’ Came into Effect

    Pada 1 Juli 2015, Peraturan Bank Indonesia No. 17/3/PBI/2015 tentang Kewajiban Penggunaan Rupiah di Negara Kesatuan Republik Indonesia mulai berlaku. Peraturan BI ini, ditandatangani pada 31 Maret 2015, melarang penggunaan mata uang asing dalam transaksi di Indonesia dalam rangka memperdalam pasar domestik rupiah, menstabilkan rupiah (yang telah melemah terhadap dollar AS), dan mendorong ekspansi perekonomian. Undang-Undang sebelumnya (UU No. 7/2011) mengizinkan pihak-pihak yang terlibat dalam kontrak untuk membuat kesepakatan menggunakan mata uang lainnya (bukan rupiah) untuk pembayaran.

    Lanjut baca ›

  • Update Inflasi Indonesia Bulan Juni: Indeks Harga Konsumen Naik 0.54%

    Inflation Indonesia Update June: Consumer Price Index Up 0.54% m/m

    Inflasi Indonesia berakselerasi menjadi 7,26% pada basis year-on-year (y/y) di Juni 2015 karena harga bahan pangan yang lebih tinggi yang dipicu oleh awal bulan Ramadan (bulan puasa yang suci bagi umat Islam). Perayaan musiman Ramadan dan dilanjutkan oleh Idul Fitri selalu menyebabkan tekanan inflasi di Indonesia karena konsumen meningkatkan belanja mereka. Meskipun daya beli masyarakat Indonesia telah menurun di beberapa bulan terakhir, direfleksikan dengan melambatnya penjualan mobil dan sepeda motor, barang-barang konsumen yang lebih murah seperti makanan, pakaian, sepatu dan tas saat ini sedang banyak terjual.

    Lanjut baca ›

Artikel Terbaru Bank Indonesia

  • High July Trade Deficit Causes Indonesia's Stock Index to Fall 2.23%

    Indonesia's benchmark stock index (IHSG) went down 2.23 percent on Monday (02/09) after Statistics Indonesia (BPS) released a number of macroeconomic data. The country's inflation pace increased to 8.79 percent year-on-year, while it posted a record monthly trade deficit in July 2013 (USD $2.31 billion). Investors have been highly concerned about the development of Indonesia's current account deficit and after it became known that the figure was high in July, the IHSG quickly lost value.

    Lanjut baca ›

  • Indonesia Stock Exchange (IHSG) Extends 'Winning Streak' on Friday

    The decision of Indonesia's central bank (Bank Indonesia) to raise its benchmark interest rate by 50 basis points to 7.00 percent and its deposit facility (Fasbi) by 0.50 percent to 5.25 percent seem to have had a good impact on the value of Indonesia's stocks and the rupiah. Indonesia's benchmark stock index (IHSG) rose 2.23 percent to 4,195.09 points on Friday (30/08), implying a three-day winning streak. Since the first trading day of this year, the IHSG is down 3.47 percent.

    Lanjut baca ›

  • Indonesia Stock Index (IHSG) Continues Rebound with 1.92% Rise

    For the second day in a row Indonesia's benchmark stock index (IHSG) was able to post a gain. Today, it rose 1.92 percent to 4,103.59 points. This rebound is possibly the result of the higher key interest rate. Yesterday, it was announced that the central bank (Bank Indonesia) scheduled an extra meeting to discuss monetary policy. Immediately speculation emerged that the BI rate might be raised by 50 basis points. And indeed it was raised, much to the liking of many investors and analysts.

    Lanjut baca ›

  • Current Account Deficit of Indonesia Expected to Ease to 2.5% of GDP

    Indonesia's current account deficit, which caused much alarm among the investor community, is expected to ease to about 2.5 percent of gross domestic product (GDP) in the second half of 2013. This assumption is supported by Indonesia's central bank and various analysts. The country's current account deficit reached USD $9.8 billion or 4.4 percent of GDP in Q2-2013. In combination with the weakening rupiah, higher inflation and the possible end to the Federal Reserve's quantitative easing program, investors have been pulling money out of Indonesia.

    Lanjut baca ›

  • Indonesia's Benchmark Stock Index (IHSG) Falls 1.18% on Monday

    After market participants had time in the weekend to think over the 'rescue packages' of the Indonesian government and central bank (Bank Indonesia) that were released on Friday (23/08), they seemed unconvinced about the short-term impact of the packages. As a result, Indonesia's main stock index (IHSG) fell 1.18 percent to 4,120.67 points on Monday (26/08), which is the IHSG's lowest level since 7 September 2012. The Indonesian rupiah gained 0.06 percent to IDR 10,841 (Bank Indonesia's mid rate).

    Lanjut baca ›

  • Indonesian Government Reacts to the Impact of Global Financial Turmoil

    Despite the announcement of an economic policy package aimed at overcoming the impact of global financial turmoil, Indonesia's main stock index (IHSG) was not able to end the week on a positive note, while the value of the rupiah on the spot market depreciated 1.68 percent to IDR 11,058 per US dollar on Friday (23/08) amid a majority of strengthening Asian currencies, including the Indian rupee (0.67 percent) and the Thai baht (0.28 percent). Based on Bank Indonesia's mid rate, the rupiah fell 4.4 percent against the US dollar to IDR 10,848 last week.

    Lanjut baca ›

  • Bank Indonesia Takes Steps to Maintain Macroeconomic Stability

    Bank Indonesia Takes Steps to Maintain Macroeconomic Stability

    Similar to the Indonesian government, Indonesia's central bank also announced a fiscal policy package to support sustainable nationwide economic growth by curbing inflation, maintaining a more sustainable balance of payments as well as strengthening financial system stability. These additional policies are expected to synergise with the policy package unveiled by the government on Friday (23/08). These measures were taken as both the rupiah and Indonesia's main stock index (IHSG) are in a downward spiral.

    Lanjut baca ›

  • Indonesia's Benchmark Stock Index Down amid Negative Market Sentiments

    Indonesia's Benchmark Stock Index Down amid Negative Market Sentiments

    The rebound that happened in the first session of Friday's trading day (23/08) gave hope that Indonesia's main stock index (IHSG) would end the disastrous week on a positive note. However, in the second session of the day market participants began selling Indonesian assets causing the index to fall again, although the fall was limited. In line with the Asian region, the index lost 0.04 percent to end at 4,169.83 points. Even the highly anticipated 'rescue package' of the Indonesian government was not able to support the index.

    Lanjut baca ›

  • Concern over Ailing Rupiah Intensifies; Government Prepares Package

    Concerns about Indonesia's weakening rupiah intensified on Wednesday (21/08) as the currency is now balancing on the psychological boundary of IDR 11,000 per US dollar. The rupiah continued its downward spiral today although its decline was limited due to the intervention of Indonesia's central bank (Bank Indonesia) that started selling US dollars again in an effort to support the rupiah. According to data compiled by Reuters, the rupiah has now fallen 10.7 percent this year.

    Lanjut baca ›

  • Indonesia Stock Index (IHSG) and Rupiah Are Extending its Losing Streak

    On Tuesday (20/08), Indonesia's benchmark stock index (IHSG) continued its decline with its fourth consecutive day of losses. Amid major concerns about Indonesia's economic growth, high inflation, tighter monetary policy and current account deficit, the IHSG fell 3.21 percent to 4,174.98 points. It means that the index now stands about 21 percent lower than its record peak in May 2013. Foreign investors have been pulling money out of the Indonesian market. According to Bloomberg, about USD $255 million has been retracted in the last two days.

    Lanjut baca ›

Bisnis Terkait Bank Indonesia